CNEWS | JAKARTA — Di tengah meningkatnya konflik global dan ancaman polarisasi sosial dalam negeri, Bambang Soesatyo (Bamsoet) menyerukan agar perayaan Paskah 2026 tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan, tetapi sebagai momentum strategis untuk memperkuat rekonsiliasi nasional dan menjaga persatuan bangsa.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) sekaligus Ketua ke-15 Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) itu menegaskan, dunia saat ini sedang berada dalam fase krisis kemanusiaan yang serius. Konflik bersenjata yang terjadi di berbagai kawasan tidak hanya menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar, tetapi juga menggerus nilai-nilai kemanusiaan secara global.
“Paskah tahun ini hadir di tengah realitas dunia yang terluka. Ini bukan sekadar perayaan iman, tetapi panggilan moral untuk membangkitkan kembali nilai kemanusiaan dan memperkuat rekonsiliasi,” ujar Bamsoet di Jakarta, Minggu (5/4/2026).
Krisis Global: Luka Kemanusiaan yang Kian Dalam
Bamsoet mengungkapkan, sepanjang 2025 lebih dari 240 ribu jiwa melayang akibat konflik bersenjata di berbagai belahan dunia. Tiga titik utama yang menjadi sorotan adalah konflik di Gaza, Ukraina, dan Sudan.
Di Gaza, jumlah korban jiwa hingga awal 2026 disebut telah melampaui 72 ribu orang, dengan mayoritas merupakan warga sipil. Sementara di Ukraina, eskalasi perang yang terus meningkat menyebabkan ribuan korban jiwa serta puluhan ribu lainnya mengalami luka-luka akibat serangan drone dan misil yang menyasar kawasan permukiman.
Menurutnya, pola perang modern kini telah bergeser. Konflik tidak lagi sekadar pertempuran militer antarnegara, melainkan telah menjelma menjadi krisis kemanusiaan multidimensi yang menghantam sendi-sendi kehidupan global.
“Dunia seolah tidak belajar dari sejarah. Korban sipil terus meningkat, norma kemanusiaan melemah, dan dampaknya merembet ke ekonomi, politik, hingga stabilitas global,” tegasnya.
Dampak Langsung ke Indonesia: Ancaman Nyata Stabilitas Nasional
Bamsoet mengingatkan bahwa gejolak global tidak berhenti di luar negeri. Indonesia turut merasakan dampaknya, mulai dari terganggunya rantai pasok global, tekanan terhadap perekonomian nasional, hingga meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Dalam situasi seperti ini, menurutnya, ketahanan nasional tidak hanya diuji dari aspek ekonomi dan keamanan, tetapi juga dari kemampuan menjaga kohesi sosial di dalam negeri.
“Indonesia tidak boleh lengah. Polarisasi sosial dan politik yang tidak dikelola dengan baik dapat berkembang menjadi konflik terbuka yang merusak persatuan bangsa,” ujarnya.
Paskah sebagai Jalan Rekonsiliasi: Lawan Polarisasi, Bangun Dialog
Bamsoet menekankan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Paskah—pengampunan, pengorbanan, dan kebangkitan—memiliki relevansi kuat dalam konteks kebangsaan saat ini.
Di tengah meningkatnya tensi sosial dan perbedaan politik, bangsa Indonesia dinilai membutuhkan lebih banyak ruang dialog, bukan konfrontasi. Lebih banyak semangat persatuan, bukan perpecahan.
“Rekonsiliasi adalah kunci. Paskah mengajarkan bahwa pengampunan bukan kelemahan, melainkan kekuatan untuk membangun masa depan bersama,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa pengalaman sejarah Indonesia menunjukkan betapa mahalnya harga yang harus dibayar ketika konflik sosial dibiarkan membesar. Oleh karena itu, momentum Paskah harus dimanfaatkan untuk memperkuat kembali komitmen kebangsaan.
Seruan Nasional: Hentikan Politik Polarisasi, Kembalikan Semangat Persatuan
Dalam pernyataannya, Bamsoet secara tegas mengajak seluruh elemen bangsa—pemerintah, elite politik, tokoh agama, hingga masyarakat sipil—untuk bersama-sama menghentikan praktik politik yang memecah belah.
Menurutnya, keberagaman yang dimiliki Indonesia harus menjadi kekuatan, bukan sumber konflik. Dalam situasi global yang tidak menentu, persatuan nasional menjadi benteng utama menjaga kedaulatan dan stabilitas negara.
“Bangsa ini membutuhkan lebih banyak persatuan, bukan perpecahan. Lebih banyak dialog, bukan konflik. Jangan biarkan perbedaan menjadi alasan untuk saling melemahkan,” tegas Bamsoet.
Momentum Moral di Tengah Ketidakpastian Dunia
Paskah 2026, dalam pandangan Bamsoet, bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga momentum refleksi nasional. Saat dunia dilanda konflik dan ketidakpastian, Indonesia dituntut untuk menunjukkan kedewasaan sebagai bangsa yang mampu menjaga harmoni di tengah keberagaman.
Seruan ini menjadi pengingat bahwa di tengah kerasnya dinamika global, kekuatan sejati sebuah bangsa terletak pada kemampuannya menjaga persatuan, menjunjung nilai kemanusiaan, dan membangun rekonsiliasi yang berkelanjutan.
Paskah bukan hanya tentang kebangkitan iman, tetapi juga kebangkitan nurani bangsa. (Red)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar