CNEWS | Pelalawan – 29 Maret 2026. Kekecewaan masyarakat di Desa Sungai Ara, Kecamatan Pelalawan, kian mengeras. Setelah hampir tujuh tahun berada di bawah kepemimpinan Kepala Desa Haryono, warga menilai tidak ada perubahan signifikan yang mampu mengangkat kondisi desa—baik dari sisi pembangunan infrastruktur maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Keluhan ini bukan sekadar suara minoritas. Di lapangan, kritik datang dari berbagai elemen warga yang menilai roda pemerintahan desa berjalan stagnan, tanpa arah pembangunan yang jelas.
Infrastruktur Terpuruk: Jalan Rusak, Aktivitas Lumpuh
Salah satu sorotan utama adalah kondisi jalan utama desa yang hingga kini dilaporkan masih rusak berat. Akses yang menjadi urat nadi mobilitas warga itu dinilai tidak pernah mendapatkan penanganan serius.
Freksi (26), salah seorang warga, mengungkapkan kekecewaannya secara terbuka.
“Sudah bertahun-tahun kondisinya seperti ini. Jalan rusak parah, aktivitas masyarakat terganggu, tapi tidak ada langkah nyata yang kami lihat dari pemerintah desa,” ujarnya.
Kondisi ini berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari warga—mulai dari distribusi hasil kebun, akses pendidikan, hingga layanan kesehatan yang menjadi semakin sulit dijangkau.
Potensi Besar, Tapi Tak Tersentuh
Ironisnya, Desa Sungai Ara bukanlah desa tanpa potensi. Secara geografis, wilayah ini berada di bantaran Sungai Kampar yang dikenal memiliki sumber daya alam melimpah.
Potensi perikanan, pertanian, hingga akses jalur air dinilai bisa menjadi kekuatan ekonomi desa jika dikelola dengan baik. Namun hingga kini, warga menilai potensi tersebut belum dioptimalkan.
“Desa ini sebenarnya kaya. Tapi kami tidak melihat ada program yang serius untuk mengembangkan ekonomi masyarakat. Semua seperti berjalan di tempat,” tambah warga lainnya.
Minim Inovasi, Desa Tertinggal dari Wilayah Sekitar
Warga juga membandingkan kondisi Sungai Ara dengan desa lain di wilayah Kecamatan Pelalawan yang dinilai lebih progresif dalam pembangunan.
Minimnya inovasi, lemahnya perencanaan, serta tidak adanya terobosan strategis menjadi faktor utama yang disebut warga sebagai penyebab ketertinggalan desa.
Situasi ini memunculkan persepsi bahwa pemerintahan desa gagal membaca potensi wilayah sekaligus tidak mampu menjawab kebutuhan dasar masyarakat.
Akhir Masa Jabatan, Harapan Baru Muncul
Di tengah kekecewaan yang menumpuk, warga mulai menaruh harapan pada momentum berakhirnya masa jabatan kepala desa.
“Kami berharap pemimpin berikutnya benar-benar bekerja. Bukan hanya janji, tapi ada bukti nyata. Desa ini butuh perubahan,” tegas Freksi.
Harapan tersebut mencerminkan keinginan kuat masyarakat akan kepemimpinan yang:
Responsif terhadap kebutuhan rakyat
Visioner dalam pembangunan
Transparan dalam pengelolaan anggaran desa
Mampu mengangkat potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi
Desakan Evaluasi: Alarm bagi Pemerintahan Desa
Gelombang kritik ini menjadi sinyal serius bagi tata kelola pemerintahan desa. Evaluasi menyeluruh terhadap kinerja pemerintah desa dinilai mendesak, tidak hanya secara administratif, tetapi juga dari sisi akuntabilitas publik.
Jika tidak ditanggapi dengan serius, kondisi stagnasi ini berpotensi memperlebar ketimpangan pembangunan antarwilayah di daerah.
Menunggu Respons Resmi
Hingga laporan ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari Kepala Desa Sungai Ara terkait kritik yang disampaikan masyarakat.
CNEWS membuka ruang hak jawab dan klarifikasi guna menjaga keberimbangan informasi sesuai prinsip jurnalistik.
Rakyat Bicara, Perubahan Ditunggu
Apa yang terjadi di Desa Sungai Ara bukan sekadar keluhan lokal. Ini adalah potret bagaimana harapan masyarakat terhadap pembangunan bisa berubah menjadi kekecewaan ketika kepemimpinan dinilai tidak berjalan efektif.
Kini, bola ada di tangan pemangku kebijakan.
Apakah akan ada perubahan nyata—atau Sungai Ara akan terus tertinggal dalam diam?
(TIM )




.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar