Pengamat Internasional Peringatkan Ancaman Eskalasi Global dan Risiko Perang Dunia III
CNEWS | Internasional — Ketegangan geopolitik global kembali memasuki fase paling berbahaya dalam satu dekade terakhir. Israel secara resmi menutup seluruh wilayah udaranya bagi penerbangan sipil setelah melancarkan serangan pendahuluan ke Iran, Sabtu (28/2/2026). Langkah drastis ini diiringi penetapan keadaan darurat nasional di seluruh wilayah Israel.
Menteri Transportasi Israel, Miri Regev, dalam pernyataan resminya yang dikutip AFP, mengonfirmasi bahwa penutupan wilayah udara dilakukan atas perintah langsung pemerintah menyusul eskalasi keamanan yang dinilai sangat serius. Sirene peringatan serangan udara dilaporkan berbunyi di Yerusalem dan sejumlah wilayah strategis lainnya.
Sebelumnya, Kementerian Pertahanan Israel secara terbuka mengakui telah meluncurkan serangan pendahuluan terhadap Iran. Menteri Pertahanan Yoav Katz langsung menetapkan status darurat khusus dan segera di seluruh negeri, menandai kesiapan penuh menghadapi kemungkinan balasan militer.
Di sisi lain, wartawan AFP di Teheran melaporkan dua ledakan keras mengguncang ibu kota Iran pada Sabtu pagi. Kepulan asap tebal terlihat membumbung tinggi di wilayah pusat dan timur kota, memicu kepanikan warga dan spekulasi luas mengenai target strategis yang disasar.
Pengamat: Dunia di Ambang Eskalasi Tak Terkendali
Pengamat Hubungan Internasional sekaligus praktisi media, Solon Sihombing, menilai eskalasi militer Israel–Iran berpotensi menjadi pemicu krisis geopolitik global yang jauh lebih besar.
“Semua pihak harus menahan diri dan mengedepankan diplomasi, bukan perang. Jika eskalasi ini dibiarkan, dunia bisa terseret ke konflik berskala global. Risiko Perang Dunia Ketiga bukan lagi wacana teoritis,” tegas Solon.
Ia menekankan bahwa negara-negara besar—China, Rusia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa—memikul tanggung jawab moral dan politik untuk mencegah konflik melebar, terlebih situasi global saat ini sudah dibebani oleh berbagai titik api konflik lainnya.
“Di saat bersamaan, dunia juga menyaksikan perang terbuka antara Pakistan dan Afghanistan di bawah rezim Taliban. Ini bukan konteks yang berdiri sendiri. Ini rangkaian eskalasi,” ujarnya.
Momentum Keagamaan Harus Jadi Rem Darurat Konflik
Solon juga mengingatkan bahwa eskalasi militer ini terjadi di tengah momentum keagamaan penting dunia: bulan suci Ramadan bagi umat Islam dan jelang perayaan Paskah bagi umat Kristiani.
“Ini seharusnya menjadi momen refleksi dan pengendalian diri. Dunia tidak membutuhkan perang baru, tetapi keberanian untuk berdialog,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Teheran terkait bentuk dan waktu respons militer. Namun sejumlah analis menilai penutupan wilayah udara Israel dan status darurat nasional menjadi sinyal kuat bahwa Tel Aviv bersiap menghadapi skenario terburuk.
Situasi berkembang cepat. Dunia menahan napas. ( Red)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar