CNEWS | Analisis Geopolitik Internasional — Ketegangan antara Iran dan Israel kembali menjadi sorotan dunia. Banyak pihak mengira konflik ini adalah fenomena baru yang dipicu perang Gaza atau dinamika Timur Tengah terbaru. Namun fakta sejarah menunjukkan sebaliknya: konflik yang terlihat hari ini merupakan akumulasi permusuhan geopolitik yang telah berlangsung hampir setengah abad.
Para analis hubungan internasional menyebut ketegangan ini sebagai “konflik strategis paling panjang di Timur Tengah modern.”
Dari Sekutu Strategis Menjadi Musuh Ideologis
Sebelum tahun 1979, hubungan Iran dan Israel justru berada pada fase yang sangat berbeda
.
Pada era pemerintahan Shah Iran, hubungan kedua negara relatif erat. Iran menjadi salah satu negara Muslim yang secara de facto mengakui Israel setelah berdirinya negara tersebut pada 1948. Kerja sama ekonomi, energi, hingga intelijen berlangsung cukup intens.
Namun situasi berubah drastis setelah Revolusi Islam Iran 1979 yang dipimpin oleh Ruhollah Khomeini.
Pemerintahan baru Iran mengusung ideologi revolusioner yang secara terbuka menolak keberadaan Israel dan menempatkannya sebagai musuh utama bersama Amerika Serikat. Sejak saat itu hubungan diplomatik diputus total, dan konflik ideologis pun dimulai.
Perang Proksi di Timur Tengah
Selama lebih dari empat dekade, rivalitas kedua negara tidak terjadi dalam bentuk perang terbuka, melainkan melalui proxy war di berbagai wilayah Timur Tengah.
Iran diketahui memberikan dukungan politik, finansial, dan logistik kepada sejumlah kelompok yang memusuhi Israel, antara lain:
Hezbollah di Lebanon
Hamas di Gaza
Milisi Syiah di Irak
Kelompok Houthi di Yaman
Israel memandang jaringan tersebut sebagai strategi Iran untuk mengepung Israel dari berbagai arah.
Sebaliknya, Israel bersama sekutunya melakukan berbagai operasi intelijen dan sabotase terhadap kepentingan strategis Iran, termasuk operasi siber, serangan terhadap fasilitas militer, dan pembunuhan sejumlah ilmuwan nuklir Iran dalam satu dekade terakhir.
Program Nuklir Iran: Ancaman Eksistensial bagi Israel
Salah satu sumber utama ketegangan adalah program nuklir Iran.
Pada tahun 2002, dunia internasional dikejutkan oleh terungkapnya fasilitas nuklir Iran yang sebelumnya tidak dilaporkan kepada badan pengawas internasional.
Kesepakatan besar kemudian tercapai pada 2015 melalui Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), sebuah perjanjian antara Iran dan negara-negara besar dunia yang bertujuan membatasi program nuklir Iran.
Namun kesepakatan tersebut mengalami pukulan berat ketika pada 2018 Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, menarik Amerika keluar dari perjanjian tersebut secara sepihak.
Langkah tersebut memicu eskalasi baru. Iran secara bertahap meningkatkan kembali kapasitas pengayaan uranium, sementara Israel terus menyuarakan kekhawatiran bahwa Iran pada akhirnya dapat mengembangkan senjata nuklir.
Bagi Israel, kemungkinan Iran memiliki bom nuklir dipandang sebagai ancaman eksistensial, yakni ancaman yang berpotensi mengancam keberlangsungan negara itu sendiri.
Dampak Serangan Hamas 7 Oktober 2023
Ketegangan kembali meningkat tajam setelah serangan yang dilakukan oleh Hamas terhadap wilayah Israel pada 7 Oktober 2023.
Serangan tersebut menewaskan lebih dari 1.200 orang dan memicu perang besar di Gaza. Israel kemudian menuduh Iran sebagai pihak yang berada di balik dukungan terhadap Hamas.
Meskipun sejumlah laporan intelijen Barat menyebut Iran memberikan dukungan terhadap kelompok tersebut, hingga kini belum ada bukti publik yang menunjukkan bahwa Iran secara langsung merencanakan operasi tersebut.
Namun bagi Israel, dukungan Iran terhadap kelompok militan tetap dianggap sebagai bagian dari strategi konfrontasi jangka panjang terhadap negara Yahudi tersebut.
Ketegangan yang Terus Membara
Selama beberapa tahun terakhir, konflik Iran–Israel semakin sering muncul dalam bentuk operasi militer terbatas, serangan siber, serta aksi intelijen rahasia.
Sejumlah pakar geopolitik menilai bahwa konflik ini telah berkembang menjadi perang bayangan (shadow war) yang melibatkan operasi militer tidak langsung di berbagai kawasan Timur Tengah.
Situasi tersebut membuat Timur Tengah berada dalam kondisi yang sangat rapuh, di mana satu insiden besar saja dapat memicu konflik regional yang lebih luas.
Konflik Lama yang Belum Menemukan Titik Akhir
Banyak analis internasional menilai bahwa konflik Iran–Israel bukanlah konflik yang lahir secara tiba-tiba, melainkan hasil akumulasi ketegangan politik, ideologi, dan militer selama puluhan tahun.
Selama persoalan mendasar seperti program nuklir Iran, dukungan terhadap kelompok militan, serta rivalitas geopolitik di Timur Tengah belum menemukan solusi permanen, konflik antara kedua negara diperkirakan akan terus membayangi stabilitas kawasan.
Dengan kata lain, apa yang terlihat di panggung geopolitik hari ini bukanlah awal cerita, melainkan lanjutan dari konflik panjang yang belum menemukan akhir. ( Red)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar