Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan Prabowo

Iklan Prabowo

Ketenangan Berganti Kegelisahan — Warga Cipendawa Resah Rencana Pembangunan PLTP di Kaki Gunung Gede Pangrango

Minggu, 11 Januari 2026 | Minggu, Januari 11, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-11T16:15:44Z


CNews, CIANJUR — Suara gemericik air di pagi hari yang biasanya menenangkan warga Desa Cipendawa, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, kini berubah menjadi sumber kegelisahan. Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di kawasan Gunung Gede–Pangrango menimbulkan kekhawatiran mendalam di tengah masyarakat yang selama ini bergantung sepenuhnya pada sumber air pegunungan tersebut.


Air yang mengalir dari sela bebatuan di kaki gunung selama ini menjadi nadi kehidupan: mengairi sawah, menghidupi kebun, dan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Namun, bayang-bayang proyek energi panas bumi membuat warga bertanya: “Sampai kapan air ini akan tetap mengalir?”


Kegelisahan itu mencuat saat rombongan Media Independen Online (MIO) Indonesia menyambangi Desa Cipendawa. Kunjungan tersebut terjadi secara insidental seusai Ketua Umum MIO Indonesia, AYS Prayogie, menghadiri Kongres Daerah (Kongresda) I MIO Indonesia Pengurus Daerah Jakarta Timur. Seusai agenda organisasi, rombongan menyempatkan diri menemui warga dan menyaksikan langsung kondisi pertanian di kawasan tersebut.


Rombongan yang dipimpin AYS Prayogie, didampingi Wakil Ketua Umum Ir. Agung Karang, Ketua MIO Provinsi DKI Jakarta Gito Ricardo, dan Ketua MIO Jakarta Timur S. Erfan Nurali, awalnya hanya ingin meninjau lahan pertanian. Namun, obrolan ringan di pematang sawah justru berubah menjadi perbincangan serius penuh keluh kesah.


Seorang petani paruh baya dengan nada lirih menuturkan, “Dari sinilah kami hidup. Kalau air berubah arah atau berkurang karena pengeboran panas bumi, bagaimana nasib kami nanti?” katanya, menunjuk aliran air kecil yang selama ini menjadi penopang hidup mereka.


Bagi warga Cipendawa, Gunung Gede Pangrango bukan sekadar panorama indah atau kawasan konservasi. Gunung itu adalah penyangga kehidupan — tempat air disimpan, tanah dijaga, dan keseimbangan alam dirawat. Mereka khawatir aktivitas eksplorasi panas bumi akan memicu penurunan debit mata air, kerusakan lahan pertanian, hingga potensi longsor, mengingat wilayah ini dikenal sebagai zona rawan bencana.


Kegelisahan tidak hanya dirasakan para petani. Para ibu rumah tangga pun resah, sebab air bersih yang mengalir ke rumah-rumah menjadi kebutuhan utama sehari-hari.


“Kalau air berkurang, kami mau ambil dari mana?” ungkap seorang warga dengan nada cemas.


Menanggapi keluhan tersebut, AYS Prayogie menegaskan bahwa pembangunan—termasuk proyek energi terbarukan—tidak boleh mengorbankan suara rakyat.


“Energi bersih seharusnya membawa harapan, bukan ketakutan. Jika masyarakat merasa terancam, berarti ada yang harus ditinjau ulang. Pembangunan harus berpihak pada manusia dan kelestarian alam,” tegasnya.


Kini, warga Cipendawa bersama jaringan masyarakat di Cianjur menyatakan penolakan terhadap proyek geotermal di kawasan Gunung Gede–Pangrango. Mereka menuntut pemerintah membuka ruang dialog terbuka dan kajian lingkungan yang transparan sebelum proyek dilanjutkan.


Bagi mereka, perjuangan ini bukan sekadar menolak pembangunan, tetapi mempertahankan kehidupan yang sudah terjalin harmonis dengan alam selama turun-temurun.


Di kaki Gunung Gede Pangrango, air yang terus mengalir menjadi simbol perjuangan—bahwa manusia dan alam seharusnya berjalan dalam satu napas yang sama.


Penulis: Solihin/Bang Edo

Sumber: Humas MIO Indonesia PW Provinsi DKI Jakarta

Reporter: Redaksi Pusat


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update