CNEWS, Jakarta – Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, melontarkan pernyataan keras dan penuh percaya diri di tengah eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Dalam pesan Tahun Baru Persia (Nowruz), ia menegaskan bahwa musuh-musuh Iran justru berada di titik rapuh, sementara Teheran mengklaim berada dalam posisi unggul.
Pernyataan tersebut disiarkan melalui televisi nasional Iran, Jumat (20/3), tanpa kehadiran langsung Mojtaba di publik. Sejak ditunjuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas akibat serangan udara Israel, Mojtaba hanya menyampaikan pesan secara tertulis—memicu spekulasi soal stabilitas internal kepemimpinan Iran.
Dalam pidatonya, Mojtaba menuding Washington dan Tel Aviv gagal total dalam upaya melumpuhkan Iran, meski telah melancarkan serangan militer terkoordinasi. Ia bahkan menyebut narasi kemenangan musuh sebagai “kontradiktif dan omong kosong”.
“Rakyat Iran telah memberikan pukulan telak. Musuh kini berbicara tanpa arah dan kehilangan pijakan,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa kematian sejumlah petinggi militer dan elit strategis Iran tidak menggoyahkan kekuatan negara, justru memperkuat solidaritas nasional. Menurutnya, kalkulasi musuh yang berharap Iran runtuh dari dalam adalah kesalahan fatal.
“Mereka mengira kemartiran para pemimpin akan memicu ketakutan. Yang terjadi justru sebaliknya—persatuan nasional menguat dan menggagalkan rencana dominasi,” ujarnya.
Mojtaba juga mengklaim telah muncul “keretakan serius” di kubu AS-Israel, meski tidak merinci bentuk atau bukti konkret dari pernyataan tersebut.
Narasi Kemenangan vs Realitas Lapangan
Pernyataan keras ini muncul di tengah laporan meningkatnya korban sipil di Iran, termasuk ratusan anak tewas dan kerusakan fasilitas pendidikan akibat serangan udara. Situasi ini memperlihatkan kontras tajam antara klaim kemenangan politik dan realitas kemanusiaan di lapangan.
Sementara itu, pengamat internasional menilai absennya Mojtaba dari ruang publik menjadi sinyal penting yang patut dicermati. Dalam konteks konflik terbuka dengan dua kekuatan besar, transparansi kepemimpinan menjadi faktor krusial dalam menjaga legitimasi internal.
Pesan Politik: Konsolidasi di Tengah Tekanan
Pidato ini dinilai bukan sekadar retorika perang, melainkan upaya konsolidasi kekuasaan Mojtaba di tengah tekanan eksternal dan potensi friksi internal pasca kematian Ali Khamenei. Dengan mengangkat narasi persatuan lintas kelompok—agama, budaya, hingga politik—ia mencoba membangun legitimasi sebagai pemimpin baru Iran.
Namun, di tengah klaim “musuh telah dikalahkan”, dinamika konflik global justru menunjukkan eskalasi yang belum mereda, dengan risiko meluas ke kawasan strategis seperti Timur Tengah secara keseluruhan.
Kesimpulan:
Pidato Mojtaba Khamenei menegaskan satu hal: Iran memilih tampil ofensif secara naratif meski berada dalam tekanan militer besar. Pertanyaannya kini, apakah klaim retak di kubu lawan adalah fakta strategis—atau sekadar propaganda untuk menjaga moral dalam negeri? ( Red)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar