-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan Paskah

Iklan Paskah

IKA UNRI Konsolidasi Kekuatan di Ibu Kota: Dari Silaturahmi ke Ambisi Menjadi Poros Pengaruh Nasional”

Senin, 27 April 2026 | Senin, April 27, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-27T05:26:57Z


CNEWS | Tangerang – Konsolidasi kekuatan alumni kembali menunjukkan signifikansinya dalam lanskap sosial dan profesional nasional. Hal ini tercermin dalam perhelatan Halal Bi Halal dan Pelantikan Ikatan Keluarga Alumni Universitas Riau (IKA UNRI) Jabodetabek periode 2026–2030 yang digelar di The Radiant Center, Minggu (26/4/2026).


Mengusung tema “Stronger Together, Together Stronger”, acara ini tidak sekadar menjadi ajang temu kangen, melainkan panggung strategis untuk memperkuat jaringan, konsolidasi kekuatan intelektual, serta pengaruh alumni di pusat kekuasaan nasional.


Sejak pukul 11.00 WIB, ratusan alumni dari berbagai generasi dan latar belakang profesi memadati lokasi acara. Mereka datang membawa satu kepentingan yang sama: mempertegas posisi alumni Universitas Riau sebagai kekuatan sosial yang tidak bisa dipandang sebelah mata, khususnya di wilayah Jabodetabek yang menjadi episentrum ekonomi dan politik Indonesia.


Puncak acara ditandai dengan pelantikan resmi pengurus IKA UNRI Jabodetabek periode 2026–2030. Agustaviano Sofjan dilantik sebagai ketua oleh Wan Muhammad Hasyim, menandai babak baru kepemimpinan alumni di kawasan strategis nasional tersebut.


Dalam pidatonya, Agustaviano tidak sekadar menyampaikan pesan normatif. Ia menegaskan bahwa IKA UNRI Jabodetabek harus keluar dari pola lama yang hanya berorientasi seremonial.


“Ini bukan sekadar organisasi alumni. Ini adalah kekuatan kolektif. Kita harus menjadi rumah yang produktif, inklusif, dan mampu menciptakan dampak nyata, baik untuk alumni maupun bangsa,” tegasnya.


Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa kepengurusan baru diharapkan lebih agresif dalam membangun jejaring ekonomi, memperluas akses kerja bagi alumni muda, serta berkontribusi pada kebijakan publik.


Kehadiran Sri Indarti bersama jajaran pimpinan kampus—termasuk Yuana Nurulita dan Hermandra—mempertegas bahwa hubungan antara kampus dan alumni kini tidak lagi bersifat simbolik, melainkan strategis dan saling menguatkan.


Dalam sambutannya, Sri Indarti menekankan bahwa kekuatan alumni adalah salah satu indikator utama reputasi perguruan tinggi di tingkat nasional maupun global.


“Alumni adalah representasi nyata dari kualitas universitas. Apa yang bapak dan ibu bangun di Jakarta akan menentukan bagaimana Universitas Riau dipandang di tingkat nasional,” ujarnya.


Sementara itu, Wan Muhammad Hasyim menyoroti persoalan klasik yang selama ini menjadi kelemahan banyak organisasi alumni: kurangnya integrasi data dan lemahnya kolaborasi ekonomi. Ia menegaskan bahwa era baru IKA UNRI harus berbasis pada kekuatan informasi dan jaringan profesional.


“Data alumni harus terintegrasi. Dari situ kita bisa membangun kekuatan ekonomi, membuka peluang kerja, dan bahkan memengaruhi kebijakan nasional. Jangan sampai potensi besar ini hanya berhenti di forum seperti ini,” tegasnya.


Dimensi yang lebih luas dari perhelatan ini juga terlihat dari kehadiran tokoh nasional seperti Wilson Lalengke. Dalam kesempatan tersebut, ia membagikan souvenir eksklusif berupa kalender “PPWI GO TO UNITED NATIONS 2026”, yang mendokumentasikan kiprahnya dalam forum internasional di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York.


Langkah ini bukan sekadar simbolis, melainkan pesan kuat bahwa alumni UNRI memiliki kapasitas untuk tampil di panggung global.


“Alumni harus berani melangkah keluar dari zona lokal. Kita bisa bicara di tingkat internasional, dan itu harus menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya,” ujar Wilson.


Jejak kekuatan jaringan alumni juga terlihat dari kehadiran sejumlah figur penting di berbagai sektor strategis, seperti Djonieri dari OJK, Setri Yasra dari Tempo, Rahmad Hidayat dari Krakatau Chandra Energi, hingga Vendra Wasnury dari Subaga Group. Komposisi ini menunjukkan bahwa alumni UNRI telah tersebar dan berpengaruh di sektor keuangan, media, industri, hingga korporasi nasional.


Namun di balik kemegahan acara, terdapat tantangan yang tidak bisa diabaikan. Banyak organisasi alumni di Indonesia kerap terjebak dalam rutinitas seremonial tanpa dampak konkret. IKA UNRI kini menghadapi ujian yang sama: apakah mampu menjadi kekuatan nyata atau sekadar simbol solidaritas nostalgia.


Momen emosional turut mewarnai acara ketika Edwin, salah satu alumni senior, menyampaikan pesan lintas generasi yang sarat makna.


“Jangan pernah lupakan akar. Almamater adalah identitas. Tapi identitas itu harus dibuktikan dengan karya,” ujarnya.


Acara yang berlangsung hingga pukul 16.00 WIB ditutup dengan suasana hangat penuh kekeluargaan, makan bersama, hiburan musik, serta pembagian door prize. Namun lebih dari itu, pertemuan ini meninggalkan pesan strategis: bahwa kekuatan alumni bukan hanya pada jumlah, tetapi pada kemampuan mengorganisir diri dan menciptakan dampak nyata.


IKA UNRI Jabodetabek kini berada di titik krusial. Dengan basis sumber daya manusia yang kuat dan posisi geografis yang strategis di pusat kekuasaan nasional, organisasi ini memiliki peluang besar untuk menjadi kekuatan penyeimbang dalam pembangunan—baik di sektor pendidikan, ekonomi, maupun kebijakan publik.


Jika momentum ini dimanfaatkan secara serius, maka IKA UNRI tidak hanya akan dikenal sebagai organisasi alumni, tetapi sebagai kekuatan nasional yang mampu membentuk arah masa depan. Sebaliknya, jika gagal, maka perhelatan megah ini hanya akan menjadi catatan seremonial—tanpa jejak signifikan dalam sejarah. ( Tim/ Red(

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update