CNews, Yogyakarta — Pergerakan harga emas di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali menunjukkan kontradiksi pasar. Pada Sabtu, 17 Januari 2026, harga emas Antam Logam Mulia tercatat turun, sementara produk-produk emas Pegadaian justru mengalami penguatan, menandai dinamika tajam antara harga pabrikan dan pasar ritel.
Data resmi yang dihimpun hingga pukul 09.10–09.15 WIB menunjukkan bahwa emas Antam Logam Mulia 1 gram turun Rp 6.000 dari hari sebelumnya, kini berada di level Rp 2.663.000 per gram. Sebaliknya, emas Antam Pegadaian naik Rp 4.000 ke posisi Rp 2.936.000 per gram.
Perbedaan arah pergerakan ini mengindikasikan adanya perbedaan strategi harga, margin distribusi, serta respons pasar terhadap permintaan emas ritel di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Logam Mulia Melemah, Harga Dasar Turun
Berdasarkan pembaruan resmi laman Logam Mulia, berikut harga emas batangan Antam di Jogja:
0,5 gram: Rp 1.381.500
1 gram: Rp 2.663.000
2 gram: Rp 5.276.000
5 gram: Rp 13.130.000
10 gram: Rp 26.180.000
25 gram: Rp 65.285.000
50 gram: Rp 130.405.000
100 gram: Rp 261.660.000
Harga tersebut merupakan harga dasar pabrik dan belum termasuk PPh 0,25%, sesuai ketentuan perpajakan pembelian emas batangan.
Penurunan harga Logam Mulia dinilai membuka ruang beli strategis bagi investor jangka panjang, terutama bagi pembeli dengan orientasi lindung nilai.
Produk Pegadaian Menguat Serentak
Berbeda dengan Logam Mulia, seluruh produk emas Pegadaian hari ini tercatat mengalami kenaikan, meski dalam rentang terbatas.
Harga Emas Pegadaian – 17 Januari 2026
Antam Pegadaian
1 gram: Rp 2.936.000
UBS Pegadaian
1 gram: Rp 2.749.000
Antam Mulia Retro
1 gram: Rp 2.922.000
Galeri
1 gram: Rp 2.695.000
Kenaikan paling konsisten terjadi pada produk UBS dan Antam Mulia Retro, masing-masing naik Rp 7.000, menandakan permintaan ritel yang masih kuat, khususnya di segmen menengah.
Selisih Harga Lebar, Investor Diminta Cermat
Selisih harga emas 1 gram antara Logam Mulia dan Antam Pegadaian kini mencapai Rp 273.000, angka yang cukup signifikan dan berpotensi memengaruhi keputusan beli masyarakat.
Kondisi ini menegaskan bahwa berat emas bukan satu-satunya faktor penentu investasi, melainkan juga asal produk, likuiditas, biaya tambahan, dan tujuan kepemilikan.
Emas Masih Aman, Tapi Tidak Bisa Asal Beli
Emas tetap menjadi instrumen investasi defensif, namun pembelian tanpa strategi berisiko menurunkan keuntungan. Investor disarankan:
Membeli hanya di gerai resmi
Memastikan sertifikat dan QR Code aktif
Menjaga kemasan tetap utuh
Membandingkan harga lintas produsen
Tidak terpancing fluktuasi harian tanpa analisis
Kesimpulan
Pada 17 Januari 2026, pasar emas Jogja memperlihatkan anomali harga: Logam Mulia melemah, Pegadaian menguat. Situasi ini menuntut investor untuk lebih kritis, selektif, dan strategis, bukan sekadar mengikuti tren.
Emas tetap aman — tetapi keputusan membelinya harus cerdas. (APL/Red)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar