CNEWS, Jakarta — Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Jumat (1/5/2026), berubah menjadi panggung politik yang sarat simbol, pesan populis, sekaligus komitmen kebijakan. Presiden Prabowo Subianto tampil tidak sekadar sebagai kepala negara, tetapi juga sebagai figur yang mencoba merangkul emosi dan identitas kelas pekerja.
Dalam momen yang terbilang tidak lazim untuk seorang presiden, Prabowo melakukan aksi spontan: melepas kemeja safari yang dikenakannya di atas panggung dan melemparkannya ke arah massa buruh. Aksi itu langsung disambut riuh antusias ribuan buruh yang memadati kawasan Monas.
Setelah itu, Prabowo tampak hanya mengenakan kaus polos hitam, mempertegas citra kesederhanaan yang ingin ditampilkan di hadapan basis pekerja. Ia kemudian ikut larut dalam suasana hiburan, bahkan berjoget mengikuti irama musik dari Tipe-X, serta memperagakan “joget silat” khas yang sebelumnya populer dalam kampanye Pemilu 2024.
Namun puncak simbolik terjadi ketika lagu The Internationale berkumandang—lagu yang selama ini identik dengan perjuangan kelas pekerja global melawan kapitalisme. Di atas panggung, Prabowo tidak hanya berdiri sebagai penonton. Ia ikut menyanyikan lagu tersebut sambil mengepalkan tangan, sejajar dengan para pimpinan serikat buruh.
Seruan “Hidup Buruh!” yang diulang tiga kali, disusul “Hidup Indonesia!”, menggema di lapangan Monas, menandai upaya kuat membangun resonansi emosional antara negara dan kelas pekerja.
Dari Simbol ke Kebijakan: Janji dan Realisasi
Di balik aksi panggung yang mencuri perhatian, Prabowo juga membawa sejumlah pengumuman konkret. Dalam pidatonya, ia menegaskan telah menandatangani Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2026 tentang ratifikasi Konvensi International Labour Organization (ILO) Nomor 188.
Konvensi ini secara spesifik mengatur perlindungan bagi awak kapal perikanan—sektor yang selama ini kerap luput dari jaminan kesejahteraan dan keselamatan kerja.
Langkah ini menjadi sinyal bahwa pemerintah berupaya memperluas definisi “buruh” tidak hanya pada pekerja industri, tetapi juga sektor informal dan maritim.
Selain itu, Prabowo mengumumkan program ambisius pembangunan kampung nelayan:
Tahun 2026: 1.386 kampung nelayan diresmikan
Tahun berikutnya: target 1.500 kampung per tahun
Total jangka panjang: menjangkau sekitar 6 juta nelayan dan lebih dari 20 juta anggota keluarga
Program tersebut mencakup pembangunan infrastruktur dasar seperti pabrik es, bantuan kapal, hingga peningkatan fasilitas penunjang ekonomi pesisir.
Pesan Politik di Balik Aksi
Kehadiran langsung Presiden di peringatan May Day—ditambah aksi-aksi simbolik seperti membuka baju, berjoget, hingga menyanyikan lagu perjuangan buruh—tidak bisa dilepaskan dari dimensi politik yang lebih luas
Langkah ini menunjukkan:
Upaya reposisi negara sebagai “sekutu buruh”, bukan sekadar regulator
Strategi komunikasi populis untuk memperkuat legitimasi di kalangan pekerja
Penegasan narasi keberpihakan terhadap sektor yang selama ini termarginalkan, seperti nelayan
Namun demikian, publik dan kalangan serikat buruh tetap menaruh perhatian pada aspek implementasi. Janji besar—mulai dari perlindungan pekerja hingga pembangunan kampung nelayan—akan diuji pada konsistensi kebijakan dan realisasi di lapangan.
Antara Euforia dan Ujian Realitas
May Day 2026 di Monas bukan sekadar perayaan tahunan. Ia menjadi panggung di mana simbol, retorika, dan kebijakan bertemu dalam satu momentum.
Prabowo berhasil menciptakan kedekatan emosional yang kuat dengan massa buruh—sesuatu yang jarang terjadi dalam format formal kenegaraan. Namun di sisi lain, ekspektasi yang lahir dari panggung tersebut juga tidak kecil.
Bagi buruh dan nelayan Indonesia, pesan yang paling penting bukanlah pada kemeja yang dilempar atau lagu yang dinyanyikan, melainkan pada satu hal: apakah janji kesejahteraan benar-benar akan terwujud, atau kembali menjadi bagian dari retorika tahunan.
setelah panggung usai dan sorotan kamera padam, yang tersisa adalah ujian nyata—apakah negara benar-benar berdiri bersama buruh, atau hanya hadir saat perayaan. ( Fr/Red)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar