CNEWS | JAKARTA – Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang diumumkan menjelang penandatanganan resmi di Swiss pada 19 Juni 2026 disambut positif berbagai kalangan internasional. Salah satunya datang dari pengamat hubungan internasional sekaligus praktisi media, Solon Sihombing, yang menilai kesepakatan tersebut sebagai momentum bersejarah bagi terciptanya stabilitas geopolitik dunia.
Menurut Solon, tercapainya kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat menjadi harapan baru bagi masyarakat internasional setelah berbulan-bulan diliputi ketegangan yang berdampak pada keamanan kawasan, sektor energi, dan perekonomian global.
"Kami menyambut dengan penuh rasa syukur dan optimisme atas tercapainya kesepakatan damai ini. Dunia membutuhkan stabilitas dan kepastian agar pembangunan serta kesejahteraan masyarakat dapat kembali menjadi prioritas utama," ujar Solon kepada CNEWS, Senin (15/6/2026).
Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa seluruh dokumen perjanjian damai dengan Iran telah disepakati dan blokade militer AS di Selat Hormuz resmi dicabut. Sebelumnya, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga menyampaikan bahwa kedua negara telah mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik dan akan menandatangani perjanjian perdamaian di Swiss.
Perdamaian Dinilai Berdampak Besar terhadap Stabilitas Global
Solon menilai berakhirnya konflik berpotensi meredakan berbagai ketegangan yang selama ini mempengaruhi kawasan Timur Tengah, termasuk situasi keamanan yang berdampak hingga ke Lebanon dan negara-negara sekitarnya.
Menurutnya, keberhasilan diplomasi tersebut dapat menjadi contoh bahwa dialog dan negosiasi tetap menjadi instrumen paling efektif dalam menyelesaikan konflik antarnegara dibandingkan penggunaan kekuatan militer.
"Perdamaian yang berkelanjutan akan menciptakan rasa aman bagi masyarakat internasional, mengurangi risiko konflik regional, serta membuka peluang kerja sama ekonomi yang lebih luas," katanya.
Pasar Energi dan Ekonomi Dunia Berpotensi Pulih
Selain aspek keamanan, Solon menyoroti dampak strategis kesepakatan tersebut terhadap sektor energi global. Selama konflik berlangsung, ketidakpastian di kawasan Timur Tengah sempat memicu kekhawatiran terhadap distribusi minyak dunia dan stabilitas harga energi internasional.
Dengan dibukanya kembali akses pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi terpenting dunia, pasar internasional diperkirakan akan merespons positif perkembangan tersebut.
"Stabilitas pasokan energi merupakan faktor penting bagi pertumbuhan ekonomi global. Jika situasi keamanan membaik, maka tekanan terhadap harga energi dapat berkurang dan memberikan manfaat bagi banyak negara, termasuk Indonesia," jelasnya.
Indonesia Diharapkan Ikut Merasakan Dampak Positif
Lebih lanjut, Solon berharap membaiknya situasi geopolitik internasional dapat memberikan efek positif terhadap perekonomian nasional melalui stabilitas harga energi, penguatan iklim investasi, serta meningkatnya kepastian ekonomi bagi dunia usaha.
"Semoga perdamaian ini membawa manfaat nyata bagi masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Ketika konflik berakhir, fokus global dapat kembali diarahkan pada pembangunan, investasi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.
Di akhir keterangannya, Solon mengajak seluruh negara untuk terus mengedepankan diplomasi dan dialog sebagai jalan utama penyelesaian sengketa internasional.
"Perdamaian selalu lebih bernilai daripada peperangan. Semoga kesepakatan Iran dan Amerika Serikat menjadi titik awal lahirnya era baru yang lebih aman, stabil, dan sejahtera bagi Timur Tengah maupun dunia internasional," pungkasnya. ( Red.RI)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar