-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan Paskah

Iklan Paskah

40 Tahun Bertaruh Nyawa di “Jembatan Maut”, Warga Sergai–Simalungun Menunggu Negara Hadir

Senin, 25 Mei 2026 | Senin, Mei 25, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-25T14:21:21Z

CNEWS, SIMALUNGUN Sergai — Di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur nasional dan megahnya proyek-proyek strategis pemerintah, ratusan warga di perbatasan Kabupaten Serdang Bedagai dan Kabupaten Simalungun justru masih hidup dalam ancaman maut setiap hari. Selama lebih dari 40 tahun, masyarakat Desa Dama Kurat, Kecamatan Sipispis, Kabupaten Serdang Bedagai dan warga Nagori Panduman, Kecamatan Raya Kahean, Kabupaten Simalungun dipaksa mempertaruhkan nyawa demi melintasi sebuah jembatan gantung tua yang kondisinya sangat memprihatinkan.


Jembatan gantung yang berada di Nagori Bah Bulian, Kecamatan Raya Kahean, Kabupaten Simalungun itu menjadi satu-satunya akses vital penghubung aktivitas masyarakat antarwilayah. Namun kondisi jembatan kini disebut semakin mengkhawatirkan dan rawan memakan korban.


Dengan panjang sekitar 28 meter dan lebar hanya 2 meter, jembatan tersebut hanya beralaskan papan dan bambu lapuk yang disusun di atas rangka besi tua tanpa pengaman di sisi kiri maupun kanan. Sejumlah bagian lantai jembatan bahkan sudah berlubang akibat dimakan usia dan cuaca.


Di bawah jembatan mengalir sungai dengan kedalaman sekitar 4 meter dan jarak jembatan ke permukaan air mencapai 7 meter. Saat hujan turun dan arus sungai membesar, warga mengaku harus melintas dengan rasa takut dan cemas, terutama anak-anak sekolah dan pengendara sepeda motor.


Ironisnya, kondisi memprihatinkan itu disebut telah berlangsung puluhan tahun tanpa solusi nyata dari pemerintah.


Tokoh masyarakat Desa Dama Kurat, Saridin Saragih, mengaku sedih karena aspirasi masyarakat selama ini seperti tidak pernah dianggap serius oleh pemerintah daerah.


“Kami sudah berkali-kali menyampaikan kepada pemerintah desa, kecamatan hingga kabupaten agar jembatan gantung ini dibangun menjadi jembatan permanen supaya masyarakat aman saat melintas. Tapi sampai sekarang belum ada perhatian nyata,” ujar Saridin Saragih kepada awak Media.


Pria berusia 70 tahun itu mengatakan, warga hanya menginginkan akses yang layak demi keselamatan generasi mendatang.


“Harapan kami seperti pepatah bagai pungguk merindukan bulan. Seakan-akan kami ini tidak dianggap ada. Tapi kami akan terus berjuang demi anak cucu kami agar tidak menjadi korban di kemudian hari,” katanya dengan nada haru.


Senada dengan itu, tokoh masyarakat lainnya, Waino, mengungkapkan dirinya telah puluhan tahun melewati jembatan tersebut sejak masih duduk di bangku sekolah dasar hingga kini memasuki usia lanjut.


“Saya sudah 65 tahun tinggal di Desa Dama Kurat. Selama 40 tahun saya melintasi jembatan ini pagi, siang, sore bahkan malam hari, baik berjalan kaki maupun naik sepeda motor,” ujarnya.


Menurutnya, berbagai permohonan perbaikan telah disampaikan kepada pemerintah desa, kecamatan hingga kabupaten, namun belum pernah terealisasi.


“Kami sudah lama meminta perbaikan jembatan ini. Tapi sampai sekarang tidak ada perubahan. Kondisinya justru semakin membahayakan masyarakat,” tegasnya.


Masyarakat menilai kondisi tersebut menjadi potret nyata ketimpangan pembangunan di daerah pedalaman dan perbatasan kabupaten di Sumatera Utara. Di saat kota-kota besar menikmati pembangunan modern, warga desa masih harus mempertaruhkan nyawa hanya untuk menyeberang demi bekerja, sekolah, dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.


Warga kini berharap Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai, Pemerintah Kabupaten Simalungun, serta Pemerintah Provinsi Sumatera Utara segera turun tangan membangun jembatan permanen sebelum tragedi benar-benar terjadi.


Bagi masyarakat, jembatan itu bukan sekadar fasilitas penghubung, melainkan simbol harapan akan hadirnya keadilan pembangunan bagi rakyat kecil yang selama puluhan tahun merasa dilupakan negara. ( tim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update