-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Misi Kemanusiaan PPWI Bongkar Fakta Nusakambangan: Dugaan Kriminalisasi Aktivis Jekson Sihombing Kembali Disorot Nasional

Jumat, 22 Mei 2026 | Jumat, Mei 22, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-21T21:49:50Z


CNEWS, Jakarta, Cilacap — Tabir panjang mengenai wajah sesungguhnya Pulau Nusakambangan akhirnya mulai tersingkap. Di tengah stigma lama yang melekat sebagai pulau penjara paling menyeramkan di Indonesia, kunjungan resmi Dewan Pengurus Nasional Persatuan Pewarta Warga Indonesia (DPN PPWI) justru memperlihatkan realitas berbeda: sistem pemasyarakatan modern, pendekatan humanis, serta pengawasan ketat yang jauh dari gambaran “pulau horor” yang selama ini berkembang di tengah masyarakat.


Pada Rabu, 20 Mei 2026, Ketua Umum PPWI Wilson Lalengke memimpin langsung rombongan organisasi pers tersebut melakukan audiensi, silaturahmi, sekaligus misi kemanusiaan ke kompleks Lapas Narkotika Kelas II Nusakambangan di kawasan Pulau Nusakambangan.


Kunjungan itu menjadi perhatian serius karena tidak hanya membahas keterbukaan informasi publik dan pembinaan warga binaan, tetapi juga menyoroti kembali dugaan kriminalisasi terhadap aktivis lingkungan asal Riau, Jekson Sihombing, yang saat ini menjalani masa pidana di Nusakambangan.


Rombongan PPWI disambut langsung oleh Kepala Lapas, Andi Mulyadi, bersama jajaran pejabat pemasyarakatan. Pertemuan berlangsung intensif dan terbuka selama hampir dua jam, membahas pola pembinaan warga binaan, sistem keamanan modern, hingga peluang sinergi antara lembaga pemasyarakatan dengan media lokal demi mendorong transparansi publik yang edukatif dan konstruktif.


Dalam audiensi tersebut, Wilson Lalengke didampingi Wakil Ketua II PPWI Ujang Kosasih serta Wakil Sekretaris Jenderal PPWI Julian Caisar. Sementara pihak lapas turut dihadiri pejabat Binadik dan jajaran staf fungsional lainnya.


Dugaan Kriminalisasi Aktivis Lingkungan Riau


Kunjungan ini menjadi sangat emosional ketika PPWI turut mendampingi keluarga inti Jekson Sihombing untuk bertemu langsung dengan pria yang disebut banyak pihak sebagai korban kriminalisasi sistemik akibat keberaniannya mengungkap dugaan perusakan hutan dan praktik korupsi di sektor perkebunan sawit di Provinsi Riau.


Turut hadir dalam rombongan keluarga, ibunda Jekson, Relly Pasaribu, neneknya Tiur Simamora, serta adiknya Arnadeyanti Sihombing.


Kasus yang menjerat Jekson selama ini menjadi sorotan karena dikaitkan dengan dugaan keterlibatan jaringan pengusaha dan oknum aparat hukum di Riau. Nama korporasi PT Ciliandra Perkasa, yang berada di bawah grup usaha Surya Dumai Group, kembali disebut dalam pusaran konflik tersebut.


Dalam narasi yang berkembang di tengah publik dan aktivis antikorupsi, Jekson diyakini menjadi target pembungkaman setelah aktif menyuarakan dugaan pelanggaran lingkungan serta penyimpangan pengelolaan sumber daya alam. Ia sempat divonis enam tahun penjara sebelum akhirnya dipangkas menjadi tiga tahun pada tingkat banding.


Nusakambangan Modern: Bukan Tempat Penyiksaan


Di hadapan rombongan PPWI, pihak lapas menjelaskan bahwa sistem pemasyarakatan di Nusakambangan kini menerapkan standar modern berbasis klasifikasi keamanan dan evaluasi perilaku warga binaan.


Saat ini terdapat 12 lembaga pemasyarakatan aktif di Nusakambangan yang dibagi ke dalam empat kategori utama, yakni Super Maximum Security, Maximum Security, Medium Security, dan Regular Security.


Sistem tersebut diterapkan bukan sebagai alat penyiksaan, melainkan sebagai mekanisme pembinaan bertahap. Setiap warga binaan memiliki peluang dipindahkan ke tingkat pengamanan yang lebih ringan apabila menunjukkan perubahan perilaku positif dan kepatuhan selama menjalani masa pembinaan.


Sebaliknya, pelanggaran disiplin berat dapat menyebabkan narapidana dipindahkan kembali ke lapas dengan tingkat pengamanan lebih ketat.


Kondisi Jekson Dipastikan Sehat dan Kuat Mental


Momen paling mengharukan terjadi ketika keluarga akhirnya bertatap muka langsung dengan Jekson Sihombing. Berdasarkan pengamatan langsung keluarga dan tim PPWI, kondisi fisik maupun mental Jekson dinyatakan sangat baik.


Di balik tembok tinggi Nusakambangan, semangat dan mental aktivis lingkungan tersebut dinilai tetap kuat. Dalam pertemuan itu, Jekson secara terbuka menceritakan kesehariannya di dalam lapas kepada ibu, nenek, dan adiknya.


Kondisi tersebut sekaligus mematahkan kekhawatiran keluarga yang selama ini dicekam berbagai isu mengenai kerasnya kehidupan di Nusakambangan. Perlakuan humanis petugas lapas disebut menjadi faktor penting yang memberikan ketenangan psikologis bagi keluarga.


Perjalanan Langka Menembus “Pulau Penjara”


Kunjungan PPWI juga diwarnai pengalaman logistik yang tidak biasa. Rombongan diseberangkan dari Pelabuhan Wijayapura menggunakan kapal feri Pengayoman milik Kementerian Hukum dan HAM menuju Pelabuhan Sodong.


Perjalanan darat di dalam pulau dilanjutkan menggunakan bus tahanan resmi menuju kompleks lapas. Sementara saat kembali, rombongan diantar menggunakan ambulans lapas menuju dermaga sebelum menyeberang dengan kapal nelayan tradisional menuju Cilacap.


Sebagai bentuk penghormatan atas keterbukaan dan profesionalisme pelayanan, PPWI menyerahkan piagam penghargaan khusus kepada Kalapas Andi Mulyadi. Penghargaan itu diberikan langsung oleh Wilson Lalengke sebagai simbol apresiasi terhadap pendekatan pemasyarakatan yang dinilai lebih humanis dan transparan.


Mematahkan Mitos Gelap Nusakambangan


Dari hasil kunjungan lapangan tersebut, PPWI menegaskan bahwa citra Nusakambangan sebagai tempat penuh kekejaman dan horor tidak sepenuhnya sesuai dengan realitas saat ini.


Menurut hasil pengamatan rombongan, lingkungan lapas di Nusakambangan kini terlihat tertata, bersih, sistematis, dan jauh lebih manusiawi dibanding stigma yang berkembang selama puluhan tahun.


Kunjungan ini sekaligus membuka kembali perdebatan nasional mengenai kriminalisasi aktivis lingkungan, integritas penegakan hukum, serta pentingnya reformasi sistem peradilan yang bebas dari intervensi kekuasaan dan kepentingan oligarki.


Bagi keluarga Jekson Sihombing, perjalanan ke Nusakambangan bukan sekadar kunjungan biasa. Itu adalah titik terang di tengah panjangnya perjuangan mencari keadilan.

( Tim/Red)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update