Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan Prabowo

Iklan Prabowo

Dari Jaksa Agung ke Penjual Es Lilin: Jejak Sunyi Integritas Kasman Singodimedjo yang Menggetarkan Bangsa

Selasa, 17 Maret 2026 | Selasa, Maret 17, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-17T06:01:28Z


CNEWS, JAKARTA – Di tengah maraknya kasus korupsi yang menjerat pejabat publik, sejarah Indonesia menyimpan kisah kontras yang nyaris tak masuk akal di zaman sekarang. Seorang mantan Jaksa Agung Republik Indonesia, tokoh penting kemerdekaan, justru mengakhiri hidupnya dalam kesederhanaan ekstrem—tanpa harta, tanpa privilese, namun penuh integritas.


Dialah Kasman Singodimedjo, pejuang kemerdekaan yang juga tercatat sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dan berperan dalam proses pengesahan Undang-Undang Dasar 1945.


Dari Pusat Kekuasaan ke Pinggir Kehidupan


Kasman pernah berada di lingkar inti kekuasaan negara pada masa awal republik. Jabatan Jaksa Agung yang diembannya bukan posisi biasa—ia adalah simbol otoritas hukum dan penegakan keadilan di negeri yang baru merdeka.


Namun berbeda dengan banyak pejabat masa kini, Kasman tidak menjadikan jabatan sebagai alat memperkaya diri. Baginya, kekuasaan adalah amanah, bukan kesempatan.


Ketika masa jabatannya berakhir, realitas pahit langsung dihadapi. Tidak ada rumah mewah, tidak ada tabungan besar, dan tidak ada jaring pengaman ekonomi. Ia kembali menjadi rakyat biasa—bahkan dalam kondisi yang sangat terbatas.


Menjajakan Es Lilin hingga Jadi Kuli Bangunan


Untuk bertahan hidup, Kasman melakukan pekerjaan apa saja. Ia pernah berkeliling menjajakan es lilin, jajanan sederhana yang identik dengan pedagang kecil. Di waktu lain, ia menjadi kuli bangunan, mengangkat semen dan batu di bawah terik matahari.


Tak berhenti di situ, ia juga pernah bekerja sebagai penjaga malam—mengorbankan waktu istirahatnya demi penghasilan yang sangat minim.


Potret ini menghadirkan kontras tajam: seorang mantan pejabat tinggi negara, yang dulu menandatangani dokumen penting republik, kini berdiri di pasar menunggu pembeli.


Jawaban yang Menggetarkan


Suatu ketika, seorang sahabat seperjuangannya tak kuasa menahan haru melihat kondisi Kasman. Ia mempertanyakan bagaimana mungkin seorang tokoh besar bangsa hidup dalam kesulitan seperti itu.


Namun jawaban Kasman justru menjadi tamparan moral yang kuat.


Ia memilih hidup sederhana dengan penghasilan halal, daripada menikmati kemewahan dari hasil yang merugikan rakyat. Baginya, kemiskinan yang jujur jauh lebih mulia daripada kekayaan yang ternoda.


Pernyataan itu bukan sekadar ungkapan pribadi, tetapi refleksi nilai integritas yang kini terasa semakin langka.


Warisan yang Tak Tergantikan


Hingga akhir hayatnya, Kasman tetap hidup dalam kesederhanaan. Ia tidak meninggalkan warisan materi, tetapi meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga: teladan moral tentang kejujuran, tanggung jawab, dan pengabdian.


Dalam konteks Indonesia hari ini, kisah Kasman bukan sekadar cerita sejarah, melainkan cermin sekaligus kritik. Ia menunjukkan bahwa republik ini pernah dibangun oleh sosok-sosok yang rela miskin demi menjaga kehormatan.


Catatan 

Di saat publik terus disuguhi kasus penyalahgunaan kekuasaan, sosok seperti Kasman Singodimedjo menjadi pengingat bahwa integritas bukan utopia. Ia pernah nyata, hidup, dan menjadi fondasi republik ini.

Pertanyaannya kini: apakah nilai itu masih menjadi pijakan, atau justru telah ditinggalkan?

Kisah Kasman tidak hanya mengharukan—ia menggugat nurani bangsa. ( Red) 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update