CNEWS | JAKARTA — Klaim pemerintah terkait tercapainya swasembada beras kembali memicu perdebatan tajam di tingkat nasional. Pernyataan Amran Sulaiman yang menyebut melimpahnya stok beras di gudang sebagai bukti keberhasilan swasembada kini dipertanyakan dari sisi logika, historis, hingga validitas data.
Pernyataan tersebut disampaikan usai kunjungan ke gudang Perum Bulog bersama sejumlah aktivis mahasiswa, pengamat, hingga tokoh publik, Kamis (23/4/2026). Dalam kesempatan itu, Mentan menegaskan bahwa cadangan beras nasional telah menembus angka lebih dari 5 juta ton, yang menurutnya menjadi indikator kuat tercapainya swasembada.
Namun, pandangan tersebut langsung menuai kritik. Ekonom Konstitusi Defiyan Cori menilai pendekatan yang menyamakan stok beras dengan swasembada adalah penyederhanaan yang berbahaya.
“Gudang penuh tidak otomatis berarti swasembada. Pertanyaannya, dari mana sumber beras itu? Apakah murni hasil produksi dalam negeri, atau hasil akumulasi impor sebelumnya?” tegas Defiyan.
Logika Swasembada Dipertanyakan
Secara konseptual, swasembada beras tidak hanya diukur dari ketersediaan stok, melainkan kemampuan suatu negara memenuhi kebutuhan konsumsi beras dari produksi domestik secara berkelanjutan tanpa ketergantungan impor.
Dalam konteks ini, kritik mengarah pada klaim percepatan capaian swasembada yang dinilai terlalu singkat. Mentan menyebut keberhasilan itu dicapai dalam waktu kurang dari satu tahun—sebuah klaim yang dianggap tidak sejalan dengan realitas historis.
Sebagai perbandingan, pada era Soeharto di masa Orde Baru, capaian swasembada beras membutuhkan proses panjang hingga 15 tahun. Saat itu, jumlah penduduk Indonesia berdasarkan Sensus Penduduk 1980 sekitar 147,5 juta jiwa.
Kini, dengan jumlah penduduk yang melonjak menjadi sekitar 281,6 juta jiwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik per Juni 2024, klaim swasembada dalam waktu singkat dinilai tidak sebanding.
“Ini bukan perbandingan yang setara atau apple to apple. Kondisi demografis, luas lahan, hingga tantangan distribusi sangat berbeda. Tidak bisa disederhanakan hanya dengan melihat stok di gudang,” lanjut Defiyan.
Bayang-bayang Impor dan Transparansi Data
Isu lain yang mengemuka adalah kemungkinan bahwa stok beras yang melimpah saat ini merupakan hasil akumulasi impor dalam beberapa tahun terakhir, khususnya periode 2022 hingga 2024.
Jika benar demikian, maka klaim swasembada menjadi bias karena tidak sepenuhnya mencerminkan kemandirian produksi dalam negeri. Publik pun mulai mempertanyakan transparansi data terkait asal-usul cadangan beras nasional.
Hingga kini, belum ada penjelasan rinci yang disampaikan pemerintah terkait komposisi stok: berapa persen berasal dari produksi petani dalam negeri, dan berapa yang merupakan sisa impor.
Padahal, transparansi data menjadi kunci untuk memastikan bahwa kebijakan pangan nasional berjalan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Antara Pencitraan dan Realitas Kebijakan
Pengamat menilai, narasi “gudang penuh = swasembada” berpotensi menjadi alat pencitraan yang menyesatkan jika tidak didukung data yang komprehensif dan terbuka
.
Dalam konteks pemerintahan Prabowo Subianto, isu ketahanan pangan menjadi salah satu agenda strategis nasional. Namun, keberhasilan di sektor ini menuntut lebih dari sekadar klaim—ia membutuhkan konsistensi kebijakan, validitas data, dan kejujuran dalam penyampaian informasi kepada publik
Ujian Kredibilitas Kebijakan Pangan
Perdebatan ini pada akhirnya bermuara pada satu hal: kredibilitas. Apakah pemerintah benar-benar telah mencapai swasembada beras, atau sekadar menunjukkan indikator semu yang belum mencerminkan kondisi riil?
Ekonom menegaskan bahwa ukuran keberhasilan harus berbasis data produksi, produktivitas lahan, kesejahteraan petani, serta stabilitas harga di pasar—bukan semata-mata volume stok di gudang.
Jika tidak, maka kebijakan pangan berisiko kehilangan arah, sementara publik disuguhi narasi yang tidak utuh.
Kini, yang dibutuhkan bukan sekadar “pembuktian visual” gudang penuh beras, tetapi keterbukaan total data pangan nasional. Tanpa itu, klaim swasembada akan terus berada dalam bayang-bayang keraguan. ( Edo)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar