CNEWS | Papua Tengah — Gelombang kekerasan bersenjata kembali mengancam keselamatan warga dan pekerja tambang di Papua Tengah. Aktivis kemanusiaan mendesak aparat penegak hukum menutup seluruh aktivitas tambang emas—terutama yang ilegal—di Kabupaten Nabire, menyusul serangan brutal Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang menelan korban jiwa.
Desakan itu disampaikan Yerry Basri, aktivis kemanusiaan sekaligus Ketua LSM WGAB Papua. Kepada media, Yerry mengungkapkan bahwa sebuah perusahaan tambang emas kristalin di Nabire baru-baru ini diserang KKB, mengakibatkan pembakaran fasilitas dan penembakan yang menewaskan satu orang.
“Ini bukan insiden biasa. Serangan dilakukan secara brutal dan membabi buta. Jika aktivitas tambang—khususnya yang ilegal—tetap dibiarkan, maka korban jiwa hanya tinggal menunggu waktu,” tegas Yerry.
Menurutnya, Kabupaten Nabire di Papua Tengah merupakan wilayah rawan KKB, sehingga keberadaan perusahaan tambang emas justru memperbesar risiko konflik bersenjata. Ia menilai penutupan total aktivitas tambang emas adalah langkah pencegahan mendesak demi keselamatan pekerja dan masyarakat sipil.
“Sebelum terjadi penyerangan lanjutan ke perusahaan tambang lainnya, Polda Papua Tengah harus segera menutup seluruh tambang emas di Nabire. Jangan menunggu jatuhnya korban berikutnya,” ujarnya.
Selain penutupan tambang, Yerry juga mendesak TNI dan Polri bertindak tegas dan terukur dalam menjaga keamanan wilayah Papua Tengah. Ia menekankan bahwa stabilitas keamanan merupakan syarat mutlak agar masyarakat dapat kembali beraktivitas secara normal tanpa bayang-bayang teror bersenjata.
“Negara tidak boleh kalah oleh kekerasan. Keamanan rakyat adalah prioritas utama,” pungkasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian terkait tuntutan penutupan seluruh aktivitas tambang emas di Kabupaten Nabire. Namun, tekanan publik diperkirakan akan terus menguat seiring meningkatnya eskalasi ancaman KKB di wilayah tersebut.( YBM)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar