Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan Prabowo

Iklan Prabowo

Dari Davos ke Timur Tengah: Raja Mohammed VI dan Lahirnya “Board of Peace”, Poros Baru Diplomasi Global

Sabtu, 24 Januari 2026 | Sabtu, Januari 24, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-23T20:00:34Z



CNews, DAVOS, SWISS — Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos, Kamis (22/1/2026), menjadi panggung lahirnya sebuah inisiatif geopolitik baru yang berpotensi menggeser arah diplomasi global. Atas mandat langsung Yang Mulia Raja Mohammed VI, Raja Maroko sekaligus Ketua Komite Al-Quds, Menteri Luar Negeri Maroko Nasser Bourita menandatangani Piagam Pendirian “Board of Peace” atau Dewan Perdamaian Dunia.


Penandatanganan dilakukan di bawah kepemimpinan langsung Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump, dan menandai dimulainya sebuah mekanisme diplomasi tingkat tinggi yang diklaim bertujuan memperkuat perdamaian Timur Tengah serta menawarkan pendekatan baru dalam penyelesaian konflik global yang selama ini buntu oleh pola lama diplomasi multilateral.


Maroko bersama Bahrain tercatat sebagai dua negara pertama yang menandatangani piagam tersebut. Usai penandatanganan, Presiden Trump secara resmi mengumumkan pemberlakuan Piagam dan mengesahkan berdirinya lembaga “Board of Peace”, menjadikannya struktur formal dalam arsitektur diplomasi internasional baru.


Forum Elit, Kepemimpinan Terpilih


Acara ini dihadiri sekitar 20 kepala negara dan pemerintahan serta para menteri luar negeri dari negara-negara kunci, di antaranya Türkiye, Arab Saudi, Mesir, Indonesia, Azerbaijan, dan Argentina. Komposisi peserta menegaskan bahwa Dewan Perdamaian ini tidak dirancang sebagai forum terbuka, melainkan lingkaran terbatas pemimpin global dengan pengaruh strategis lintas kawasan.


Keikutsertaan Maroko sebagai anggota pendiri dinilai bukan kebetulan. Undangan khusus tersebut mencerminkan pengakuan internasional terhadap peran Raja Mohammed VI sebagai salah satu figur sentral diplomasi moderat, terutama dalam isu sensitif Timur Tengah dan status Al-Quds (Yerusalem).


Analisis: Maroko di Titik Kunci Diplomasi Dunia


Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) sekaligus Presiden Indonesia Sahara Morocco Brotherhood (ISMB), Wilson Lalengke, menilai pembentukan Board of Peace sebagai sinyal pergeseran strategi global dari pendekatan koersif menuju diplomasi preventif.


“Ini bukan seremoni simbolik. Board of Peace adalah eksperimen politik global yang serius. Keterlibatan Maroko di bawah kepemimpinan Raja Mohammed VI memberi jaminan moral dan keseimbangan geopolitik, khususnya terkait isu Al-Quds dan dunia Muslim,” ujar Wilson Lalengke, Jumat (23/1/2026).


Menurutnya, posisi Maroko sebagai jembatan antara Afrika, dunia Arab, dan Barat menjadikannya aktor penyeimbang dalam konstelasi global yang semakin terpolarisasi. “Ketika dunia terjebak pada konflik Ukraina, Timur Tengah, dan Afrika, kehadiran figur moderat dengan legitimasi historis dan spiritual menjadi kebutuhan strategis,” tegasnya.


Agenda Strategis Dewan Perdamaian

Dokumen Piagam “Board of Peace” memuat tiga pilar utama:

Diplomasi Preventif, dengan fokus deteksi dini dan intervensi politik sebelum konflik bersenjata pecah.


Kemitraan Ekonomi–Perdamaian, menjadikan stabilitas sebagai prasyarat investasi dan kemakmuran.


Pendekatan Multilateral Baru, yang menggabungkan kekuatan negara besar dengan aktor regional kunci di luar mekanisme PBB konvensional.


Masuknya negara-negara seperti Indonesia dan Maroko memperkuat representasi negara Muslim moderat dalam struktur global baru ini—sekaligus menepis stigma bahwa dunia Islam hanya menjadi objek konflik, bukan arsitek solusi.


Implikasi bagi Indonesia


Bagi Indonesia, kehadiran dalam forum ini menegaskan kembali amanat konstitusi untuk ikut serta menjaga ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Dukungan organisasi lintas negara seperti ISMB memperkuat jalur diplomasi non-negara (track two diplomacy) Indonesia di panggung internasional.


Pembentukan “Board of Peace” menandai babak baru diplomasi global: ketika kekuatan moral, kepemimpinan moderat, dan kepentingan strategis bertemu dalam satu meja. Apakah dewan ini mampu menghasilkan solusi nyata atau hanya menjadi klub elit baru, waktu akan menjawab. Namun satu hal jelas—Davos 2026 telah melahirkan poros diplomasi yang tak bisa lagi diabaikan dunia.

(PERSISMA–ISMB / RED)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update