Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan Prabowo

Iklan Prabowo

Aceh Desember 2025 Saat Ini Masih Gelap Gulita, Klaim Listrik 97 Persen Menyala Diduga Menyesatkan Presiden

Sabtu, 13 Desember 2025 | Sabtu, Desember 13, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-12-13T16:05:55Z
POTO: SEORANG ANAK ACEH MENANTI ULURAN TANGAN UNTUK MENDAPATKAN BANTUAN MAKANAN DI GELAPNYA MALAM TANPA PENERANAGAN


CNEWS, ACEH — Klaim pemerintah pusat mengenai pemulihan listrik pasca-banjir dan longsor di Aceh kini menuai sorotan tajam. Investigasi lapangan hingga Sabtu, 13 Desember 2025, menemukan fakta bahwa sejumlah wilayah terdampak bencana masih berada dalam kegelapan total, tanpa aliran listrik, penerangan jalan, maupun akses bantuan yang layak.


Kondisi ini bertolak belakang dengan pernyataan resmi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, yang menyebut pemulihan listrik di Aceh telah mencapai 97 persen.



Fakta Lapangan: Lilin, Lumpur, dan Wilayah Terisolasi


Tim relawan Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, bersama awak media yang terjun langsung ke wilayah terdampak Aceh, mendapati kondisi malam hari yang sunyi, gelap, dan mencekam, menyerupai kawasan tak berpenghuni.


Sebagian besar rumah warga hanya mengandalkan cahaya lilin, sementara lampu jalan sama sekali tidak berfungsi. Pemandangan ini mempertegas bahwa aliran listrik belum pulih sebagaimana diklaim.


Akses utama dari Kuala Simpang menuju sejumlah lokasi evakuasi dan pemukiman warga di wilayah lain masih tertutup lumpur tebal setinggi lutut orang dewasa, bercampur puing bangunan serta kayu gelondongan sisa banjir bandang. Kondisi ini tidak hanya melumpuhkan aktivitas warga, tetapi juga mengisolasi distribusi bantuan kemanusiaan dari berbagai daerah.


“Kami bukan butuh angka di televisi. Kami butuh listrik menyala. Sampai malam ini, di sini masih gelap,” ujar seorang warga terdampak kepada media.

 


Pernyataan Menteri vs Realitas Lapangan


Pernyataan kontroversial Menteri ESDM Bahlil Lahadalia disampaikan saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto meninjau Jembatan Bailey Teupin Mane, Kabupaten Bireuen.


“Malam ini nyala semua, Pak. Seluruh Aceh, 97 persen sudah menyala malam ini,” ujar Bahlil, sebagaimana ditayangkan media nasional.

 

Namun, hasil penelusuran lapangan menunjukkan bahwa klaim tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil, khususnya di wilayah yang terdampak langsung banjir dan longsor. Sejumlah warga bahkan menyebut pernyataan itu sebagai “omon-omon”, karena bertolak belakang dengan realitas yang mereka alami setiap malam.



Dugaan Distorsi Data Pemulihan


Sejumlah pengamat kebencanaan dan infrastruktur menilai adanya potensi distorsi data pemulihan, di mana laporan berbasis persentase diduga tidak memasukkan wilayah-wilayah kritis yang masih padam total.


Sejumlah pertanyaan mendasar pun mengemuka:


  • 97 persen wilayah yang mana?
  • Apakah perhitungan hanya berbasis pusat kota dan jalur utama?
  • Mengapa justru daerah terdampak paling parah masih berada dalam kegelapan?

Hingga laporan ini diturunkan, Kementerian ESDM maupun PLN belum mempublikasikan peta rinci wilayah yang benar-benar telah pulih dari pemadaman listrik.



Reaksi Publik: Presiden Dinilai Berpotensi Diberi Laporan Keliru


Pernyataan Menteri ESDM tersebut memicu kemarahan publik. Di media sosial, gelombang kritik menguat, dengan tudingan bahwa Presiden berpotensi menerima laporan yang tidak utuh dan tidak akurat di tengah krisis kemanusiaan.


Sejumlah netizen bahkan menyebut pernyataan tersebut sebagai “prank politik”, karena disampaikan saat masyarakat Aceh masih berjuang di tengah lumpur, gelap, dan keterbatasan bantuan.


Kondisi ini memperkuat dugaan adanya kesenjangan serius antara laporan pejabat dan fakta lapangan, yang berisiko menghambat pengambilan kebijakan strategis pemerintah pusat.



Tuntutan Warga: Hadirkan Negara, Bukan Sekadar Seremoni


Warga Aceh mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk segera:


  1. Menurunkan alat berat guna membersihkan lumpur, puing bangunan, dan kayu gelondongan.
  2. Membuka akses jalan ke wilayah-wilayah yang masih terisolasi.
  3. Memastikan listrik benar-benar menyala di wilayah terdampak, bukan sekadar klaim administratif.
  4. Melakukan audit terbuka dan transparan atas klaim pemulihan listrik 97 persen.

“Kalau memang sudah 97 persen, kami yang masih gelap ini dianggap apa?” ujar seorang warga dengan nada getir.

 


Kesimpulan Investigasi

Investigasi ini menemukan indikasi kuat bahwa klaim pemulihan listrik Aceh belum sepenuhnya sejalan dengan fakta lapangan, terutama di wilayah terdampak langsung bencana. Ketidaksinkronan antara data resmi dan realitas berpotensi menyesatkan pengambilan kebijakan serta memperpanjang penderitaan masyarakat.

Hingga laporan ini dipublikasikan, sebagian wilayah Aceh masih gelap, terisolasi, dan menunggu kehadiran negara secara nyata, bukan sekadar pernyataan optimistis di hadapan kamera.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update