-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan Paskah

Iklan Paskah

IRGC Pamer Rudal Bertuliskan Pesan Perang, Selat Hormuz Kembali Membara: Iran Tantang Amerika di Tengah Isu Gencatan Senjata

Minggu, 10 Mei 2026 | Minggu, Mei 10, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-09T19:53:14Z


CNEWS INTERNASIONAL | Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Persia kembali memuncak setelah Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) merilis video propaganda yang memperlihatkan rudal-rudal Iran ditempeli pesan simbolik sebelum disebut ditembakkan ke arah kapal perang Amerika Serikat di kawasan strategis Selat Hormuz.


Video yang dirilis Kamis waktu setempat itu langsung memicu perhatian internasional karena menampilkan narasi perang terbuka antara Iran dan Amerika Serikat di tengah situasi yang justru diklaim sedang menuju proses gencatan senjata lanjutan.


Dalam rekaman tersebut, seorang anggota IRGC tampak menempelkan stiker bertuliskan:


“Dan Dia mengirimkan burung-burung berbondong-bondong melawan mereka.”


Kalimat tersebut diyakini merujuk pada ayat religius yang sarat simbol perlawanan dan kehancuran musuh. Sementara stiker lain bertuliskan:


“Untuk mengenang para siswi Minab yang gugur.”


Pesan itu disebut berkaitan dengan tragedi serangan terhadap sekolah putri di Iran pada fase awal konflik yang kini memperuncing sentimen anti-Amerika di dalam negeri Iran.


Meski demikian, hingga kini waktu pasti dan lokasi autentik video tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh media internasional.


Situasi semakin panas setelah Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran mengumumkan bahwa angkatan bersenjata Iran telah menargetkan kapal Angkatan Laut Amerika Serikat di Selat Hormuz sebagai bentuk balasan atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Washington

.

Iran menuding Amerika telah melakukan tindakan provokatif berupa penyerangan terhadap dua kapal tanker minyak Iran serta sebuah kapal lainnya. Selain itu, Teheran juga mengeklaim Amerika meluncurkan serangan udara ke wilayah pesisir Bandar Khamir, Sirik, hingga Pulau Qeshm yang memiliki nilai strategis militer dan energi.

Di sisi lain, militer Amerika Serikat mengakui telah menyerang sejumlah fasilitas militer Iran yang diduga menjadi pusat operasi serangan terhadap pasukan AS di kawasan Timur Tengah. Sasaran serangan disebut meliputi lokasi peluncuran rudal dan drone, pusat komando militer, hingga fasilitas intelijen dan pengawasan.


Ketegangan ini memperlihatkan bahwa konflik Iran-AS tidak lagi sekadar perang diplomasi, melainkan sudah bergerak menuju perang simbolik dan psikologis yang berpotensi memicu eskalasi regional lebih luas.


Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Lebih dari seperlima distribusi minyak global melintasi kawasan tersebut setiap harinya. Sedikit saja eskalasi militer terjadi, maka dampaknya dapat mengguncang harga minyak dunia, stabilitas ekonomi global, hingga memicu kepanikan pasar internasional.


Ironisnya, di tengah meningkatnya ancaman perang terbuka, Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran masih berlaku.


Pernyataan itu memunculkan tanda tanya besar di kalangan pengamat internasional. Sebab di lapangan, kedua negara tetap saling melancarkan operasi militer, propaganda, dan tekanan strategis.


Laporan diplomatik terbaru bahkan menyebut delegasi Amerika Serikat dan Iran kemungkinan akan melanjutkan pembicaraan lanjutan di Pakistan pekan depan. Namun situasi di lapangan menunjukkan jalur diplomasi masih dibayangi ketidakpercayaan mendalam dan ancaman konfrontasi bersenjata sewaktu-waktu.


Para analis menilai video rudal IRGC bukan sekadar propaganda militer biasa. Tayangan tersebut dianggap sebagai pesan psikologis kepada Washington bahwa Iran masih memiliki kemampuan ofensif dan tidak akan mundur menghadapi tekanan Amerika maupun sekutunya di Timur Tengah.


Di sisi lain, langkah Iran mempublikasikan rudal dengan pesan emosional juga diyakini bertujuan membangun solidaritas domestik dan memperkuat dukungan publik terhadap operasi militer mereka.


Kini dunia internasional menunggu apakah konflik ini akan bergerak menuju meja diplomasi atau justru berubah menjadi bentrokan militer besar yang dapat menyeret kawasan Timur Tengah ke fase perang baru yang lebih luas dan berbahaya.( Red)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update