-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan HUT Kemerdekaan RI

Iklan HUT Kemerdekaan

Hiu Paus Raksasa 9,17 Meter Mati Terdampar di Wakatobi, Diduga Sedang Hamil

Minggu, 20 September 2026 | Minggu, September 20, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-20T15:19:10Z


Gelombang 2 Meter dan Angin Kencang Diduga Seret Satwa Dilindungi ke Rataan Terumbu Karang


CNEWS | WAKATOBI, SULAWESI TENGGARA — Seekor hiu paus (Rhincodon typus) berukuran raksasa dengan panjang mencapai 9,17 meter ditemukan mati setelah terdampar di pesisir Dusun Melai One, Desa Matahora, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.


Satwa laut yang diperkirakan berbobot sekitar 5 ton tersebut pertama kali ditemukan warga pada Sabtu pagi sekitar pukul 06.00 WITA, ketika tubuhnya terjebak di kawasan perairan dangkal.



Warga bersama sejumlah pihak langsung melakukan upaya penyelamatan. Air laut disiramkan ke bagian tubuh hiu paus untuk menjaga kulitnya tetap basah, sementara upaya mendorong satwa tersebut kembali menuju perairan yang lebih dalam juga dilakukan secara gotong royong.


Namun, kondisi alam menjadi kendala serius. Air laut mengalami surut drastis hingga tersisa sekitar 50–60 sentimeter. Kondisi tersebut membuat tubuh hiu paus sulit dievakuasi menuju laut dalam.


Di tengah cuaca panas dan kondisi perairan yang tidak memungkinkan, upaya penyelamatan akhirnya tidak membuahkan hasil. Sekitar tiga jam setelah ditemukan, tepatnya pukul 09.30 WITA, hiu paus tersebut dinyatakan mati.


Diduga Sedang Hamil

Tim dari Balai Taman Nasional Wakatobi (BTNW) kemudian melakukan pemeriksaan terhadap bangkai satwa dengan lebar tubuh sekitar 2,9 meter.


Dari hasil pemeriksaan awal, tim mengindikasikan hiu paus tersebut diduga sedang dalam kondisi hamil. Indikasi ini membuat kematian satwa tersebut menjadi perhatian lebih serius dari sisi konservasi, mengingat hiu paus merupakan satwa yang mendapatkan perlindungan penuh.


Meski demikian, status kehamilan tersebut tetap perlu dipahami sebagai indikasi hasil pemeriksaan lapangan, bukan kesimpulan ilmiah final, sampai terdapat pemeriksaan atau dokumentasi biologis yang lebih lengkap.


Gelombang dan Angin Diduga Menjadi Faktor Pendorong


Berdasarkan analisis oseanografi BMKG Maritim Kendari, kondisi perairan pada saat kejadian dipengaruhi gelombang sekitar 1,25–2 meter dari arah timur hingga tenggara, disertai angin dengan kecepatan sekitar 5–20 knot.


Kondisi tersebut diduga menjadi salah satu faktor yang menyeret tubuh hiu paus hingga masuk dan terjebak di kawasan pesisir yang memiliki rataan terumbu karang.


Dengan ukuran tubuh mencapai lebih dari sembilan meter dan bobot sekitar lima ton, posisi hiu paus yang terjebak di perairan dangkal membuat proses penyelamatan menjadi sangat sulit, terlebih ketika air laut terus mengalami surut.


Bangkai Ditangani untuk Cegah Pencemaran


Setelah satwa tersebut mati, penanganan bangkai tidak berhenti pada proses identifikasi. Tim gabungan melakukan koordinasi untuk menarik bangkai ketika air mulai kembali pasang.


Penanganan melibatkan Satpolairud Polres Wakatobi, Balai Taman Nasional Wakatobi, TNI, serta komunitas penyelam setempat.


Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari dampak pembusukan bangkai terhadap lingkungan pesisir sekaligus memastikan proses penanganan satwa dilindungi dilakukan secara terkoordinasi.


Peristiwa ini kembali menunjukkan bahwa penyelamatan satwa laut berukuran besar yang terdampar bukan perkara sederhana. Faktor pasang surut, gelombang, angin, kondisi terumbu karang, cuaca, serta waktu respons dapat menentukan peluang keselamatan satwa.


Kematian hiu paus sepanjang 9,17 meter di Wakatobi sekaligus menjadi catatan penting bagi upaya konservasi ekosistem laut Indonesia. Apalagi jika indikasi bahwa satwa tersebut sedang hamil dapat dikonfirmasi melalui pemeriksaan lanjutan. ( RAN).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update