CNEWS | Papua — Dinamika perebutan arah kepemimpinan sepak bola di Tanah Papua mulai memanas. Dukungan dari kalangan masyarakat sipil kini mengerucut pada satu nama yang dinilai memiliki kombinasi pengalaman, jaringan, dan visi: Matius Derek Fakhri, SH, MH (MDF).
Dorongan terbuka datang dari Ketua LSM WGAB Papua, Yerry Basri Mak, SH, MH, yang menilai bahwa MDF merupakan figur paling tepat untuk memimpin PSSI Papua dalam fase krusial pembangunan sepak bola daerah.
Dalam keterangannya kepada media, Yerry menegaskan bahwa dukungan tersebut bukan tanpa dasar. Ia menyebut MDF bukan hanya pejabat publik, tetapi juga sosok yang memahami sepak bola dari dalam.
“Beliau ini bukan orang baru dalam dunia sepak bola. MDF adalah mantan pemain, mengerti ekosistemnya, dan punya kecintaan nyata untuk membangun sepak bola Papua,” ujar Yerry.
Figur Kekuasaan dan Sepak Bola: Kombinasi Kuat atau Risiko Baru?
Saat ini, MDF diketahui menjabat sebagai Gubernur Papua sekaligus memiliki rekam jejak panjang di institusi kepolisian, termasuk pernah menjabat sebagai Kapolda Papua. Kombinasi kekuasaan administratif dan pengalaman lapangan ini menjadi alasan utama dukungan dari kalangan aktivis.
Namun di balik itu, muncul pertanyaan kritis:
Apakah penggabungan kekuatan politik dan olahraga akan mempercepat kemajuan, atau justru membuka ruang konflik kepentingan dalam tata kelola sepak bola daerah?
Dalam konteks nasional, perdebatan tentang independensi organisasi olahraga dari pengaruh politik bukan hal baru. Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia sebagai induk organisasi sepak bola nasional kerap menekankan pentingnya profesionalisme dan tata kelola yang transparan di semua level, termasuk asosiasi provinsi.
Harapan Besar untuk Sepak Bola Papua
Papua selama ini dikenal sebagai salah satu “lumbung talenta” sepak bola Indonesia. Banyak pemain nasional lahir dari tanah ini—membawa identitas kuat, teknik tinggi, dan karakter permainan yang khas.
Namun potensi besar tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan sistem pembinaan yang stabil dan berkelanjutan. Infrastruktur, kompetisi usia dini, hingga manajemen klub masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.
Di sinilah harapan terhadap sosok seperti MDF muncul.
“Kalau Tuhan berkehendak, kami yakin beliau bisa membawa perubahan. Ini bukan sekadar jabatan, tapi tanggung jawab besar untuk masa depan anak-anak Papua,” tegas Yerry.
Dukungan Sipil: Alarm bagi Elite Sepak Bola
Pernyataan dukungan dari LSM WGAB Papua juga mencerminkan meningkatnya keterlibatan masyarakat sipil dalam isu olahraga. Sepak bola tidak lagi dipandang sebagai sekadar hiburan, melainkan sebagai instrumen sosial, ekonomi, bahkan politik.
Desakan agar figur dengan kapasitas kuat memimpin PSSI Papua menunjukkan bahwa publik mulai menuntut akuntabilitas lebih tinggi dari pengelola olahraga.
Namun dukungan ini juga menjadi ujian:
apakah kandidat yang didorong benar-benar akan membawa reformasi, atau hanya menjadi bagian dari siklus lama yang stagnan?
Momentum atau Sekadar Wacana?
Jika MDF benar-benar maju dan terpilih, maka tantangan yang dihadapi tidak ringan. Ia harus mampu:
Membenahi tata kelola organisasi secara transparan
Menghidupkan kompetisi lokal yang berjenjang
Membangun fasilitas latihan yang layak
Menjaga independensi sepak bola dari tarik-menarik kepentingan politik
Lebih dari itu, ia harus menjawab ekspektasi tinggi publik Papua yang selama ini merasa potensi daerahnya belum dimaksimalkan secara serius.
Dukungan terhadap Matius Derek Fakhri bukan sekadar soal figur, tetapi refleksi dari harapan panjang masyarakat Papua terhadap kebangkitan sepak bola daerah.
Di tengah sorotan nasional, satu hal menjadi jelas:
masa depan sepak bola Papua kini berada di persimpangan—antara momentum perubahan nyata atau kembali terjebak dalam rutinitas lama tanpa arah. Publik menunggu, bukan sekadar janji. ( Tim/ YBM)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar