CNews, JAKARTA — Ratusan massa yang tergabung dalam Solidaritas Rakyat Biasa Indonesia untuk Venezuela menggelar aksi demonstrasi di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta Pusat, Selasa (7/1/2026). Aksi ini secara tegas mengecam kebijakan dan manuver Amerika Serikat yang dinilai terus mencederai kedaulatan Republik Bolivarian Venezuela.
Unjuk rasa yang berlangsung lebih dari dua jam tersebut diikuti berbagai organisasi rakyat dan mahasiswa, di antaranya Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Serikat Tani Nelayan (STN), Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI), Serikat Rakyat Mandiri Indonesia (SRMI), Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER), serta Koalisi Nasional Reforma Agraria (KNARA).
Massa membawa spanduk dan poster bernada anti-imperialisme, sambil meneriakkan tuntutan agar Amerika Serikat menghentikan seluruh bentuk intervensi politik, ekonomi, dan militer terhadap Venezuela. Aparat keamanan terlihat berjaga di sekitar lokasi, sementara aksi berlangsung tertib.
Koordinator aksi, Ferligius Taoet atau Dedi, menegaskan bahwa demonstrasi ini merupakan ekspresi solidaritas rakyat Indonesia terhadap perjuangan rakyat Venezuela dalam mempertahankan kedaulatan nasionalnya dari tekanan kekuatan global.
“Kami hadir sebagai rakyat biasa Indonesia yang menolak agresi, sanksi sepihak, dan campur tangan Amerika Serikat. Kedaulatan suatu bangsa adalah prinsip mutlak yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun,” tegas Dedi dalam orasinya.
Ia juga mendesak pemerintah Indonesia agar konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif sebagaimana diamanatkan konstitusi, bukan sekadar jargon diplomatik.
“Indonesia tidak boleh diam. Sikap pasif terhadap pelanggaran hukum internasional justru melemahkan posisi Indonesia sebagai negara yang lahir dari perjuangan anti-penjajahan,” ujarnya.
Menurut Dedi, berbagai tindakan Amerika Serikat terhadap Venezuela—termasuk tekanan politik, sanksi ekonomi, hingga klaim adanya rencana penculikan Presiden Nicolas Maduro—merupakan pelanggaran serius terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan prinsip non-intervensi dalam hukum internasional.
Ia menilai, di balik tekanan tersebut terdapat kepentingan strategis untuk menguasai sumber daya alam Venezuela, khususnya cadangan minyak yang termasuk terbesar di dunia.
“Ini bukan soal demokrasi atau HAM, ini soal kerakusan. Kami menyebutnya ‘Serakahnomics’: praktik imperialis yang menjadikan invasi dan destabilisasi sebagai alat akumulasi kekayaan,” katanya.
Dedi menegaskan bahwa praktik semacam itu tidak hanya merugikan Venezuela, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi kedaulatan dan kemandirian ekonomi negara-negara berkembang di Global South.
Aksi ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap Solidaritas Rakyat Biasa Indonesia untuk Venezuela yang menyerukan perlawanan global terhadap imperialisme dan menuntut Amerika Serikat menghentikan seluruh bentuk intervensi asing. Massa kemudian membubarkan diri secara tertib. ( Tim.media)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar