CNEWS, Tebing Tinggi — Kecelakaan maut kembali terjadi di perlintasan rel kereta api tanpa palang pintu di kawasan Simpang Takari, Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara, Sabtu pagi sekitar pukul 09.10 WIB. Sebuah mobil Pajero bernomor polisi BK 1227 IT dilaporkan bertabrakan dengan kereta api tujuan Medan–Rantauprapat saat melintas di jalur rel yang selama ini dikeluhkan warga karena minim pengamanan.
Peristiwa tersebut kembali memicu kemarahan publik dan sorotan tajam terhadap PT Kereta Api Indonesia yang dinilai lalai dalam menjamin keselamatan masyarakat di perlintasan sebidang tanpa palang pintu.
Menurut informasi yang dihimpun, korban diketahui bermarga Sinaga dan saat kejadian baru pulang dari rumahnya di Desa Paya Lombang menuju Kota Tebing Tinggi. Mobil yang dikendarainya diduga tidak sempat menghindar saat kereta api melintas dari arah Medan menuju Rantauprapat.
Warga sekitar menyebut lokasi Simpang Takari memang dikenal sangat rawan kecelakaan. Jalur tersebut merupakan akses utama masyarakat menuju desa-desa dan kawasan permukiman padat penduduk. Ironisnya, hingga kini tidak tersedia palang pintu otomatis maupun penjaga perlintasan yang memadai.
“Ini bukan pertama kali terjadi. Sudah berkali-kali nyaris makan korban. Bahkan sebelumnya kecelakaan serupa juga pernah terjadi di kawasan Kelurahan Bagelen yang lokasinya tidak jauh dari sini, penyebabnya sama, karena tidak ada palang rel,” ungkap sejumlah warga di lokasi kejadian.
Kecelakaan tersebut langsung menjadi perhatian masyarakat Kota Tebing Tinggi. Banyak pihak mempertanyakan komitmen keselamatan dari pihak KAI yang dinilai lebih mengutamakan operasional perjalanan kereta dibanding perlindungan pengguna jalan.
Aktivis pemerhati masyarakat Tebing Tinggi,dan juga sebagai ketua PPWI ( Persatuan Pewarta Warga Indonesia ) . Kh. R.Syahputra C.,Par, C.,EJ, C.,BJ, C.,In, , mengecam keras kejadian berulang tersebut. Ia menilai pihak KAI terkesan abai terhadap keselamatan warga yang setiap hari melintas di jalur rel tanpa sistem pengamanan memadai.
“Sudah berulang kali terjadi kecelakaan di lokasi yang tidak memiliki palang pintu. Ini bentuk kelalaian serius. Kepala KAI harus bertanggung jawab karena masyarakat menjadi korban akibat minimnya pengamanan di perlintasan umum,” tegas R.Syahputra kepada media.
Ia juga meminta aparat penegak hukum turun tangan melakukan pemeriksaan terhadap pihak terkait apabila ditemukan unsur kelalaian yang menyebabkan masyarakat terus menjadi korban di perlintasan kereta api tanpa pengamanan.
Masyarakat mendesak pemerintah daerah bersama kai.id segera membangun palang pintu otomatis serta menempatkan petugas penjaga di titik-titik rawan kecelakaan di Kota Tebing Tinggi dan sekitarnya sebelum kembali memakan korban jiwa.
Peristiwa ini kembali menjadi alarm keras bahwa persoalan keselamatan di perlintasan sebidang kereta api di Sumatera Utara masih jauh dari kata aman, terutama di kawasan padat penduduk yang setiap hari dilintasi masyarakat dan kendaraan umum. ( Suadi)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar