CNEWS , Deli Serdang— Proyek strategis penguatan Daerah Irigasi Bendung Serdang memasuki fase krusial. Hambatan utama yang selama ini membayangi—yakni pembebasan lahan di kawasan hulu Sei Batugingging dan Sei Merah—kini dilaporkan telah terurai signifikan. Otoritas pelaksana menyebut progres pembebasan lahan telah menembus lebih dari 90 persen, sebuah capaian yang dinilai menentukan kelanjutan percepatan pembangunan infrastruktur pengairan di Sumatera Utara.
Pihak Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera II (BBWS II) mengonfirmasi bahwa mayoritas bidang lahan di dua titik paling krusial tersebut telah diselesaikan tanpa gejolak berarti. Fokus pekerjaan kini beralih pada penyelesaian sisa bidang yang tergolong kompleks, baik dari sisi administratif maupun sosial.
Di kawasan Sei Batugingging, dari total 131 bidang lahan, hanya tersisa beberapa bidang yang belum tuntas. Sumber internal menyebutkan, kendala yang tersisa bukan lagi bersifat massif, melainkan kasus individual yang membutuhkan pendekatan khusus. Beberapa di antaranya terkait ketidakjelasan keberadaan pemilik lahan, serta adanya penolakan nilai ganti rugi oleh salah satu warga.
“Pendekatan persuasif telah dilakukan berulang kali, namun hingga kini masih ada pihak yang belum bersedia membuka ruang dialog secara langsung,” ujar sumber dari BBWS II, menggambarkan situasi terakhir yang masih memerlukan penanganan hati-hati.
Meski demikian, pihak pelaksana memastikan seluruh proses tetap berjalan dalam koridor hukum dan prinsip keadilan, termasuk menjamin transparansi dalam penilaian kompensasi lahan.
Dukungan terhadap percepatan proyek ini juga datang dari kalangan masyarakat sipil. Ketua LSM Green Day Sumut, Veri, menilai langkah BBWS II sudah berada di jalur yang tepat.
“Kami mendukung penuh upaya penyelesaian pembebasan lahan ini. Memang ada sedikit kendala, tapi itu hal yang wajar dalam proyek besar. Kami optimistis BBWS II mampu menyelesaikannya secara baik dan adil,” tegasnya.
Menurut Veri, proyek Bendung Serdang bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan memiliki dampak strategis terhadap ketahanan pangan dan kesejahteraan petani di wilayah Deli Serdang dan sekitarnya.
“Ini bukan hanya soal tanggul dan irigasi. Ini menyangkut masa depan petani kita. Jika bendung ini berfungsi optimal, maka ribuan hektare sawah akan mendapatkan suplai air yang stabil. Artinya, produktivitas meningkat, ekonomi petani terangkat,” tambahnya.
Secara teknis, proyek peninggian tanggul dan optimalisasi aliran sungai di kawasan hulu menjadi kunci dalam mengendalikan distribusi air, sekaligus meminimalisir risiko banjir yang selama ini kerap menghantui wilayah hilir.
Namun demikian, pengamat infrastruktur menilai penyelesaian sisa lahan harus tetap menjadi perhatian serius. “Satu bidang yang bermasalah bisa menghambat keseluruhan progres jika tidak ditangani secara tepat, baik melalui pendekatan hukum maupun mediasi sosial,” ungkap seorang analis kebijakan publik yang enggan disebutkan namanya.
Dengan capaian lebih dari 90 persen pembebasan lahan, proyek Bendung Serdang kini berada di ambang percepatan penuh. Tantangan yang tersisa menjadi ujian bagi konsistensi pemerintah dalam menyeimbangkan antara kepentingan pembangunan dan perlindungan hak masyarakat.
Jika seluruh tahapan dapat dituntaskan tanpa konflik berkepanjangan, Bendung Serdang berpotensi menjadi salah satu tulang punggung sistem irigasi modern di Sumatera Utara—sekaligus simbol keberhasilan penyelesaian proyek strategis berbasis pendekatan kolaboratif antara pemerintah dan masyarakat
( Verry).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar