CNEWS | MOROWALI UTARA, SULAWESI TENGAH — Di tengah persiapan menyambut Hari Ulang Tahun ke-13 Kabupaten Morowali Utara, potret pilu dari wilayah pedalaman kembali menyoroti beratnya perjuangan masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan.
Seorang perempuan berusia sekitar 40 tahun berinisial N, warga Dusun Ue Kabeo, Desa Ue Pakatu, kawasan pedalaman masyarakat Wana, Kecamatan Mamosalato, harus ditandu sejauh kurang lebih 10 kilometer untuk mendapatkan pertolongan medis, Selasa (20/10/2026).
Dalam kondisi tidak sadarkan diri, pasien harus dibawa warga melewati medan yang sulit, termasuk menyeberangi sungai, menuju Puskesmas Indo Potowe Lijo.
Perjalanan tersebut memperlihatkan betapa beratnya akses menuju fasilitas kesehatan bagi masyarakat yang tinggal di kawasan terpencil. Dalam kondisi darurat, jarak dan medan menjadi persoalan serius karena waktu sangat menentukan keselamatan pasien.
Setelah mendapatkan penanganan di Puskesmas Indo Potowe Lijo, pasien kemudian dirujuk ke Luwuk untuk memperoleh penanganan medis lebih lanjut.
Warga setempat turut bahu-membahu membawa pasien hingga mencapai fasilitas kesehatan.
“Ini kondisi kami di sini, Pak, di pedalaman,” ungkap salah seorang warga.
Pernyataan tersebut menggambarkan persoalan yang masih dihadapi masyarakat di wilayah pedalaman: akses transportasi, jarak menuju fasilitas kesehatan, kondisi medan, serta kebutuhan terhadap layanan kesehatan yang cepat ketika keadaan darurat terjadi.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pertanyaan serius menjelang usia ke-13 Morowali Utara. Sejauh mana pembangunan dan pelayanan publik telah benar-benar menjangkau masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pemerintahan?
Pembangunan daerah tidak semestinya hanya diukur melalui capaian infrastruktur dan angka-angka pembangunan. Kehadiran pemerintah juga harus dirasakan masyarakat melalui pelayanan dasar, termasuk kesehatan yang mudah dijangkau, cepat, aman, dan manusiawi.
Kasus seorang pasien yang harus ditandu sekitar 10 kilometer dan menyeberangi sungai untuk mencapai fasilitas kesehatan menjadi pengingat bahwa persoalan akses layanan kesehatan di wilayah pedalaman masih membutuhkan perhatian serius.
Pemerintah Kabupaten Morowali Utara bersama instansi terkait perlu memastikan kondisi serupa menjadi bahan evaluasi, khususnya terkait akses evakuasi medis, sarana transportasi, serta jangkauan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di kawasan pedalaman Mamosalato dan permukiman masyarakat Wana.
HUT ke-13 Morowali Utara semestinya bukan sekadar momentum perayaan bertambahnya usia daerah. Lebih dari itu, momentum tersebut harus menjadi pengingat bahwa pembangunan harus hadir hingga ke pelosok—termasuk ketika seorang warga membutuhkan pertolongan medis dalam kondisi darurat.( Ran)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar