CNEWS | Jakarta.
Sebuah buku reflektif berjudul “IJAZAH JOKOWI: Pertaruhan Moralitas Bangsa dan Refleksi Kejujuran (Sebuah Renungan Filosofis)” karya Wilson Lalengke memantik perdebatan nasional. Alih-alih menguji keaslian dokumen secara administratif, buku ini menempatkan polemik ijazah Presiden Joko Widodo sebagai simbol krisis kejujuran, legitimasi moral, dan kepercayaan publik di Indonesia.
Dalam ulasan filosofisnya, penulis menegaskan kejujuran sebagai fondasi peradaban dan syarat mutlak kepemimpinan demokratis. Mengacu pada pemikiran Immanuel Kant dan Thomas Jefferson, buku ini menyatakan bahwa legitimasi politik lahir dari pemilu, tetapi legitimasi moral dibangun melalui kejujuran dan transparansi. Ketika dokumen akademik pemimpin dipertanyakan, yang diuji bukan sekadar arsip, melainkan integritas kepemimpinan nasional.
Simbol Integritas, Bukan Sekadar Dokumen
Buku ini memotret ijazah presiden sebagai simbol integritas di mata publik. Dalam demokrasi, transparansi menjadi prasyarat kepercayaan. Keraguan—benar atau salah—yang tidak diakhiri dengan keterbukaan menyeluruh dinilai memicu krisis kepercayaan berkepanjangan. Penulis menilai respons defensif dan klarifikasi parsial justru memperbesar kecurigaan publik.
Bahaya “Kebohongan yang Dipelihara”
Wilson Lalengke mengingatkan risiko kebohongan institusional—penyangkalan atau manipulasi informasi yang berulang—yang dapat merusak pilar kebangsaan, menumbuhkan sinisme, dan memecah masyarakat ke dalam kubu-kubu saling meniadakan. Polemik ijazah, tulisnya, telah bermetamorfosis dari isu administratif menjadi gejala krisis kepercayaan nasional.
Seruan Transparansi Radikal
Sebagai solusi, buku ini mengusulkan “transparansi radikal”: pembukaan arsip akademik secara proaktif oleh pihak terkait—termasuk institusi pendidikan seperti Universitas Gadjah Mada—dengan forum terbuka dan tanya jawab publik. Keterbukaan dinilai sebagai jalan tercepat memadamkan spekulasi dan memulihkan kepercayaan.
Taruhan Global
Buku ini juga menautkan integritas pemimpin dengan reputasi Indonesia di panggung internasional. Dalam era keterbukaan informasi, isu kredibilitas domestik beresonansi global, memengaruhi kepercayaan diplomat, investor, dan mitra strategis. “Kejujuran pemimpin adalah etalase bangsa,” tulis penulis, menegaskan bahwa keraguan terhadap pemimpin berbiaya nyata bagi negara.
Revolusi Moral Tiga Pilar
Di bagian akhir, buku menyerukan revolusi moral melalui:
Pendidikan—mengutamakan karakter di atas angka;
Hukum—akuntabilitas tanpa tebang pilih;
Media—komitmen pada kebenaran tanpa manipulasi.
Kesimpulan
“Ijazah hanyalah kertas, kejujuran adalah jiwa,” menjadi penutup tegas buku ini. Isu ijazah, menurut penulis, bukan perkara personal, melainkan ujian karakter bangsa: memilih transparansi dan martabat, atau membiarkan ketidakpercayaan menggerogoti fondasi negara.
CNEWS akan terus memantau respons publik dan institusional atas terbitnya buku ini.
( Tim/Red)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar