Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan Paskah

Iklan Paskah

DARURAT LINGKUNGAN DI PAPUA: LSM WGAB Desak Polisi Tutup Tambang Emas Ilegal di Danau Sentani — Warga Jadi Korban Banjir dan Kerusakan Ekosistem

Selasa, 14 April 2026 | Selasa, April 14, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-14T04:48:43Z



CNEWS,JAYAPURA — Aktivitas tambang emas ilegal di kawasan pinggiran Danau Sentani kian memicu bencana ekologis serius. LSM WGAB Papua mendesak aparat penegak hukum, khususnya Polres Jayapura, untuk segera bertindak tegas menghentikan praktik perusakan lingkungan yang disebut-sebut telah memperparah banjir dan merendam permukiman warga.


Desakan ini disampaikan langsung oleh Ketua LSM WGAB Papua, Yerry Basri Mak, dalam keterangannya kepada media CNEWS, April 2026.


Banjir dan Danau Meluap: Warga Jadi Korban


Menurut Yerry, curah hujan tinggi sepanjang April memang menjadi faktor alamiah. Namun, ia menegaskan bahwa bencana banjir dan naiknya permukaan air danau tidak bisa dilepaskan dari aktivitas manusia yang merusak lingkungan secara masif.


“Air Danau Sentani meluap hingga merendam rumah-rumah warga di pinggiran danau. Ini bukan semata faktor hujan, tetapi akibat aktivitas tambang emas ilegal yang merusak hutan dan aliran sungai,” tegasnya.


Sejumlah rumah warga dilaporkan tergenang bahkan tenggelam akibat naiknya permukaan air, memaksa masyarakat menghadapi kerugian material dan ancaman keselamatan.


Tambang Ilegal Gunakan Alat Berat, Hancurkan Ekosistem


LSM WGAB mengungkapkan bahwa aktivitas tambang emas ilegal di kawasan tersebut tidak lagi berskala kecil. Para pelaku disebut menggunakan alat berat jenis excavator untuk mengeruk tanah dan mengubah bentang alam secara drastis.


Dampaknya:


Kerusakan hutan di kawasan tangkapan air

Pendangkalan sungai akibat sedimentasi

Aliran lumpur dan limbah tambang ke Danau Sentani

Menurunnya daya tampung air dan meningkatnya risiko banjir


“Penggunaan alat berat di kawasan sensitif seperti pinggiran danau adalah bentuk kejahatan lingkungan serius. Ini bukan sekadar pelanggaran hukum, tapi ancaman nyata bagi kehidupan masyarakat,” ujar Yerry.


Polisi Didesak Bertindak: Tangkap Pelaku, Tutup Tambang

Dalam pernyataannya, Yerry mendesak Polres Jayapura untuk segera:

Menutup seluruh aktivitas tambang emas ilegal

Menangkap pelaku dan aktor intelektual di balik operasi tersebut

Mengamankan kawasan hutan dan sungai dari eksploitasi lanjutan


“Polisi harus segera turun tangan. Jika tidak, korban akan terus bertambah. Ini bukan lagi persoalan ekonomi ilegal, tapi sudah menjadi bencana kemanusiaan,” tegasnya.


Ancaman Jangka Panjang: Ekologi dan Sosial


Para pemerhati lingkungan mengingatkan, kerusakan di kawasan Danau Sentani berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang:


Hilangnya sumber air bersih

Kerusakan habitat ikan dan keanekaragaman hayati

Ancaman terhadap mata pencaharian masyarakat lokal

Risiko bencana berulang akibat degradasi lingkungan


Jika tidak segera dihentikan, aktivitas ini dapat mempercepat krisis ekologis di wilayah Jayapura.


Negara Tidak Boleh Kalah


Kasus ini kembali menegaskan lemahnya pengawasan terhadap praktik tambang ilegal di daerah. Di tengah kerusakan yang kian meluas, publik menanti ketegasan negara.


Ketika hutan dihancurkan, sungai dikotori, dan danau dijadikan tempat pembuangan limbah—diamnya aparat bukan lagi kelalaian, melainkan pembiaran.


Kini, bola panas ada di tangan penegak hukum.


Apakah negara akan hadir menyelamatkan rakyat dan lingkungan, atau membiarkan Danau Sentani perlahan mati? ( Tim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update