-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan Paskah

Iklan Paskah

Prabowo-Gibran dan Politik Bertahan Kekuasaan: Strategi Jitu atau Gejala Krisis Demokrasi?

Kamis, 18 Juni 2026 | Kamis, Juni 18, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-18T14:12:37Z


Membedah Kalkulasi Politik di Balik Paket RI-1 dan RI-2 serta Tantangan Gerakan Perubahan Nasional


CNEWS, BOGOR – Konstelasi politik Indonesia pasca-Pilpres 2024 masih menyisakan perdebatan panjang mengenai konstruksi kekuasaan yang kini memimpin republik. Salah satu aspek yang terus menjadi bahan kajian para pengamat adalah keputusan Presiden Prabowo Subianto menggandeng Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden.


Bagi sebagian kalangan, keputusan tersebut bukan sekadar strategi memenangkan pemilu, melainkan bagian dari desain politik jangka panjang untuk menjaga stabilitas kekuasaan hingga akhir masa jabatan. Dalam perspektif ini, pasangan Prabowo-Gibran dipandang sebagai konfigurasi politik yang dirancang untuk meminimalkan potensi guncangan terhadap pemerintahan.


Di tengah meningkatnya kritik terhadap berbagai kebijakan negara, muncul narasi yang berkembang di ruang publik bahwa upaya mengguncang pemerintahan akan berhadapan dengan konsekuensi politik yang lebih besar. Narasi tersebut sederhana namun efektif: apabila Presiden Prabowo lengser, maka Wakil Presiden Gibran secara konstitusional akan menggantikannya.


Bagi sebagian pengamat politik, kondisi ini menciptakan semacam "tameng psikologis politik" yang membuat kelompok oposisi maupun gerakan tekanan publik harus menghitung ulang setiap langkah politiknya.


Oposisi Dinilai Kehabisan Konsep


Di sisi lain, kritik tajam juga diarahkan kepada kelompok-kelompok yang mengatasnamakan gerakan perubahan. Menurut sejumlah analis, kelemahan terbesar oposisi saat ini bukan terletak pada kurangnya kritik terhadap pemerintah, melainkan minimnya tawaran alternatif yang konkret.


Gerakan perubahan dinilai sering terjebak pada agenda menjatuhkan kekuasaan tanpa memiliki peta jalan yang jelas mengenai apa yang akan dilakukan setelah perubahan terjadi.


Dalam konteks ini, muncul pertanyaan mendasar:


Apakah Indonesia hanya membutuhkan pergantian figur, atau justru membutuhkan perubahan sistem yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan?


Pengamat menilai bahwa setiap gerakan politik yang ingin memperoleh legitimasi rakyat harus mampu menawarkan solusi yang lebih baik dibandingkan pemerintahan yang dikritiknya.


Enam Syarat Gerakan Perubahan yang Kredibel


Dalam berbagai diskursus politik nasional, sedikitnya terdapat enam fondasi yang dianggap wajib dimiliki oleh kelompok yang mengusung agenda perubahan besar.


Pertama, menghadirkan figur alternatif Presiden dan Wakil Presiden yang memiliki kapasitas, integritas, serta legitimasi publik yang kuat.


Kedua, menyiapkan konsep kabinet profesional berbasis kompetensi (zaken kabinet) yang bebas dari transaksi politik dan kepentingan oligarki.


Ketiga, menjalankan agenda pemberantasan korupsi secara ekstrem melalui pemiskinan koruptor, penyitaan aset hasil kejahatan, dan pemberian sanksi sosial yang tegas.


Keempat, mengembalikan implementasi Pasal 33 UUD 1945 secara konsisten guna memastikan pengelolaan sumber daya alam benar-benar berpihak kepada rakyat.


Kelima, melakukan reformasi perpajakan dan tata kelola sumber daya alam agar perusahaan-perusahaan besar memberikan kontribusi yang adil terhadap pembangunan nasional.


Keenam, mengevaluasi dominasi modal asing pada sektor-sektor strategis yang berkaitan dengan kedaulatan ekonomi bangsa.


Pelajaran dari Sejarah Politik Dunia


Sejarah menunjukkan bahwa pergantian rezim tanpa konsep yang matang sering berujung pada kekacauan politik dan ekonomi.


Pemikiran filsuf politik Inggris, Thomas Hobbes, dalam karya monumentalnya Leviathan, menegaskan bahwa runtuhnya otoritas negara tanpa tatanan pengganti yang jelas dapat menyeret masyarakat ke dalam kondisi konflik berkepanjangan dan ketidakpastian.


Fenomena serupa pernah terjadi di berbagai negara ketika gerakan perubahan berhasil menggulingkan pemerintahan, namun gagal menghadirkan sistem pengganti yang lebih baik. Akibatnya, harapan rakyat berubah menjadi krisis baru yang lebih kompleks.


Demokrasi Butuh Kritik, Tetapi Juga Solusi


Pada akhirnya, demokrasi tidak hanya membutuhkan oposisi yang vokal, tetapi juga oposisi yang mampu menawarkan visi kebangsaan yang realistis.


Pemerintahan Prabowo-Gibran akan terus menjadi objek kritik publik selama lima tahun ke depan. Namun kritik yang efektif bukanlah kritik yang hanya bertujuan mengguncang kekuasaan, melainkan kritik yang mampu menghadirkan solusi, alternatif kebijakan, dan desain masa depan bangsa yang lebih baik.


Di tengah tantangan ekonomi global, ketegangan geopolitik internasional, serta tuntutan kesejahteraan rakyat yang semakin tinggi, Indonesia membutuhkan pertarungan gagasan yang sehat, bukan sekadar pertarungan kekuasaan.


Sebab sejarah membuktikan, sebuah bangsa tidak akan maju hanya karena berhasil mengganti pemimpinnya. Bangsa maju ketika mampu menghadirkan sistem yang lebih adil, lebih bersih, dan lebih berpihak kepada kepentingan rakyat. (Red)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update