CNEWS, Jakarta — Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali mencapai titik kritis. Israel dilaporkan melancarkan sedikitnya 100 serangan udara dalam satu hari ke berbagai titik yang disebut sebagai markas dan infrastruktur Hezbollah di wilayah Lebanon. Serangan masif ini memicu korban besar di kubu Hizbullah dan meningkatkan risiko konflik regional yang lebih luas.
Laporan awal menyebutkan antara 200 hingga 400 anggota Hizbullah tewas, sementara lebih dari 1.000 lainnya mengalami luka-luka. Serangan tidak hanya menyasar fasilitas militer, tetapi juga sejumlah kawasan padat di Beirut selatan (Dahiyeh) dan kota-kota strategis lain yang selama ini dikenal sebagai basis kuat Hizbullah.
Tokoh-Tokoh Penting Hizbullah Tewas
Sejumlah figur kunci Hizbullah dilaporkan termasuk dalam korban tewas, di antaranya:
Fadel Abbas Najm, ajudan dekat pemimpin Hizbullah Naim Qassem, tewas di kawasan Tallet Khayat, Beirut.
Haji Issam Najib Shoeb (Abu Najib), komandan lapangan dari wilayah Charqiyeh.
Hajj Yahya Hadraj, anggota veteran sekaligus tokoh religius dalam tradisi Syiah.
Sheikh Sadeq al-Nabulsi, akademisi dan figur propaganda Hizbullah di lingkungan kampus dan media.
Sheikh Muhammad Sbeity, ulama berpengaruh dengan retorika perang yang kuat.
Souzan Al-Khalil, tokoh media dan presenter utama televisi Al-Manar milik Hizbullah.
Kehilangan sejumlah tokoh ini dinilai sebagai pukulan serius terhadap struktur komando, jaringan propaganda, serta moral internal Hizbullah.
Pemimpin Hizbullah Menghilang, Israel Bersumpah Memburu
Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, dilaporkan menghilang dan belum diketahui keberadaannya. Pihak Israel menegaskan operasi militer akan terus berlanjut hingga pimpinan tertinggi Hizbullah berhasil dilumpuhkan.
“Operasi ini belum selesai. Target utama tetap kepemimpinan dan kemampuan tempur Hizbullah,” demikian pernyataan sumber militer Israel.
Iran Bereaksi Keras, Selat Hormuz Kembali Ditutup
Serangan ini langsung memicu reaksi keras dari Iran. Teheran mengecam tindakan Israel sebagai pelanggaran serius terhadap upaya gencatan senjata yang sedang dirintis, serta ancaman terhadap stabilitas kawasan.
Dalam langkah yang meningkatkan tensi global, Iran dilaporkan kembali menutup Selat Hormuz — jalur vital distribusi energi dunia. Penutupan ini berpotensi mengguncang pasar minyak global dan memperburuk krisis ekonomi internasional.
Iran juga mendesak Amerika Serikat dan China untuk segera menekan Israel agar menghentikan operasi militernya.
Perang Narasi dan Disinformasi Memanas
Di tengah konflik militer, perang informasi juga tak kalah sengit. Sayap propaganda Hizbullah bersama jaringan yang berafiliasi dengan Hamas dan kelompok Basij Iran dituding menyebarkan berbagai konten visual korban sipil dari konflik lama di Gaza dan Suriah untuk membangun opini global.
Langkah ini disebut sebagai upaya membentuk persepsi internasional bahwa serangan Israel menyasar warga sipil secara sistematis, meski klaim tersebut masih memerlukan verifikasi independen.
Gencatan Senjata Terancam Gagal
Situasi ini terjadi di tengah upaya diplomatik yang dimediasi oleh Pakistan di Islamabad. Pertemuan tersebut melibatkan perwakilan tinggi Amerika Serikat, termasuk Wakil Presiden JD Vance, dengan pejabat tinggi Iran.
Pengamat internasional Solon Sihombing menilai eskalasi ini berpotensi menggagalkan proposal gencatan senjata sementara selama dua minggu yang tengah dibahas.
“Dunia membutuhkan de-eskalasi, bukan perluasan konflik. Jika ini terus berlanjut, bukan hanya Timur Tengah, tetapi stabilitas global akan terdampak,” ujarnya.
Dunia di Ambang Krisis Lebih Besar
Konflik antara Israel dan Hizbullah yang didukung Iran kini berada di ambang perluasan menjadi perang regional terbuka. Dengan keterlibatan aktor global dan ancaman terhadap jalur energi dunia, situasi ini menjadi salah satu krisis geopolitik paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir.
Desakan terhadap gencatan senjata permanen semakin menguat dari berbagai negara. Namun, di tengah serangan yang terus berlangsung dan retorika keras antar pihak, jalan menuju perdamaian tampak semakin terjal dan penuh ketidakpastian. ( Red/RI)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar