-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Belajar dari India, Laksamana Sukardi: Demokrasi yang Membungkam Generasi Muda Sedang Kehilangan Arah

Selasa, 28 Juli 2026 | Selasa, Juli 28, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-28T09:10:22Z


CNews, UBUD, BALI – Pengamat kebangsaan Laksamana Sukardi melontarkan kritik tajam mengenai pentingnya negara membuka ruang dialog bagi generasi muda. Melalui tulisan opini bertajuk "Ketika Generasi Muda Menolak Menjadi Penonton: Pelajaran dari Gerakan Cockroach di India", ia menegaskan bahwa kekuatan sebuah demokrasi tidak diukur dari minimnya kritik, melainkan dari kemampuan pemerintah merespons aspirasi rakyat secara terbuka dan bertanggung jawab.


Dalam pandangannya, pengalaman India menjadi pelajaran penting bagi negara-negara demokrasi, termasuk Indonesia, bahwa suara anak muda tidak boleh dipandang sebagai ancaman terhadap kekuasaan, tetapi sebagai alarm demokrasi untuk memperbaiki arah kebijakan publik.


Laksamana Sukardi mengulas munculnya gerakan Cockroach Janta Party (CJP) yang lahir dari kekecewaan generasi muda India terhadap persoalan pengangguran, kebocoran ujian nasional, dan tata kelola pendidikan. Julukan "cockroach" (kecoa) yang semula digunakan sebagai ejekan justru diubah menjadi simbol perlawanan terhadap sistem yang dinilai tidak berpihak kepada masa depan generasi muda.


Mengacu pada pemberitaan Reuters, gerakan tersebut mendorong pemerintah India melakukan evaluasi terhadap tata kelola pendidikan, termasuk langkah-langkah reformasi dalam sistem ujian nasional. Dalam konteks itu, Laksamana Sukardi menilai kritik publik dapat menjadi bagian dari mekanisme demokrasi yang menghasilkan perbaikan kebijakan.


"Pemimpin yang kuat tidak takut terhadap kritik. Kritik adalah sistem peringatan dini agar pemerintah tidak kehilangan arah dalam menjalankan amanah rakyat," tulis Laksamana Sukardi.


Bonus Demografi Tidak Bisa Disia-siakan


Menurutnya, Indonesia dan India memiliki kesamaan sebagai negara demokrasi besar dengan jumlah penduduk usia muda yang sangat dominan. Bonus demografi hanya akan menjadi kekuatan apabila negara mampu menyediakan pendidikan berkualitas, lapangan pekerjaan, serta kesempatan yang adil bagi generasi muda.


Sebaliknya, apabila aspirasi mereka diabaikan dan peluang semakin terbatas, bonus demografi berpotensi berubah menjadi tantangan sosial, ekonomi, maupun politik.


Demokrasi Harus Membuka Ruang Kritik


Laksamana Sukardi menegaskan bahwa demokrasi tidak cukup diwujudkan melalui pemilihan umum setiap lima tahun. Demokrasi juga harus menghadirkan ruang dialog yang sehat melalui parlemen yang efektif, media yang independen, perguruan tinggi yang kritis, masyarakat sipil yang aktif, dan mekanisme pengawasan terhadap jalannya pemerintahan.


Menurutnya, kritik yang disampaikan secara damai dan konstitusional merupakan bagian dari kehidupan demokrasi yang harus dihormati, bukan dipandang sebagai ancaman.


Sumpah Pemuda Menjadi Pengingat


Laksamana Sukardi juga mengingatkan bahwa sejarah Indonesia telah membuktikan besarnya peran generasi muda dalam menentukan arah bangsa. Semangat Sumpah Pemuda 1928 menjadi bukti bahwa perubahan besar lahir dari persatuan gagasan, keberanian menyampaikan aspirasi, serta komitmen membangun masa depan bersama.


Ia mengajak generasi muda Indonesia untuk terus berpartisipasi secara aktif melalui pemikiran, inovasi, dan solusi, bukan melalui kebencian maupun kekerasan.


Di akhir tulisannya, Laksamana Sukardi menegaskan bahwa masa depan Indonesia berada di tangan generasi muda. Oleh karena itu, negara harus memastikan setiap aspirasi mendapat ruang untuk didengar sebagai bagian dari penguatan demokrasi.


"Negara yang besar bukanlah negara yang membungkam suara anak mudanya. Negara yang besar adalah negara yang mendengar, menghargai, dan menjadikan aspirasi generasi muda sebagai energi untuk membangun masa depan bangsa." ( Red).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update