-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

DARI DESA DENGAN RP70 RIBU KE PANGGUNG AKADEMIK: MUHAMMAD JA’FAR HASIBUAN BEDAH BUKU BIOFAR SS DI UI

Selasa, 11 Agustus 2026 | Selasa, Agustus 11, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-10T20:03:37Z


CNEWS | JAKARTA — Kisah perjuangan dari pelosok Sumatera Utara menuju panggung akademik nasional kembali mencuri perhatian. Muhammad Ja’far Hasibuan, mahasiswa Magister Gizi Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU) dan pengembang inovasi yang dikenal dengan nama Biofar SS, membedah perjalanan hidup dan risetnya melalui buku “Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia” dalam sebuah seminar dan talkshow di Aula G Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI).


Kegiatan yang diselenggarakan Mega Press Nusantara tersebut dilaksanakan secara hibrida pada Sabtu, 25 Juli 2026, dengan peserta luring dan daring. Sebelum acara berlangsung, penyelenggara menyebut kegiatan tersebut akan menghadirkan peserta dari berbagai daerah dan dapat diikuti secara daring. 


Buku tersebut mengangkat perjalanan Ja’far yang, menurut keterangannya, berasal dari Desa Sampuran Simarloting, Sumatera Utara, dan merantau dengan modal awal sekitar Rp70 ribu. Ia menceritakan bagaimana keterbatasan ekonomi mendorongnya bekerja sambil menempuh pendidikan, termasuk berjualan roti untuk membiayai kebutuhan hidup dan kuliah. 


BUKAN SEKADAR KISAH MOTIVASI


Yang membuat buku ini menarik bukan hanya cerita perjuangan personal.


Menurut Ja’far, pengalaman hidup tersebut kemudian dipadukan dengan perjalanan penelitian, pengembangan inovasi Biofar SS, pengalaman lapangan, serta berbagai kerangka teori yang digunakan untuk membaca persoalan kesehatan, ketahanan diri, inovasi dan kontribusi sosial.


Buku dengan ketebalan lebih dari 400 halaman itu disebut menggunakan lebih dari 200 referensi ilmiah lintas disiplin.


Kerangka pembahasannya mencakup antara lain teori modal sosial, kapabilitas manusia, Theory of Planned Behavior, keadilan kesehatan, determinan sosial kesehatan, resiliensi, growth mindset, hingga Consolidated Framework for Implementation Research.


Pendekatan tersebut membuat karya ini diarahkan bukan hanya sebagai autobiografi, tetapi juga sebagai dokumentasi pengalaman yang dikaitkan dengan perspektif akademik.


BIOFAR SS DAN PENGOBATAN GRATIS JADI SOROTAN


Nama Muhammad Ja’far Hasibuan sebelumnya telah muncul dalam sejumlah pemberitaan terkait pengembangan Biofar SS dan kegiatan pengobatan gratis.


Sejumlah laporan media menyebut Biofar SS sebagai inovasi herbal yang dikembangkan Ja’far dan digunakan dalam kegiatan pelayanan kepada masyarakat. Namun, klaim mengenai efektivitas medis, jangkauan internasional, maupun jumlah penerima manfaat tetap perlu dibedakan antara klaim/pengakuan yang disampaikan pihak terkait dengan hasil pembuktian ilmiah atau verifikasi independen. 


Prinsip tersebut penting, terutama karena karya Ja’far berada di persimpangan antara kesehatan masyarakat, penelitian, pengobatan tradisional dan inovasi herbal.


DUKUNGAN PENDIDIKAN DARI KAPOLRI


Ja’far juga mengungkapkan rasa terima kasih atas dukungan pendidikan yang menurut keterangannya diberikan melalui Beasiswa Kapolri.


Ia menyebut dukungan tersebut sebagai amanah untuk terus meningkatkan kompetensi dan mengembangkan penelitian agar dapat memberikan manfaat kepada masyarakat.


Pemberitaan sebelumnya juga mencatat bahwa Ja’far menerima dukungan berupa peralatan penelitian dari Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. 


Bagi Ja’far, dukungan tersebut bukan sekadar bantuan personal.


Ia melihatnya sebagai kepercayaan yang harus dibalas dengan prestasi akademik, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.


PANGGUNG AKADEMIK MEMPERTEMUKAN PENGALAMAN DAN TEORI


Dalam forum bedah buku, pengalaman hidup Ja’far ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas.


Kisah kehilangan orang tua, keterbatasan ekonomi, perjuangan pendidikan, bekerja untuk bertahan hidup, hingga mengembangkan inovasi dibaca melalui konsep resiliensi, psikologi perkembangan, modal sosial, determinan sosial kesehatan dan aktualisasi diri.


Dengan pendekatan tersebut, pesan utama buku bukan sekadar “sukses meski miskin”, tetapi bagaimana keterbatasan dapat menjadi pengalaman yang kemudian dianalisis, dipelajari dan diubah menjadi kapasitas untuk berkarya.


DARI ANAK DESA, MENUJU RUANG DISKUSI INTERNASIONAL


Label “mendunia” dalam judul buku tidak semestinya hanya dimaknai sebagai slogan.


Ja’far memang telah diberitakan terkait kompetisi dan kegiatan inovasi di luar negeri, termasuk penghargaan dalam ajang inovasi di China.


Namun, tantangan berikutnya justru lebih besar: bagaimana inovasi tersebut dapat terus diuji, didokumentasikan, dipublikasikan, dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah.


Di sinilah perjalanan akademiknya memasuki fase yang lebih serius.


Pengakuan publik penting, tetapi dalam dunia ilmu pengetahuan, validitas metodologi, kualitas data, publikasi ilmiah, reproduktibilitas penelitian dan pengujian independen merupakan ukuran yang jauh lebih menentukan.


PESAN BESAR: KETERBATASAN BUKAN AKHIR PERJALANAN


Buku “Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia” pada akhirnya membawa pesan yang lebih luas daripada kisah pribadi seorang mahasiswa.


Ia berbicara tentang akses pendidikan, mobilitas sosial, ketekunan, penelitian, inovasi dan keberanian anak muda dari daerah untuk masuk ke ruang akademik yang lebih luas.


Dari desa dengan modal terbatas, Ja’far berusaha membangun jalur menuju pendidikan tinggi dan penelitian.


Bukan kemiskinan yang menentukan masa depan seseorang, tetapi bagaimana kesempatan, pendidikan, ketekunan dan integritas digunakan untuk mengubah keterbatasan menjadi kemampuan. ( Egha).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update