CNEWS | PELALAWAN – Tradisi Pacu Sampan Kampo, yang selama puluhan tahun menjadi simbol budaya masyarakat sungai di Kabupaten Pelalawan, kini dinilai semakin kehilangan eksistensi. Minimnya agenda pelestarian dan tidak adanya program berkelanjutan dari pemerintah daerah menjadi sorotan kalangan pemuda yang khawatir warisan budaya tersebut hanya tinggal cerita bagi generasi mendatang.
Pacu Sampan Kampo selama ini bukan sekadar perlombaan mendayung. Tradisi tersebut merupakan bagian dari identitas masyarakat Pelalawan yang sarat dengan nilai gotong royong, sportivitas, persatuan, dan memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat.
Ironisnya, di saat sejumlah daerah di Provinsi Riau terus mengembangkan tradisi pacu sampan sebagai agenda wisata unggulan, keberadaan Pacu Sampan Kampo di Pelalawan justru dinilai semakin terpinggirkan.
Kondisi tersebut mendapat kritik dari kalangan Pemuda Sungai Ara, Minggu (19/7/2026). Mereka mempertanyakan komitmen Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Pelalawan dalam menjaga dan mengembangkan salah satu warisan budaya daerah tersebut.
"Apakah Pacu Sampan Kampo sudah dianggap tidak penting lagi oleh pemerintah? Atau memang belum ada inovasi dari Disparpora untuk menghidupkan kembali budaya yang pernah menjadi kebanggaan masyarakat Pelalawan?" ujar salah seorang perwakilan Pemuda Sungai Ara.
Menurut mereka, pemerintah daerah seharusnya tidak hanya fokus menghadirkan kegiatan-kegiatan baru, tetapi juga memberikan perhatian serius terhadap pelestarian budaya lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Mereka juga menyoroti kondisi sejumlah sampan tradisional yang kini mulai rusak dan tidak lagi digunakan karena minimnya perawatan serta tidak adanya kompetisi yang digelar secara rutin.
Jika kondisi tersebut terus dibiarkan, dikhawatirkan generasi muda Pelalawan hanya akan mengenal Pacu Sampan Kampo melalui cerita orang tua tanpa pernah menyaksikan maupun ikut melestarikannya secara langsung.
"Budaya akan hilang apabila tidak diwariskan. Kalau tidak ada perhatian sejak sekarang, beberapa tahun ke depan Pacu Sampan Kampo bisa benar-benar tinggal sejarah," kata perwakilan pemuda.
Pemuda Sungai Ara mendesak Disparpora segera menyusun langkah konkret melalui program pelestarian budaya yang berkelanjutan, antara lain pembinaan komunitas dayung tradisional, peremajaan sampan, penyelenggaraan kejuaraan tahunan, serta memasukkan Pacu Sampan Kampo ke dalam Kalender Event Wisata Kabupaten Pelalawan.
Selain itu, mereka mendorong pemerintah melibatkan tokoh adat, komunitas budaya, pelaku pariwisata, dan generasi muda agar tradisi tersebut kembali hidup dan menjadi kebanggaan masyarakat.
Para pemerhati budaya menilai pelestarian tradisi lokal merupakan bagian penting dalam menjaga identitas daerah sekaligus mendukung pengembangan sektor pariwisata berbasis budaya. Oleh karena itu, setiap kebijakan di bidang pariwisata diharapkan mampu memberikan ruang yang seimbang antara penyelenggaraan event modern dan pelestarian warisan budaya.
Hingga berita ini diterbitkan, Disparpora Kabupaten Pelalawan belum memberikan tanggapan resmi terkait kritik yang disampaikan Pemuda Sungai Ara mengenai minimnya upaya pelestarian Pacu Sampan Kampo.
CNEWS membuka ruang hak jawab dan hak klarifikasi kepada Disparpora Kabupaten Pelalawan maupun pihak terkait lainnya sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, sebagai bentuk pemberitaan yang berimbang, akurat, dan menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah. (Tim/ Red)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar