-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

GBT Dorong Ekonomi Berdikari dari Daerah, Daenk Jamal: Jangan Biarkan Daerah Hanya Jadi Pasar

Rabu, 12 Agustus 2026 | Rabu, Agustus 12, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-12T15:03:52Z


CNEWS, JAKARTA — Di tengah tekanan ekonomi global dan ketatnya persaingan pasar, Garda Bintang Timur (GBT) mendorong perubahan paradigma pembangunan ekonomi: daerah tidak boleh selamanya hanya menjadi pemasok bahan mentah sekaligus pasar bagi produk dari luar daerah.


Ketua Umum Garda Bintang Timur, Daenk Jamal, menegaskan bahwa kekuatan ekonomi nasional justru harus dibangun dari potensi daerah. Menurutnya, kemandirian ekonomi tidak cukup diwujudkan melalui pertumbuhan angka, tetapi harus terlihat dari kemampuan masyarakat memproduksi, mengolah, memasarkan, dan menikmati nilai tambah dari potensi ekonominya sendiri.


Mengusung tagline “Berdaulat Secara Ekonomi, Merdeka Dalam Karya”, GBT menawarkan gagasan penguatan ekonomi rakyat melalui produksi lokal, pemerataan akses usaha, inovasi, digitalisasi, serta kolaborasi antarpelaku ekonomi.


Daerah Jangan Sekadar Jadi Pemasok dan Konsumen


GBT menilai Indonesia memiliki potensi besar di sektor pertanian, perikanan, kerajinan, kuliner, industri kreatif hingga ekonomi berbasis teknologi. Namun, potensi tersebut akan kehilangan daya ungkit apabila masyarakat hanya menjual bahan mentah dan kembali membeli produk jadi dengan harga lebih tinggi.


Daerah jangan hanya menjadi pasar. Daerah harus menjadi pusat produksi, inovasi, dan pertumbuhan ekonomi,” menjadi semangat yang didorong GBT.


Karena itu, peningkatan nilai tambah menjadi agenda penting. Produk lokal harus mampu diolah, dikemas, dipasarkan dan ditingkatkan kualitasnya agar tidak hanya bersaing di tingkat nasional, tetapi juga memiliki peluang menembus pasar internasional.


Tiga Pilar Ekonomi Berdikari

Untuk memperkuat gagasan tersebut, GBT menitikberatkan gerakannya pada tiga pilar.

Pertama, kedaulatan produksi. Potensi daerah harus dikembangkan menjadi produk bernilai tambah dan tidak berhenti sebagai komoditas mentah.


Kedua, pemerataan akses ekonomi. Pelaku UMKM dan pengusaha muda di daerah membutuhkan akses terhadap permodalan, teknologi, pendampingan, jaringan bisnis dan pasar.


Ketiga, kolaborasi kolektif. GBT mendorong pengusaha, masyarakat, generasi muda dan berbagai pemangku kepentingan membangun jejaring usaha sehingga pelaku ekonomi kecil tidak berjalan sendiri menghadapi perubahan pasar.


Jangan Berhenti pada Slogan


GBT juga menekankan bahwa gagasan ekonomi harus dibuktikan melalui program konkret.

Sejumlah konsep yang ditawarkan antara lain Laboratorium Inovasi Timur untuk pengembangan produk lokal, Akademi Wirausaha Merdeka sebagai ruang mentoring generasi muda, Lumbung Modal Kolektif untuk penguatan pembiayaan usaha, serta Jejaring Pasar Berdikari untuk memperluas pemasaran dan distribusi produk anggota.


Konsep tersebut diarahkan membentuk rantai ekonomi yang lebih utuh, mulai dari produksi, pembiayaan, pendampingan, distribusi hingga pemasaran.


Kritik Tajam: Kemandirian Harus Diukur dari Hasil


Namun, gagasan kemandirian ekonomi tidak boleh berhenti sebagai jargon organisasi. Tantangan terbesar justru terletak pada implementasi.


Kemandirian harus dapat diukur dari bertambahnya pelaku usaha produktif, terbukanya lapangan kerja, meningkatnya nilai tambah produk daerah, meluasnya akses pasar, serta meningkatnya kesejahteraan masyarakat.


GBT juga menilai keuntungan usaha bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Pertumbuhan ekonomi harus memberikan dampak sosial, termasuk penghargaan terhadap pekerja, upah layak, pemberdayaan masyarakat serta dukungan terhadap pendidikan dan kesejahteraan.


Digitalisasi UMKM juga dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar pelaku usaha daerah tidak tertinggal dalam perubahan perilaku konsumen dan kompetisi ekonomi yang semakin terbuka.


Dari Timur untuk Indonesia


Filosofi Garda Bintang Timur—Garda sebagai barisan terdepan, Bintang sebagai simbol harapan dan cita-cita, serta Timur sebagai simbol matahari terbit—menjadi gambaran semangat organisasi untuk mendorong kebangkitan ekonomi dari daerah.


Pesannya jelas: perubahan ekonomi nasional tidak harus selalu dimulai dari pusat.


Desa, kecamatan, kabupaten dan provinsi memiliki potensi yang apabila dikelola secara serius dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional.


Daenk Jamal menempatkan gagasan tersebut sebagai bagian dari perjuangan ekonomi modern: masyarakat harus bergerak dari sekadar konsumen menjadi produsen, dari pemasok bahan mentah menjadi pemilik nilai tambah, dan dari pelaku usaha individual menjadi kekuatan ekonomi yang saling terhubung.


Pada akhirnya, keberhasilan gagasan GBT akan ditentukan bukan oleh kerasnya slogan, melainkan oleh seberapa nyata program dijalankan, seberapa transparan tata kelolanya, dan seberapa besar manfaatnya dirasakan masyarakat.


Dari daerah untuk Indonesia. Dari potensi lokal menuju kekuatan nasional.

“Berdaulat Secara Ekonomi, Merdeka Dalam Karya.”



DAENK JAMAL
Ketua Umum Garda Bintang Timur

Sumber: Divisi Humas MIO Indonesia DKI Jakarta
Reporter: Edo


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update