CNEWS, Jakarta — Peta kekuasaan jelang Pilpres 2029 mulai menunjukkan arah yang mencolok: semua partai besar dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM) secara terbuka menyatakan dukungan agar Presiden Prabowo Subianto kembali maju untuk periode kedua.
Namun, satu hal yang menjadi sorotan tajam — nama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka lenyap dari setiap pernyataan dukungan itu.
Fenomena ini bukan sekadar teknis politik, melainkan sinyal keras bahwa posisi Gibran di lingkar inti kekuasaan mulai goyah. Sejumlah pengamat menilai, ini bukan hanya soal kinerja, tetapi juga ambisi elite, kalkulasi partai, dan keseimbangan kekuatan di tubuh koalisi.
Prabowo Didukung, Gibran Tak Disebut: Sinyal Perubahan Arah Kekuasaan
Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (Zulhas) menjadi figur pertama yang menyuarakan dukungan penuh agar Prabowo menjabat dua periode. Namun, alih-alih menyebut Gibran sebagai pendamping, PAN justru mendorong Zulhas sendiri untuk maju sebagai calon wakil presiden.
“Kalau ditanya hari ini, saya dukung Pak Zulhas mendampingi Pak Prabowo di tahun 2029. Itu akan menghidupkan mesin partai,” ujar Wakil Ketua Umum PAN Eddy Soeparno, dikutip dari CNN Indonesia.
Dukungan serupa datang dari PKB. Ketua Umum Muhaimin Iskandar menegaskan bahwa partainya “puas dengan pemerintahan Prabowo” dan siap mendukung untuk dua periode, namun saat ditanya soal calon wakil presiden, nama Gibran tak disebut sama sekali.
Sementara Partai Golkar yang kini dipimpin oleh Bahlil Lahadalia juga menyatakan dukungan bulat untuk Prabowo, namun lagi-lagi tanpa menyebut siapa calon pendampingnya. Sekjen Golkar Sarmuji hanya menyatakan bahwa partainya fokus pada keberhasilan pemerintahan.
Padahal, sebelumnya Presiden ke-7 RI Joko Widodo secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap duet Prabowo–Gibran dua periode.
“Kan sudah saya sampaikan, Prabowo–Gibran dua periode. Sudah, itu saja,” tegas Jokowi di Solo, 30 Januari 2026.
Namun dukungan Jokowi tampak tak lagi sejalan dengan arah manuver partai-partai besar. Politik bergerak lebih cepat dari loyalitas.
Kinerja Gibran Dianggap Belum Menjawab Ekspektasi
Menurut pengamat politik Agung Baskoro dari Trias Politika Strategis, absennya nama Gibran bukan kebetulan, melainkan cerminan penilaian dingin elite politik terhadap kinerjanya.
“Dalam satu setengah tahun menjabat wapres, Gibran belum menunjukkan kinerja luar biasa yang mampu mengukuhkan posisinya sebagai figur nasional,” tegas Agung.
Selain itu, lanjutnya, ambisi para ketua umum partai koalisi untuk naik kelas memperumit posisi Gibran.
“Setiap elite punya kepentingan personal. Jika Prabowo kembali memasangkan Gibran, potensi gesekan di internal koalisi akan meningkat tajam,” kata Agung.
Efek Prabowo Terlalu Dominan
Sementara pengamat politik dari Universitas Padjadjaran, Kunto Adi Wibowo, menilai langkah partai-partai yang lebih dulu mendeklarasikan dukungan ke Prabowo semata-mata untuk mendapatkan efek ekor jas (coattail effect) dari popularitas sang presiden.
“Mereka berebut momentum. Siapa yang lebih cepat ‘menempel’ ke Prabowo, berharap mendapat limpahan elektoral yang lebih besar,” jelas Kunto.
Kunto menegaskan, Prabowo kini menjadi poros tunggal kekuatan politik nasional — dengan modal sosial, budaya, militer, dan ekonomi yang sulit disaingi.
“Partai-partai akan berpikir dua kali untuk menantangnya. Tapi ini juga berarti ruang manuver Gibran semakin sempit,” tambahnya
Gibran Terjebak di Persimpangan Kekuasaan
Tanpa basis partai kuat, Gibran kini berada di persimpangan. PSI, partai yang dipimpin adiknya Kaesang Pangarep, dinilai belum punya bobot politik yang cukup.
“PSI bahkan belum memiliki kursi di DPR, itu membuat posisi Gibran sangat lemah jika ingin maju sendiri,” kata Kunto.
Skenario paling realistis, menurut pengamat, adalah Gibran tidak lagi menjadi pasangan Prabowo, melainkan sekadar ‘kawan politik potensial’ dengan kompensasi posisi strategis di pemerintahan atau partai.
Namun, di tengah soliditas koalisi yang mulai terfragmentasi oleh ambisi elit, posisi Gibran semakin sulit dipertahankan tanpa basis politik sendiri.
Koalisi Kuat di Permukaan, Tapi Rapuh di Dalam
Meski tampak solid, Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus sesungguhnya menyimpan bara persaingan internal. Di bawah permukaan, tiap partai tengah bersiap mengamankan posisi menjelang 2029.
“Kalau Gibran tetap didorong Prabowo sebagai cawapres, hal itu berpotensi memicu retaknya kepercayaan antarpartai. Situasi ini bisa mengguncang keseimbangan koalisi,” ungkap Agung.
Kedua pengamat sepakat, tahun 2027 akan menjadi fase kritis, di mana peta kekuatan politik dan posisi Gibran akan benar-benar diuji.
Analisis Nasional: Dari Anak Presiden ke Bayangan Kekuasaan
Gibran yang dulu dielu-elukan sebagai simbol regenerasi politik nasional kini menghadapi realitas keras dunia kekuasaan: politik tak mengenal jasa, hanya relevansi.
Dari posisi wapres termuda dalam sejarah Indonesia, Gibran kini menghadapi risiko menjadi “bayangan kekuasaan” — tokoh yang tetap ada di orbit pemerintahan, namun tanpa pengaruh substantif di pengambilan keputusan politik utama.
Jika tak segera membangun kemandirian politik dan basis dukungan riil, Gibran berpotensi hanya menjadi catatan kaki dalam sejarah kekuasaan pasca-Jokowi.
Kesimpulan Tajam:
Prabowo semakin kokoh di puncak. Partai-partai berbaris menatap 2029.
Tapi di tengah barisan itu, nama Gibran perlahan memudar — ditinggalkan, meski belum benar-benar pergi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar