Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan Prabowo

Iklan Prabowo

China Desak AS Buka Dialog dengan Rusia, Eskalasi Nuklir Tiga Kekuatan Jadi Ancaman Global

Senin, 09 Februari 2026 | Senin, Februari 09, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-09T00:50:53Z


China Tekan AS Respons Tawaran Rusia, Dunia Terancam Masuki Perlombaan Senjata Nuklir Tiga Kekuatan


CNEWS, Jakarta, Beijing –  China mendesak Amerika Serikat (AS) untuk merespons secara positif tawaran Rusia terkait pembatasan jumlah hulu ledak nuklir, usai berakhirnya perjanjian pengendalian senjata nuklir utama New START pada 5 Februari 2026, yang selama lebih dari lima dekade menjadi penopang stabilitas strategis global antara dua kekuatan nuklir terbesar dunia.


Kementerian Luar Negeri China menegaskan, posisi Beijing tetap menolak bergabung dalam perundingan perlucutan senjata nuklir trilateral bersama AS dan Rusia, kendati mantan Presiden AS Donald Trump berulang kali menyerukan agar China turut serta.

“China mencermati saran konstruktif Rusia dan berharap AS memberikan tanggapan positif demi menjaga stabilitas strategis global,” tegas Juru Bicara Kemlu China, Lin Jian, Selasa (3/2).


Akhir dari Pilar Pengendalian Nuklir Dunia


Perjanjian New Strategic Arms Reduction Treaty (New START) yang ditandatangani pada 2010 membatasi jumlah hulu ledak strategis yang dapat dikerahkan masing-masing negara hingga 1.550 unit, dengan batas 800 peluncur strategis dan 700 sistem aktif, termasuk rudal balistik antarbenua (ICBM), rudal kapal selam (SLBM), serta pengebom berat.

Sejak ditandatangani, perjanjian ini dikenal karena sistem verifikasi dan transparansinya yang ketat, melibatkan lebih dari 300 inspeksi dan 25 ribu pemberitahuan resmi antara kedua negara.


Namun, tawaran Presiden Rusia Vladimir Putin pada September 2025 untuk memperpanjang pengaturan itu secara informal diabaikan Washington.

“Jika berakhir, ya berakhir. Kita akan buat perjanjian yang lebih baik,” ujar Trump kepada The New York Times.

Sebaliknya, Rusia menegaskan siap menghadapi era baru tanpa pembatasan senjata nuklir.

“Tidak adanya respons juga merupakan bentuk respons,” ujar Wakil Menlu Rusia Sergei Ryabkov saat kunjungannya ke Beijing.


China: Bukan Saatnya Kami Diseret ke Meja Runding

China menilai tidak adil apabila diminta bergabung dalam perundingan trilateral karena arsenal nuklirnya jauh lebih kecil dibanding AS dan Rusia.

Menurut data SIPRI, China kini memiliki sekitar 600 hulu ledak nuklir, dengan penambahan rata-rata 100 per tahun sejak 2023.

Sebaliknya, AS memiliki 3.700 hulu ledak, dan Rusia 4.309 — dua negara yang menguasai 90 persen total nuklir dunia.


“Kekuatan nuklir China dan AS tidak berada pada level yang sama. Menuntut China ikut serta saat ini tidak masuk akal,” tegas Lin Jian.


Rencana Pembangunan Lima Tahun China periode 2026–2030 bahkan menegaskan penguatan “daya tangkal strategis,” yang menandakan Beijing akan terus memodernisasi kekuatan nuklirnya untuk memperkecil kesenjangan dengan Washington dan Moskow.



Era Baru Perlombaan Senjata Nuklir Tiga Arah


Para analis memperingatkan, berakhirnya New START berpotensi memicu perlombaan senjata nuklir tiga arah antara AS, Rusia, dan China, dengan risiko instabilitas global yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Menurut Zhao Tong, peneliti di Carnegie Endowment for International Peace, AS kini ingin mempertahankan fleksibilitas untuk meningkatkan jumlah hulu ledaknya karena kekhawatiran terhadap ekspansi nuklir China.


Sementara Rusia disebut dapat terus mengembangkan senjata nuklir generasi baru, termasuk rudal jelajah dan torpedo bertenaga nuklir, yang mengancam keamanan dan lingkungan global.


Analis Malcolm Davis dari Australian Strategic Policy Institute menilai perlombaan tiga arah ini sangat tidak stabil tanpa mekanisme pemantauan dan verifikasi.

“Ketiadaan New START membuka ruang kecurigaan dan eskalasi yang tak terkendali,” ujarnya.





Dunia di Persimpangan Bahaya



Kondisi ini menandai runtuhnya seluruh pilar pengendalian senjata nuklir era Perang Dingin, menyusul berakhirnya Perjanjian ABM (1972), INF (2019), dan kini New START (2026).

Menurut Zhou Bo, pensiunan kolonel senior PLA, situasi ini meningkatkan ketidakpastian dan kecemasan global.

“Ini bukan kemajuan, melainkan kemunduran dalam upaya menekan risiko proliferasi nuklir,” tegasnya.


China menilai rencana AS membangun sistem pertahanan rudal “Golden Dome” dan wacana uji coba nuklir baru justru melemahkan stabilitas strategis global.


Profesor hubungan internasional Shi Yinhong menegaskan, “Terlepas dari diperpanjang atau tidaknya perjanjian, yang menentukan adalah tindakan nyata. Dunia kini telah memasuki ‘normal baru’ di bawah bayang-bayang nuklir.” ( Red) 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update