Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan Prabowo

Iklan Prabowo

Natal Nasional 2025 Diadakan Sederhana: 70 Persen Dana Difokuskan untuk Korban Bencana dan Kaum Rentan

Rabu, 10 Desember 2025 | Rabu, Desember 10, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-12-10T05:45:18Z



CNEWSJakarta, Desember 2025 — Perayaan Natal Nasional 2025 yang dijadwalkan pada 5 Januari 2026 dipastikan berlangsung dalam suasana keprihatinan. Indonesia masih dirundung duka akibat bencana banjir dan longsor di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh, serta dampak erupsi Gunung Semeru di Jawa Timur. Ratusan warga meninggal dan hilang, ribuan lainnya kehilangan rumah dan harta benda.


Situasi ini membuat Panitia Nasional Natal menegaskan bahwa perayaan tahun ini digelar secara sederhana, mengikuti arahan Presiden Prabowo Subianto dan selaras dengan makna Natal sebagai perayaan kesederhanaan dan solidaritas.


Kembali ke Esensi Natal


Ketua Panitia Natal Nasional Maruarar Sirait menegaskan bahwa Natal bukan ajang kemewahan, melainkan panggilan untuk menghadirkan kasih melalui tindakan nyata.

“Presiden mengimbau agar Natal Nasional diselenggarakan sederhana, efisien, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat. Panitia hanya menggunakan maksimal 30 persen dari dana yang dihimpun untuk acara puncak,” ujar Maruarar, Selasa (9/12/2025).

 

Perayaan puncak di Istora Senayan akan menghadirkan 3.800 peserta, mayoritas terdiri dari anggota paduan suara, guru sekolah minggu, koster, anak yatim-piatu, serta penyandang disabilitas dari gereja-gereja Kristen dan Katolik. Tidak ada artis nasional yang tampil; seluruh hiburan diisi talenta lokal dan penyanyi daerah.


Dekorasi pun dibuat sederhana, termasuk pohon Natal yang dirangkai dari buah-buahan lokal, simbol kesederhanaan dan keberkahan bumi Indonesia. Seluruh hidangan disiapkan oleh UMKM, bukan hotel atau restoran besar, untuk memastikan dampak ekonomi dirasakan masyarakat kecil.


Dana Murni Gotong Royong, Tanpa APBN dan BUMN


Panitia menegaskan bahwa seluruh biaya berasal dari kontribusi sukarela umat lintas agama—Kristen, Katolik, Muslim, Buddha, dan Konghucu.

“Panitia Natal Nasional tidak menerima APBN dan tidak memakai dana BUMN. Semua murni dari gotong royong,” tegas Maruarar.

 

Total dana yang terkumpul mencapai Rp 58 miliar.


70 Persen Dana untuk Aksi Sosial


Sebanyak 70 persen dana dialokasikan langsung untuk program sosial, terutama bantuan bencana, pendidikan, renovasi rumah ibadah, dan kesehatan.

Bantuan Bencana: Rp 2,8 Miliar

Sejak akhir November, Panitia telah menyalurkan bantuan:


  • Erupsi Semeru: Rp 350 juta
  • Banjir & longsor Medan: Rp 550 juta
  • Tapanuli Tengah–Sibolga: Rp 550 juta
  • Aceh: Rp 550 juta
  • Padang, Sumbar: Rp 800 juta

Total: Rp 2,8 miliar (di luar obat-obatan, pangan, dan bantuan lain).

Panitia juga menyiapkan 35 ambulans untuk Papua, Maluku, NTT, daerah bencana, dan wilayah prioritas lainnya. Setiap daerah menerima tiga ambulans.


Bantuan Pendidikan: Rp 10 Miliar


Dana pendidikan Rp 10 juta diberikan kepada 1.000 siswa dari keluarga berpenghasilan rendah, termasuk anak yatim dan pelajar dari daerah terdampak bencana.

Maruarar menekankan bahwa bantuan diberikan tunai, dengan daftar penerima diverifikasi melalui jaringan gereja, kampus, dan lembaga pendidikan.


Renovasi 100 Gereja


Program renovasi 100 gereja dilaksanakan di seluruh Indonesia, termasuk kontribusi Rp 10 miliar dari James Riady (Lippo Group). Enam provinsi di Papua masing-masing mendapat lima gereja, disusul NTT, Maluku, dan Maluku Utara dengan alokasi sama. Wilayah bencana seperti Sumut, Sumbar, dan Aceh menjadi prioritas agar gereja segera dapat digunakan pada Natal.


Seminar di 9 Kota: Memperkuat Keluarga


Menjelang puncak acara, Panitia menggelar seminar bertema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” di sembilan kota, 10–19 Desember 2025.

Seminar pertama digelar di Bandung dan Manado dengan menghadirkan pembicara seperti Gubernur Jabar Dedi Mulyadi, Uskup Bandung Mgr Anthonius S. Benyamin, dan James Riady.

Tema seminar menekankan kesederhanaan Natal, kekuatan keluarga, dan kehadiran Allah dalam masa krisis.


Solidaritas Lintas Iman


Panitia mengapresiasi dukungan masyarakat, termasuk umat dari agama lain yang ikut menyumbang. Solidaritas lintas iman ini dianggap sebagai wujud konkret persaudaraan kebangsaan.

Sebagaimana pesan Injil Matius 25:40, “Apa yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk-Ku.” ( Red/AM) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update