CNEWS, SERDANG BEDAGAI – Di tengah tekanan nasional terhadap ketahanan pangan dan tuntutan percepatan swasembada beras, Bupati Serdang Bedagai, Darma Wijaya, turun langsung ke lapangan mendampingi Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian RI, Hermanto, untuk meninjau kondisi riil jaringan irigasi di Kecamatan Tanjung Beringin dan Teluk Mengkudu.
Langkah ini bukan sekadar kunjungan seremonial. Peninjauan tersebut menjadi bagian dari audit lapangan terhadap infrastruktur pertanian yang selama ini kerap menjadi titik lemah dalam upaya peningkatan produktivitas petani, khususnya di wilayah pesisir timur Sumatera Utara.
Di hadapan kondisi saluran irigasi yang masih ditemukan mengalami pendangkalan, kerusakan tanggul, hingga distribusi air yang belum merata, Darma Wijaya menegaskan bahwa persoalan irigasi bukan lagi isu teknis semata, melainkan persoalan strategis nasional.
“Irigasi yang baik adalah kunci utama dalam meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani. Tanpa air yang cukup dan terkelola dengan baik, mustahil kita berbicara tentang hasil panen maksimal,” tegasnya di sela-sela peninjauan.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa kehadiran pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian menjadi sinyal kuat bahwa persoalan irigasi di daerah tidak lagi bisa ditangani secara parsial. Dibutuhkan intervensi kebijakan yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Dirjen Lahan dan Irigasi Pertanian, Hermanto, dalam kesempatan tersebut turut menggarisbawahi pentingnya sinkronisasi program antara pusat dan daerah. Ia menyebutkan bahwa pemerintah tengah mendorong percepatan program cetak sawah baru yang harus ditopang oleh sistem irigasi yang fungsional dan modern.
“Peninjauan ini penting untuk melihat langsung kondisi di lapangan, bukan hanya berdasarkan laporan administratif. Kita ingin memastikan bahwa setiap program benar-benar menjawab kebutuhan petani,” ujarnya.
Dari hasil pengamatan sementara, sejumlah titik irigasi di dua kecamatan tersebut dinilai membutuhkan rehabilitasi segera, terutama pada jaringan sekunder dan tersier yang menjadi jalur distribusi utama ke lahan petani. Selain itu, penguatan kelembagaan pengelola air di tingkat petani juga dinilai masih perlu ditingkatkan.
Pengamat pertanian menilai, langkah turun langsung ke lapangan ini menjadi indikator keseriusan pemerintah daerah dan pusat dalam membenahi sektor hulu pertanian. Namun, publik juga menuntut agar hasil peninjauan tidak berhenti pada inventarisasi masalah semata, melainkan segera ditindaklanjuti dengan alokasi anggaran dan eksekusi program yang terukur.
Dalam konteks nasional, upaya perbaikan irigasi di Serdang Bedagai memiliki arti strategis. Kabupaten ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di Sumatera Utara yang berkontribusi terhadap pasokan beras regional. Jika infrastruktur airnya optimal, peningkatan produksi diyakini akan signifikan.
Sinergi antara pemerintah daerah dan pusat yang ditunjukkan dalam peninjauan ini diharapkan menjadi model kolaborasi yang konkret. Tidak hanya untuk mendukung program cetak sawah, tetapi juga sebagai bagian dari strategi besar Indonesia dalam menghadapi ancaman krisis pangan global.
Dengan komitmen yang ditegaskan di lapangan, masyarakat kini menunggu realisasi nyata: apakah perbaikan irigasi akan benar-benar dipercepat, atau kembali terjebak dalam siklus janji dan perencanaan tanpa eksekusi.
Yang jelas, bagi petani di Tanjung Beringin dan Teluk Mengkudu, irigasi bukan sekadar infrastruktur—melainkan penentu hidup dan mati hasil panen mereka.( MZ.bambang)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar