Oleh: Rizal Tanjung
CNEWS, Sumatera Barat, Indonesia 2026— Narasi besar sejarah Indonesia kembali digugat. Bukan oleh suara asing, melainkan oleh refleksi kritis anak bangsa sendiri yang menyoroti satu hal mendasar: ketimpangan dalam cara bangsa ini mengingat jasa perempuan.
Dalam sebuah gagasan yang dipantik oleh pemikiran Jacob Ereste, muncul dorongan kuat untuk meninjau ulang dominasi satu nama dalam panggung sejarah perempuan Indonesia—yakni Raden Ajeng Kartini.
Kartini selama ini ditempatkan sebagai ikon tunggal emansipasi perempuan. Namun, sejumlah kalangan menilai narasi tersebut terlalu menyederhanakan realitas sejarah yang jauh lebih kompleks, luas, dan penuh pengorbanan dari banyak tokoh perempuan lain.
Dominasi Narasi: Antara Penghormatan dan Pengaburan Fakta
Tidak ada yang menafikan kontribusi Kartini dalam memperjuangkan pendidikan dan kesadaran perempuan. Surat-suratnya bahkan menjadi simbol kebangkitan intelektual perempuan di masa kolonial.
Namun, pertanyaan besar mulai mencuat:
Apakah sejarah Indonesia hanya membutuhkan satu simbol?
Di berbagai wilayah Nusantara, perempuan-perempuan lain telah mengukir perjuangan yang tidak kalah dahsyat—bahkan dengan taruhan nyawa.
Nama seperti Martha Christina Tiahahu dari Maluku dikenal sebagai pejuang muda yang terlibat langsung dalam perlawanan terhadap kolonialisme.
Di Aceh, Cut Nyak Dien memimpin perlawanan gerilya melawan Belanda setelah gugurnya sang suami, menunjukkan ketangguhan luar biasa di medan perang.
Sementara itu, Cut Nyak Meutia menjadi simbol keberanian perempuan yang tidak hanya berjuang sebagai ibu, tetapi juga sebagai komandan dalam konflik bersenjata.
Mereka bukan sekadar pelengkap sejarah—mereka adalah fondasi.
Sejarah yang Tidak Netral: Siapa Ditonjolkan, Siapa Dilupakan
Para pengamat menilai, sejarah bukanlah ruang kosong yang netral. Ia dibentuk oleh kekuasaan, kepentingan, dan perspektif dominan pada masanya.
Kartini, yang berasal dari kalangan priyayi dan menulis dalam bahasa yang dipahami oleh kolonial Belanda, memiliki akses lebih besar untuk diabadikan dalam arsip sejarah resmi.
Sebaliknya, banyak pejuang perempuan lain yang bergerak di medan perang atau ruang rakyat tidak memiliki “kemewahan” dokumentasi tersebut. Akibatnya, nama mereka tenggelam dalam ingatan kolektif bangsa.
Fenomena ini menimbulkan kritik keras:
bahwa sejarah Indonesia selama ini cenderung elitis dan tidak sepenuhnya representatif.
Perempuan: Pilar Tak Terlihat Republik
Lebih dari sekadar tokoh individual, perempuan Indonesia memiliki peran struktural dalam perjalanan bangsa.
Mereka hadir di berbagai lini:
- sebagai pejuang di garis depan,
- sebagai penggerak logistik dan strategi,
- hingga sebagai penjaga keberlangsungan generasi.
Peran ini sering kali tidak tercatat secara formal, namun justru menjadi elemen krusial dalam mempertahankan semangat perjuangan.
“Sejarah kita terlalu sering mencatat apa yang tampak, dan melupakan apa yang menentukan,” ujar seorang pengamat sosial dalam diskursus terkait isu ini.
Seruan Nasional: Menulis Ulang Sejarah Secara Adil
Gagasan yang berkembang tidak bertujuan untuk “menurunkan” posisi Kartini, melainkan untuk memperluas panggung sejarah agar lebih inklusif.
Ada dorongan kuat agar:
- kurikulum pendidikan diperbarui,
- literatur sejarah diperluas,
- serta narasi nasional dibangun secara lebih adil dan proporsional.
Langkah ini dinilai penting untuk menghindari penyederhanaan sejarah yang berpotensi menyesatkan generasi mendatang.
Momentum Refleksi Bangsa
Di tengah dinamika sosial dan meningkatnya kesadaran publik, isu ini menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk melakukan refleksi kolektif.
Apakah bangsa ini siap mengakui bahwa sejarahnya belum sepenuhnya lengkap?
Dan apakah ada keberanian untuk memperbaikinya?
Jika tidak, maka Indonesia berisiko terus mengulang kesalahan yang sama: mengagungkan sebagian, sambil melupakan yang lain
Penutup: Keadilan untuk Masa Lalu
Pada akhirnya, tuntutan ini bukan sekadar soal sejarah—melainkan soal keadilan.
Keadilan bagi mereka yang telah berjuang tanpa nama.
Keadilan bagi generasi yang berhak mengetahui kebenaran.
Dan keadilan bagi bangsa yang ingin berdiri di atas fondasi yang jujur.
Sejarah Indonesia tidak boleh lagi menjadi panggung sempit dengan satu sorotan lampu.
Ia harus menjadi ruang luas—di mana setiap perempuan yang pernah berjuang, dapat berdiri sejajar dalam cahaya yang sama. ( Red)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar