CNEWS | MEDAN — Kecelakaan maut kembali terjadi di perlintasan kereta api tanpa pengamanan di Kota Medan. Seorang pengemudi ojek online (ojol) bernama Rajali (38) tewas di tempat setelah ditabrak kereta api saat melintas di perbatasan Jalan Padang menuju Jalan Rajawali I, kawasan Tegal Sari Mandala II, Kecamatan Medan Denai, Senin (20/4/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
Peristiwa tragis ini menyisakan duka mendalam sekaligus memicu kemarahan warga. Rajali, yang diketahui berdomisili di Jalan Pelita II, Tangga Batu No. 56, Kota Medan, tidak berhasil menyelamatkan diri setelah diduga tidak menyadari datangnya kereta api yang melaju kencang.
Sementara itu, penumpang yang diboncengnya berhasil selamat secara dramatis setelah melompat dari sepeda motor beberapa detik sebelum tabrakan terjadi.
Detik-Detik Mencekam di Perlintasan Tanpa Palang
Menurut keterangan warga sekitar, kecelakaan bermula saat korban melintas di jalur rel tanpa palang pintu maupun penjaga. Saat itu, sejumlah warga sudah berteriak memperingatkan adanya kereta yang mendekat.
Namun nahas, korban diduga tidak mendengar teriakan tersebut karena tengah menggunakan headset saat berkendara.
“Sudah kami teriaki, ‘Bang, kereta! kereta!’ Tapi dia tidak dengar. Kayaknya pakai headset. Tiba-tiba langsung ditabrak,” ungkap salah satu warga yang menyaksikan kejadian tersebut.
Dalam hitungan detik, kereta api menghantam sepeda motor yang dikendarai korban. Benturan keras tidak terelakkan, menyebabkan Rajali meninggal dunia di lokasi kejadian dengan luka parah.
Penumpang Selamat, Lompat di Saat Kritis
Berbeda dengan korban, penumpang ojol tersebut justru berhasil menyelamatkan diri. Ia mengaku terkejut saat melihat kereta mendekat dan secara refleks melompat dari kendaraan sebelum tabrakan terjadi.
Aksi spontan itu menjadi satu-satunya faktor penyelamat nyawanya dalam insiden maut tersebut.
Sorotan Tajam: Perlintasan “Maut” Tanpa Pengamanan
Insiden ini kembali membuka luka lama terkait banyaknya perlintasan kereta api di Kota Medan yang tidak dilengkapi palang pintu, rambu peringatan, maupun petugas jaga.
Warga menyebut lokasi kejadian memang dikenal rawan kecelakaan, terutama karena minimnya fasilitas keselamatan.
“Di sini memang tidak ada palang sama sekali. Sudah sering hampir kejadian. Kami minta pemerintah atau pihak terkait segera pasang portal atau penjagaan,” tegas warga lainnya.
Tuntutan Warga: Jangan Tunggu Korban Berikutnya
Kematian Rajali kini menjadi simbol kelalaian sistemik yang dinilai terus berulang tanpa solusi nyata. Warga mendesak pemerintah daerah dan pihak perkeretaapian untuk segera bertindak sebelum korban berikutnya kembali berjatuhan.
Minimnya pengamanan di perlintasan sebidang dinilai sebagai bentuk pembiaran yang berpotensi merenggut nyawa siapa saja.
Catatan Kritis
Peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan, melainkan akumulasi dari dua faktor fatal: kelalaian individu dan abainya sistem keselamatan publik. Penggunaan headset saat berkendara yang mengurangi kewaspadaan, berpadu dengan tidak adanya palang perlintasan, menciptakan kondisi mematikan.
Jika tidak segera dibenahi, tragedi serupa bukan tidak mungkin akan kembali terulang.
(Padli)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar