CNews, SERDANG BEDAGAI — Kecamatan Sipispis, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, menyimpan potensi wisata alam yang luar biasa namun hingga kini terkesan luput dari perhatian serius pemerintah daerah. Salah satunya adalah pemandian air terjun alami di Desa Tinokkah, yang kini menjelma menjadi destinasi favorit warga dari berbagai daerah.
Kecamatan Sipispis sendiri terdiri dari 20 desa, yakni: Baja Dolok, Bartong, Buluh Duri, Damak Urat, Gunung Monako, Gunung Pane, Mariah Nagur, Marjanji, Marubun, Naga Raja, Nagur Pane, Parlambean, Pispis, Rimbun, Sebananti, Sibarau, Silau Padang, Simalas, Sipispis, dan Tinokkah. Mayoritas penduduknya merupakan etnis Simalungun dengan mata pencaharian utama sebagai petani perkebunan sawit dan karet, serta pertanian pisang dan buah duku. Beberapa desa juga dikenal memiliki potensi wisata arung jeram dan air terjun.
Gratis, Alami, dan Ramah Semua Kalangan
Pemandian air terjun Desa Tinokkah yang berada langsung di aliran sungai alami ini tidak memungut karcis masuk. Pengunjung hanya dikenakan biaya parkir sebesar Rp5.000, dengan fasilitas mandi sepuasnya di alam terbuka. Konsep murah meriah ini justru menjadi magnet kuat bagi wisatawan dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat bawah hingga menengah atas.
Keindahan alamnya masih sangat terjaga. Tebing-tebing tinggi, bebatuan besar, pepohonan kokoh di sepanjang sungai, serta keberadaan monyet liar yang kerap muncul di sekitar lokasi, menjadi daya tarik tersendiri yang jarang ditemukan di wisata buatan.
Serbuan Wisatawan dari Medan hingga Tebing Tinggi
Setiap akhir pekan dan hari libur nasional, lokasi ini dipadati pengunjung dari Medan, Tebing Tinggi, Sei Rampah, hingga wilayah sekitar. Banyak keluarga memilih membawa bekal sendiri dari rumah, memasak di lokasi, dan menikmati suasana alam bersama keluarga.
Salah satu pengunjung, Ervin, warga Medan, mengaku sangat puas.
“Kami sangat senang. Bukan hanya hemat biaya, tapi puas karena pemandian air terjun ini masih alami dan cocok untuk keluarga,” ujarnya kepada wartawan.
Dikelola Swadaya, Infrastruktur Minim
Pengawas pemandian air terjun mengungkapkan bahwa hingga saat ini pengelolaan masih dilakukan secara swadaya oleh masyarakat setempat. Lonjakan pengunjung terjadi setiap hari libur dan hari besar keagamaan.
Namun, ia juga menyoroti minimnya perhatian pemerintah.
“Kendala utama hanya akses jalan sekitar 200 meter yang perlu diperbaiki, serta tidak adanya plang penunjuk arah di setiap simpang. Ini penting agar pengunjung tidak tersesat,” tegasnya.
Desakan ke Pemkab Sergai dan Pemdes Tinokkah
Melihat besarnya potensi ekonomi, masyarakat berharap Pemkab Serdang Bedagai, khususnya di bawah kepemimpinan Bupati Darma Wijaya, melalui Dinas Pariwisata, segera turun tangan melakukan pembenahan dan pengembangan.
Tak hanya itu, Pemerintah Desa Tinokkah juga didesak agar mengalokasikan Dana Desa untuk pengembangan kawasan wisata tersebut, baik berupa akses jalan, fasilitas dasar, maupun penataan lingkungan.
Apalagi saat ini Desa Tinokkah dan sekitarnya tengah memasuki musim durian dan duku, yang berpotensi menjadi oleh-oleh khas bagi wisatawan dan sumber pendapatan tambahan bagi warga.
Potensi Besar, Jangan Dibiarkan Mati Perlahan
Jika dikelola secara serius dan berkelanjutan, pemandian air terjun Tinokkah diyakini mampu menjadi ikon wisata alam Sergai yang tidak kalah saing dengan destinasi lain di Sumatera Utara. Tanpa campur tangan pemerintah, potensi ini dikhawatirkan hanya akan menjadi cerita indah tanpa manfaat maksimal bagi kesejahteraan masyarakat.
Pemerintah daerah diuji: membiarkan wisata rakyat berkembang sendiri, atau hadir nyata membangun ekonomi dari akar rumput. ( Tim)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar