CNEWS, SERDANG BEDAGAI – Di tengah rintik hujan yang membasahi jalan desa, Bupati Serdang Bedagai, Darma Wijaya, memilih cara yang tak biasa untuk membaca denyut nadi ekonomi rakyat: bersepeda menyusuri desa bersama jajaran organisasi perangkat daerah (OPD).
Bukan sekadar olahraga atau agenda simbolik, kegiatan gowes ini justru membuka fakta lapangan yang selama ini kerap luput dari perhatian kebijakan: potensi pertanian kreatif masyarakat yang tumbuh secara mandiri, tanpa banyak sorotan.
Perjalanan tersebut mengantarkan rombongan ke Desa Mangga Dua, sebuah titik yang kini mulai mencuri perhatian karena keberhasilan warganya membudidayakan tanaman bernilai ekonomi tinggi seperti anggur dan melon—komoditas yang selama ini tidak identik dengan wilayah pesisir Sumatera Utara.
Dari Lahan Sederhana ke Peluang Besar
Di desa tersebut, Bupati menyaksikan langsung bagaimana warga dengan keterbatasan lahan dan sumber daya mampu menghadirkan inovasi pertanian yang tidak hanya produktif, tetapi juga berorientasi pasar.
“Ini bukan sekadar bertani. Ini adalah keberanian masyarakat melihat peluang dan mengubahnya menjadi nilai ekonomi,” ujar Darma Wijaya di sela kunjungan.
Fenomena ini menjadi bukti bahwa transformasi sektor pertanian tidak selalu harus dimulai dari program besar pemerintah, melainkan bisa tumbuh dari inisiatif akar rumput yang didukung dengan kebijakan tepat.
Potensi Wisata Desa: Dari Produksi ke Atraksi
Yang menarik, budidaya anggur dan melon tersebut dinilai tidak berhenti pada aspek produksi semata. Pemerintah daerah mulai melihat peluang lanjutan: menjadikannya sebagai destinasi wisata berbasis pertanian (agrowisata).
Konsep ini dinilai mampu menciptakan efek berganda—tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga membuka lapangan kerja baru, menggerakkan UMKM lokal, hingga memperkuat identitas desa sebagai pusat ekonomi kreatif.
“Ke depan, ini bisa kita dorong menjadi wisata desa. Bukan hanya panen yang dijual, tapi pengalaman bertani juga menjadi daya tarik,” tegasnya.
Kritik Tersirat: Potensi Ada, Dukungan Harus Nyata
Meski optimisme menguat, realitas di lapangan juga menyimpan catatan penting. Inisiatif warga seperti di Desa Mangga Dua sering kali berkembang tanpa dukungan infrastruktur memadai, akses permodalan terbatas, serta minim pendampingan teknis berkelanjutan.
Pengamat menilai, kehadiran langsung kepala daerah seperti ini harus diikuti dengan langkah konkret: penyediaan akses pasar, bantuan teknologi pertanian, hingga penguatan kelembagaan petani.
Tanpa itu, potensi yang sudah tumbuh dikhawatirkan stagnan atau bahkan mati perlahan
.
Harapan dari Setiap Kayuhan
Bagi Darma Wijaya, perjalanan bersepeda ini menjadi refleksi langsung bahwa masa depan pertanian Serdang Bedagai tidak hanya bergantung pada komoditas konvensional, tetapi juga pada keberanian inovasi masyarakat.
“Sejauh kaki mengayuh, sejauh itu pula harapan kita tumbuh. Pertanian Sergai harus maju, mandiri, dan menyejahterakan,” ungkapnya.
Ia menegaskan, pemerintah daerah akan terus hadir membuka akses dan memberikan dukungan agar hasil pertanian masyarakat semakin berkembang dan memiliki daya saing lebih luas.
Menuju Sergai Mandiri
Dalam konteks yang lebih luas, langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi daerah berbasis potensi lokal. Jika dikelola serius, model pertanian kreatif seperti ini bisa menjadi contoh nasional dalam pengembangan desa berbasis inovasi.
Kini, publik menunggu konsistensi: apakah temuan di lapangan ini akan benar-benar ditindaklanjuti menjadi kebijakan nyata, atau sekadar menjadi catatan dalam perjalanan gowes semata.
Yang jelas, dari Desa Mangga Dua, sebuah pesan kuat muncul—bahwa masa depan pertanian Indonesia bisa lahir dari desa, dari tangan-tangan kreatif masyarakat yang berani mencoba.( MZ. Bambang)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar