-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan Paskah

Iklan Paskah

WHO Tetapkan Wabah Ebola di Afrika Tengah sebagai Darurat Global, Dunia Diminta Waspada

Minggu, 24 Mei 2026 | Minggu, Mei 24, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-24T07:21:11Z



CNEWS, JAKARTA, AFRIKA - Wabah mematikan Ebola kembali mengguncang Afrika Tengah dan kini berkembang menjadi ancaman kesehatan internasional. World Health Organization secara resmi menetapkan wabah Ebola di Democratic Republic of the Congo sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia.

.

Hingga 22 Mei 2026, lebih dari 800 kasus Ebola telah dilaporkan di wilayah timur Kongo, dengan korban meninggal dunia melampaui 180 jiwa. Situasi semakin mengkhawatirkan setelah dua kasus terkonfirmasi ditemukan di Uganda, termasuk satu kematian pada warga yang baru kembali dari DRC.


Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan bahwa laju penyebaran wabah saat ini sangat berbahaya dan membutuhkan respons internasional segera.


“Skala dan kecepatan epidemi ini menuntut tindakan mendesak,” tegas Tedros.

Virus Baru Lebih Berbahaya, Belum Ada Vaksin Efektif


Berbeda dengan wabah sebelumnya, epidemi kali ini dipicu oleh virus Bundibugyo — salah satu varian Ebola paling sulit ditangani. Para ilmuwan menyatakan hingga kini belum tersedia vaksin efektif maupun terapi antivirus khusus untuk jenis virus tersebut.


Menurut Madeline DiLorenzo dari NYU Langone Hospital New York, vaksin Ebola yang selama ini digunakan hanya efektif untuk Zaire ebolavirus, bukan Bundibugyo.


“Kedua virus memiliki perbedaan genetik besar sehingga vaksin lama kemungkinan tidak akan memberikan perlindungan signifikan,” ujarnya.

Kondisi ini membuat wabah kali ini dinilai jauh lebih berbahaya dibanding epidemi Ebola sebelumnya.


Deteksi Sulit, Gejala Awal Menipu


Virus Bundibugyo juga dikenal sulit dideteksi pada tahap awal. Gejalanya menyerupai penyakit biasa seperti demam, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan kelelahan sehingga banyak pasien terlambat mendapat penanganan.


Jill Weatherhead menjelaskan bahwa tes PCR untuk Bundibugyo memang tersedia, namun sangat terbatas di kawasan konflik seperti Kongo Timur.


Akibatnya, banyak pasien baru diketahui positif Ebola setelah kondisi memburuk dan sudah menularkan virus ke lingkungan sekitar.


Konflik Bersenjata dan Pemotongan Bantuan Perparah Situasi


Episentrum wabah berada di Provinsi Ituri, wilayah yang selama puluhan tahun dilanda perang bersenjata, konflik milisi, dan krisis kemanusiaan. Infrastruktur kesehatan di kawasan tersebut disebut nyaris lumpuh total.


Situasi diperburuk setelah pemotongan bantuan luar negeri, termasuk penghentian sejumlah program kemanusiaan yang sebelumnya didanai United States Agency for International Development.


Direktur Oxfam untuk DRC, Manenji Mangundu, menyebut wilayah timur Kongo kehilangan sekitar 70 persen dukungan kemanusiaan sejak program bantuan dihentikan.


“Krisis ini bisa berubah menjadi bencana global mengerikan bila dunia gagal bertindak cepat,” tegas Mangundu.


Dunia Internasional Diminta Bergerak Cepat


WHO kini mendesak negara-negara dunia memperkuat pengawasan perbatasan, mempercepat bantuan medis, dan mengirim dukungan darurat ke Afrika Tengah sebelum wabah berubah menjadi pandemi lintas negara.


Para ahli kesehatan global memperingatkan bahwa tanpa vaksin, keterbatasan tes, minimnya fasilitas kesehatan, dan konflik berkepanjangan di Kongo dapat membuat Ebola menyebar lebih luas ke kawasan Afrika bahkan dunia internasional.


Wabah ini menjadi alarm keras bahwa krisis kesehatan global masih menjadi ancaman nyata di tengah lemahnya solidaritas kemanusiaan internasional. ( Tim/Red)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update