Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan Prabowo

Iklan Prabowo

Tekanan Internal Memuncak: AS Didesak Hentikan Perang Iran, Pengamat Serukan Jalur Diplomasi Global

Selasa, 17 Maret 2026 | Selasa, Maret 17, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-17T05:53:29Z


CNEWS, JAKARTA, WASHINGTON DC – Desakan agar Amerika Serikat segera keluar dari konflik melawan Iran kian menguat, bukan hanya dari tekanan global, tetapi juga dari lingkar dalam pemerintahan sendiri. Di tengah eskalasi bersama Israel, risiko perang yang meluas kini dinilai berada di titik kritis.

Penasihat teknologi Gedung Putih, David Sacks, secara terbuka mendorong pemerintahan Donald Trump untuk segera mengakhiri operasi militer dan “menyatakan kemenangan” sebelum konflik berubah menjadi krisis global yang tak terkendali.


Menurutnya, kekuatan militer Iran telah melemah signifikan akibat serangan gabungan. Namun, keberlanjutan agresi justru berpotensi membuka fase konflik yang lebih destruktif.


“Jika eskalasi tidak menghasilkan hasil strategis yang jelas, maka de-eskalasi adalah satu-satunya langkah rasional,” tegas Sacks.


Ancaman Nyata: Energi Dunia dan Stabilitas Kawasan


Peringatan paling serius datang dari potensi serangan balasan Iran terhadap infrastruktur vital di kawasan Teluk—mulai dari fasilitas minyak, gas, hingga instalasi air bersih. Jika skenario ini terjadi, dampaknya tidak hanya menghantam kawasan Timur Tengah, tetapi juga mengguncang ekonomi global.


Selat Hormuz, jalur distribusi energi dunia, menjadi titik paling rawan. Gangguan di wilayah ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak, krisis energi, hingga tekanan ekonomi bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.


Sacks bahkan memperingatkan skenario ekstrem di mana kehancuran infrastruktur dapat membuat sebagian wilayah Timur Tengah tidak lagi layak huni.


Perpecahan Elite AS, Opsi Militer Masih Menguat


Di dalam Washington, terjadi tarik-menarik kepentingan. Sejumlah elite politik, termasuk dari Partai Republik, mendorong eskalasi lebih jauh—bahkan hingga opsi pengerahan pasukan darat dan perubahan rezim di Teheran.


Namun langkah ini dinilai berisiko tinggi, karena dapat memicu perang terbuka berkepanjangan dan siklus serangan balasan tanpa akhir.


Sementara itu, Presiden Trump sebelumnya mengklaim Iran telah “lumpuh secara militer” dan memberi sinyal konflik bisa segera diakhiri. Namun fakta di lapangan menunjukkan intensitas serangan masih tinggi dan belum ada tanda de-eskalasi nyata.


Suara Nasional: Diplomasi Harus Diutamakan


Di tengah situasi global yang kian memanas, praktisi dan pengamat internasional Solon Sihombing menegaskan pentingnya peran strategis sekutu AS dalam mendorong perdamaian melalui jalur diplomasi internasional.


Ia menyebut forum seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa serta Board of Peace (BoP) harus dioptimalkan untuk meredam konflik dan mencegah eskalasi lebih luas.


“Dunia membutuhkan perdamaian sejati—bukan hanya menghentikan perang, tetapi menciptakan stabilitas global yang adil dan berkelanjutan,” tegas Solon.


Ia juga mengingatkan bahwa konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari ini berpotensi menimbulkan kerusakan jangka panjang jika tidak segera dihentikan melalui dialog.


Belajar dari Sejarah, Hindari Bencana Global


Solon menekankan bahwa sejarah telah membuktikan penyelesaian konflik melalui diplomasi, seperti dalam Konferensi Meja Bundar, yang mampu mengakhiri pertikaian melalui kesepakatan bersama.


Ia menilai pendekatan serupa perlu dihidupkan kembali dalam konteks global saat ini.


“Harapan kita sejalan dengan Prabowo Subianto dan para pemimpin dunia lainnya—agar konflik ini tidak berlarut-larut. Jalan terbaik adalah kembali ke meja perundingan,” ujarnya.


Kesimpulan: Dunia di Persimpangan


Perang AS–Israel vs Iran kini bukan sekadar konflik regional, melainkan pertaruhan besar bagi stabilitas global. Tekanan internal di AS, ancaman krisis energi, hingga seruan diplomasi internasional menjadi indikator bahwa dunia sedang berada di persimpangan krusial.


Keputusan Washington dalam waktu dekat akan menentukan arah: meredakan ketegangan melalui diplomasi, atau membuka pintu bagi krisis global yang lebih luas dan berkepanjangan. ( Red) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update