CNews, BANDA ACEH — Saat sebagian besar kota di Indonesia menyambut pergantian tahun 2025–2026 dengan dentuman kembang api dan pesta semalam suntuk, Banda Aceh memilih jalan sunyi. Kamis (1/1/2026) dini hari, jalan-jalan utama kota memang dipenuhi kendaraan, namun tanpa sorak-sorai, tanpa musik keras, tanpa euforia.
Pantauan media hingga menjelang pukul 00.00 WIB menunjukkan arus lalu lintas di sejumlah ruas jalan meningkat. Warga melintas dengan sepeda motor dan mobil pribadi, sekadar bergerak, bukan berkumpul. Tidak ditemukan titik keramaian atau pusat perayaan tahun baru. Langit Banda Aceh tetap gelap—tanpa letupan cahaya kembang api.
Di tengah suasana itu, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal, didampingi Wakil Wali Kota Afdhal Khalilullah serta unsur Forkopimda, turun langsung memantau kondisi kota. Rombongan menyusuri kawasan Ulee Lheue, wilayah pesisir yang sarat memori bencana, sebelum bergerak ke Simpang Lima, simpul lalu lintas utama kota.
Sekitar pukul 00.15 WIB, rombongan meninggalkan lokasi dalam kondisi keamanan terkendali. Tak ada pelanggaran, tak ada pesta—hanya kota yang tetap terjaga.
“Dari momentum pergantian tahun baru ini, memang di daerah kita tidak ada perayaan. Apalagi wilayah kita baru saja diterpa bencana. Banda Aceh sendiri sudah sangat lama tidak menggelar perayaan tahun baru,” ujar Illiza kepada wartawan.
Illiza menegaskan, Pemerintah Kota Banda Aceh secara tegas melarang perayaan tahun baru dengan hura-hura. Larangan tersebut, menurutnya, bukan semata soal aturan, melainkan sikap empati dan kemanusiaan terhadap saudara-saudara sebangsa yang tengah tertimpa musibah.
“Ini saatnya muhasabah dan introspeksi diri. Kita tidak bisa bergembira sementara di tempat lain ada rakyat yang sedang berjuang menghadapi duka dan kehilangan,” katanya.
Ia mengajak masyarakat Banda Aceh dan seluruh rakyat Indonesia untuk menguatkan doa dan solidaritas, khususnya bagi warga terdampak bencana di Aceh dan wilayah Sumatera lainnya.
“Kita doakan keluarga dan saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah. Semoga Allah memberikan jalan keluar terbaik, mempercepat pemulihan, dan tidak lagi terjadi bencana. Beban yang dirasakan masyarakat Aceh dan Sumatera sangat berat, terutama di Sumatera Barat dan Sumatera Utara,” lanjut Illiza.
Pergantian tahun 2026 di Banda Aceh kembali memperlihatkan wajah lain Indonesia—sebuah kota yang menolak bersorak di tengah duka, memilih diam, berdoa, dan berbagi empati. Di saat banyak daerah berlomba menyalakan cahaya, Banda Aceh justru memadamkan gemerlap demi kemanusiaan.
Banda Aceh tidak merayakan tahun baru.
Namun justru di sanalah, makna pergantian tahun menemukan kedalaman yang sesungguhnya. ( Tim)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar