CNEWS | KEEROM, PAPUA – Pernyataan yang menyebut aktivitas truk pengangkut kayu sebagai penyebab utama kerusakan jalan di Kabupaten Keerom mendapat bantahan keras dari Ketua LSM WGAB Papua, Yerri Basri Mak, SH., MH. Menurutnya, tudingan tersebut tidak sepenuhnya berdasar dan berpotensi menyesatkan opini publik apabila tidak didukung kajian teknis yang komprehensif.
Yerri menegaskan, Kabupaten Keerom berada di wilayah beriklim tropis basah dengan tingkat curah hujan dan kelembapan yang tinggi sepanjang tahun. Kondisi geografis dan karakteristik tanah yang labil disebutnya sebagai faktor utama yang menyebabkan jalan mudah mengalami retak, amblas, berlubang, bahkan longsor di sejumlah titik.
“Kerusakan jalan di Keerom tidak bisa serta-merta dituduhkan kepada truk pengangkut kayu. Curah hujan tinggi, kelembapan tanah, drainase, serta kondisi konstruksi jalan merupakan faktor yang jauh lebih dominan dan harus dilihat secara objektif,” tegas Yerri.
Ia menilai narasi yang berkembang di tengah masyarakat seolah-olah seluruh kerusakan jalan disebabkan kendaraan pengangkut kayu merupakan penyederhanaan persoalan yang berlebihan. Menurutnya, jalan yang sudah mengalami penurunan kualitas akibat cuaca ekstrem memang akan semakin rentan rusak ketika dilalui berbagai jenis kendaraan, bukan hanya truk kayu.
Yerri juga mengingatkan bahwa kendaraan pengangkut kayu yang beroperasi sesuai ketentuan muatan tidak dapat langsung dijadikan kambing hitam tanpa adanya hasil investigasi teknis dari instansi berwenang. Terlebih, aktivitas angkutan kayu di sejumlah ruas jalan Keerom umumnya dilakukan pada malam hari untuk mengurangi gangguan terhadap aktivitas masyarakat.
“Kalau ingin mencari penyebab kerusakan jalan, harus dilakukan audit teknis secara menyeluruh. Jangan membangun opini tanpa data. Jalan rusak adalah persoalan kompleks yang melibatkan faktor alam, kualitas pembangunan, sistem drainase, hingga intensitas lalu lintas harian,” katanya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi kritik terhadap kecenderungan sebagian pihak yang dinilai terlalu cepat menyimpulkan penyebab kerusakan infrastruktur tanpa mempertimbangkan aspek ilmiah dan kondisi geografis Papua yang memiliki tantangan alam berbeda dibanding wilayah lain di Indonesia.
Pengamat infrastruktur menilai, untuk memastikan penyebab utama kerusakan jalan di Keerom diperlukan kajian independen yang melibatkan ahli geoteknik, konstruksi jalan, dan pemerintah daerah. Dengan demikian, kebijakan perbaikan dapat dilakukan secara tepat sasaran dan tidak hanya berdasarkan asumsi atau tekanan opini publik.
“Jalan rusak harus diselesaikan dengan data dan kajian teknis, bukan dengan mencari kambing hitam. Transparansi dan investigasi ilmiah menjadi kunci agar masyarakat memperoleh fakta yang utuh dan dapat dipertanggungjawabkan,” tutup Yerri. ,( Tim)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar