-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan HUT Kemerdekaan RI

Iklan HUT Kemerdekaan

HUT RI ke-81, Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, S.H., M.H.: Jangan Lupakan W.R. Soepratman, Sang Pencipta Indonesia Raya

Minggu, 16 Agustus 2026 | Minggu, Agustus 16, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-16T10:41:52Z


CNEWS, SURABAYA — 16 Agustus 2026 — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026 tidak semestinya hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan. Momentum tersebut juga menjadi kesempatan untuk kembali menengok perjalanan sejarah bangsa serta menghormati tokoh-tokoh yang telah mewariskan gagasan, karya, dan semangat kebangsaan kepada generasi Indonesia.


Salah satu nama yang tidak boleh terlepas dari ingatan sejarah tersebut adalah Wage Rudolf Soepratman, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, yang wafat di Surabaya pada 17 Agustus 1938.


Tepat tujuh tahun setelah wafatnya W.R. Soepratman, pada 17 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.


Ironi sejarah tersebut menjadi pesan kuat bahwa W.R. Soepratman tidak pernah menyaksikan Indonesia berdiri sebagai negara merdeka. Ia tidak sempat melihat Merah Putih berkibar sebagai bendera negara dan tidak sempat menyaksikan Indonesia Raya dikumandangkan dalam Republik Indonesia yang berdaulat.


Namun, karya yang dilahirkannya justru bertahan melampaui zamannya dan menjadi salah satu simbol utama identitas bangsa Indonesia.


Indonesia Raya dan Kesadaran Kebangsaan


Indonesia Raya pertama kali diperkenalkan kepada publik dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Momentum tersebut berlangsung ketika gagasan persatuan dan kesadaran kebangsaan semakin menguat di kalangan pemuda Indonesia.


Karya W.R. Soepratman kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah pergerakan nasional.


Indonesia Raya bukan sekadar komposisi musik. Lagu tersebut menjadi salah satu ekspresi kebangsaan yang menyuarakan cita-cita persatuan dan kemerdekaan.


Karena itu, ketika Indonesia Raya dikumandangkan pada setiap upacara kenegaraan maupun momentum nasional, masyarakat tidak semestinya hanya mendengar sebuah lagu wajib.


Di dalamnya terdapat perjalanan sejarah, semangat persatuan, dan penghormatan terhadap generasi yang berjuang sebelum Republik Indonesia berdiri.


Hari-Hari Terakhir W.R. Soepratman

Catatan sejarah mengenai hari-hari terakhir W.R. Soepratman juga menjadi bagian penting dari perjalanan hidup sang pencipta Indonesia Raya.

Pemerintah Kota Surabaya mencatat bahwa pada 7 Agustus 1938, W.R. Soepratman ditangkap aparat kolonial setelah memimpin penyiaran lagu Matahari Terbit. Ia kemudian ditahan di Penjara Kalisosok.


Dalam kondisi kesehatan yang semakin memburuk, W.R. Soepratman akhirnya kembali ke rumah kakaknya di Jalan Mangga No. 21, Surabaya.


Di tempat tersebut, ia menjalani hari-hari terakhir kehidupannya.


Pada 17 Agustus 1938, W.R. Soepratman mengembuskan napas terakhir.


Tujuh tahun kemudian, pada tanggal yang sama, sejarah Indonesia memasuki babak baru.


17 Agustus 1945, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan dan Indonesia memasuki era sebagai negara merdeka.


W.R. Soepratman memang tidak menyaksikan peristiwa tersebut. Namun, karya monumentalnya kemudian menjadi bagian tidak terpisahkan dari identitas Republik Indonesia.


Prof. Sutan Nasomal: Jangan Sampai Bangsa Merdeka Kehilangan Ingatan Sejarah


Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, S.H., M.H., pakar Hukum Internasional sekaligus ekonom, menilai HUT ke-81 Kemerdekaan RI harus menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran sejarah dan nasionalisme generasi penerus.


Menurutnya, kemerdekaan Indonesia tidak boleh dipahami hanya sebagai peristiwa yang berlangsung pada 17 Agustus 1945. Kemerdekaan merupakan hasil perjalanan panjang yang melibatkan gagasan, perjuangan, pengorbanan, serta kontribusi banyak tokoh bangsa.


“Kemerdekaan harus dipahami dengan kesadaran sejarah. Jangan sampai bangsa Indonesia menikmati kemerdekaan, tetapi lupa kepada orang-orang yang sebelum Republik ini berdiri telah menanamkan semangat persatuan dan kebangsaan. W.R. Soepratman adalah salah satu tokoh yang meninggalkan warisan sangat besar melalui Indonesia Raya,” ujar Prof. Sutan Nasomal.


Ia menegaskan, Indonesia Raya memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar lagu yang dinyanyikan dalam upacara.


 “Indonesia Raya adalah simbol kebangsaan. Ketika lagu itu dikumandangkan, sesungguhnya kita sedang mengingat perjalanan bangsa. Karena itu, penciptanya tidak boleh hilang dari ingatan generasi Indonesia,” tegasnya.


Wafat Sebelum Kemerdekaan, Warisannya Hidup Selamanya

Menurut Prof. Sutan Nasomal, perjalanan hidup W.R. Soepratman mengandung pelajaran moral yang kuat bagi generasi muda.


 “Beliau wafat pada 17 Agustus 1938, sedangkan Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Artinya, W.R. Soepratman tidak sempat menikmati kemerdekaan yang ikut diperjuangkannya melalui karya. Tetapi warisannya justru menjadi bagian dari identitas negara yang lahir setelah beliau wafat.”


Ia mengingatkan bahwa bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu mencapai kemajuan, tetapi juga bangsa yang menghormati sejarah dan para pendahulunya.


> “Jangan hanya merayakan tanggal kemerdekaan. Kita harus menghormati nilai perjuangan yang melahirkan kemerdekaan. Kalau sejarah dilupakan, generasi berikutnya akan kehilangan arah tentang dari mana bangsa ini berasal dan untuk apa kemerdekaan diperjuangkan,” katanya.


Jangan Hafal Indonesia Raya, tetapi Lupa Penciptanya


Prof. Sutan Nasomal juga mengingatkan agar generasi muda tidak hanya mengenal Indonesia Raya sebagai lagu yang wajib dinyanyikan saat upacara, tetapi memahami sejarah di balik lahirnya lagu tersebut.


> “Jangan sampai kita hafal lirik Indonesia Raya, berdiri tegak ketika menyanyikannya, tetapi lupa siapa penciptanya. Di balik lagu kebangsaan itu ada seorang W.R. Soepratman yang memberikan karya terbaiknya untuk bangsa,” ujarnya.


Menurutnya, kisah W.R. Soepratman membuktikan bahwa perjuangan seseorang dapat memberikan manfaat bagi bangsa jauh setelah dirinya meninggal dunia.


> “W.R. Soepratman tidak sempat menikmati kemerdekaan. Tetapi hari ini, setiap 17 Agustus, bangsa Indonesia menyanyikan lagu ciptaannya. Ini menunjukkan bahwa sebuah karya perjuangan dapat hidup jauh melampaui usia penciptanya.”


Ia juga meminta agar penghormatan kepada W.R. Soepratman tidak berhenti setiap kali bulan Agustus tiba.


> “Jangan mengenang W.R. Soepratman hanya ketika bulan kemerdekaan. Sejarah harus diajarkan sepanjang waktu. Generasi muda harus mengetahui bahwa kemerdekaan Indonesia memiliki perjalanan panjang dan penuh pengorbanan,” katanya.


Menjaga Indonesia Raya Berarti Menjaga Indonesia


Prof. Sutan Nasomal menilai penghormatan terhadap W.R. Soepratman seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Nilai-nilai kebangsaan yang terkandung dalam semangat Indonesia Raya harus diterjemahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


> “Indonesia Raya berbicara tentang Indonesia. Maka tugas generasi sekarang adalah menjaga Indonesia. Persatuan harus dirawat, hukum harus dihormati, keadilan harus diperjuangkan, dan kepentingan bangsa harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.”


Menurutnya, kemerdekaan juga harus diisi dengan pembangunan yang berkeadilan, penghormatan terhadap hukum, penguatan ekonomi nasional, serta perlindungan terhadap seluruh masyarakat.


Dengan demikian, memperingati HUT ke-81 RI bukan hanya mengulang sejarah, tetapi menjadikan sejarah sebagai pedoman untuk menentukan arah masa depan bangsa.


Dua Peristiwa pada Tanggal yang Sama


Sejarah mencatat dua peristiwa penting yang berlangsung pada tanggal yang sama dengan jarak tujuh tahun:

17 Agustus 1938 — W.R. Soepratman wafat di Surabaya.

17 Agustus 1945 — Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.


Kedua peristiwa tersebut memiliki makna sejarah yang kuat bagi bangsa Indonesia.


W.R. Soepratman tidak sempat melihat Indonesia merdeka. Ia tidak menyaksikan Merah Putih berkibar sebagai bendera negara dan tidak mendengar Indonesia Raya dikumandangkan sebagai lagu kebangsaan dalam Republik Indonesia yang berdaulat.


Namun, namanya tetap hidup dalam setiap lantunan Indonesia Raya.


Setiap kali lagu tersebut dikumandangkan, bangsa Indonesia seharusnya kembali mengingat sosok yang menciptakannya dan konteks sejarah ketika lagu tersebut lahir.


Jangan Lupakan Sang Pencipta


HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada akhirnya bukan sekadar momentum untuk mengenang masa lalu, melainkan kesempatan untuk melakukan refleksi tentang bagaimana generasi sekarang menghargai sejarah perjuangan bangsa.


Ketika Indonesia Raya dikumandangkan pada 17 Agustus 2026, masyarakat Indonesia tidak hanya diajak menyanyikan liriknya.

Ada sosok yang patut dikenang di balik lagu tersebut:

Wage Rudolf Soepratman.


Seorang pencipta lagu kebangsaan yang wafat pada 17 Agustus 1938, tujuh tahun sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Ia pergi sebelum menyaksikan Indonesia berdiri sebagai negara merdeka.

Namun, karya dan semangat kebangsaannya tetap hidup.


Selama Indonesia Raya masih dikumandangkan, selama Merah Putih masih berkibar, dan selama semangat persatuan Indonesia terus dijaga, nama W.R. Soepratman seharusnya tidak pernah hilang dari ingatan bangsa.


NARASUMBER

Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, S.H., M.H. — Pakar Hukum Internasional dan ekonom. Dalam keterangan yang disampaikan, ia juga disebut sebagai Presiden Partai Oposisi Merdeka Jenderal Kompii, Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia (PAMID), Ketua Umum YPLBH Profesor Sutan Nasomal, serta Rektor Universitas STIA-STIH Pronass. ( Red).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update