CNews, ACEH UTARA — Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil, mengungkapkan fakta mengejutkan terkait skala kehancuran akibat banjir bandang yang melanda wilayahnya. Dalam rapat resmi, Ismail menegaskan bahwa Aceh Utara merupakan daerah paling parah terdampak bencana, bahkan lebih besar dari tragedi tsunami, namun nyaris luput dari perhatian nasional.
“Dari 27 kecamatan, 25 kecamatan terdampak langsung. Ini bukan bencana kecil,” tegas Ismail dengan suara bergetar.
Menurutnya, listrik padam total, jaringan telekomunikasi lumpuh, dan sinyal seluler hilang, membuat penderitaan warga Aceh Utara tidak terdokumentasi dan tidak viral di media sosial.
“Telkom mati, sinyal tidak ada, listrik padam. Makanya tidak viral. Bukan karena tidak parah, tapi karena kami terisolasi,” ujarnya.
Ismail membandingkan perhatian publik terhadap daerah lain yang terdampak bencana. Di Bireuen, katanya, sorotan muncul karena jembatan putus, sementara di Aceh Tamiang karena banjir merendam kawasan kota. Sebaliknya, di Aceh Utara, kehancuran terjadi di desa-desa yang sunyi dari kamera.
“Kami dari atas atap rumah hanya bisa melihat rumah hanyut, masjid hanyut, manusia hanyut. Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Saya sampai menangis,” ungkapnya.
Bupati Aceh Utara itu bahkan mengaku meminta bantuan pesawat agar dapat menjangkau langsung wilayah-wilayah terdampak yang terputus total. Namun respons pusat dinilainya minim.
Ismail juga menyampaikan kekecewaannya terhadap rencana kunjungan pejabat pusat yang dinilai tidak menyentuh titik bencana sebenarnya.
“Kalau hanya turun di Malikussaleh, lebih baik saya tidak hadir. Saya mau turun ke daerah yang benar-benar terdampak,” katanya tegas.
Ia menolak membesar-besarkan bencana, namun menegaskan bahwa skala kehancuran Aceh Utara tidak bisa diperkecil.
“Dari hulu sampai hilir, rumah masyarakat hanyut semua. Di hilir, dibuat muara-muara baru. Dari satu kampung bisa muncul lima hingga tujuh muara. Semua hilang,” jelasnya.
Ismail menyimpulkan dengan kritik tajam:
“Sepertinya pusat tutup mata. Karena kami gelap, terisolasi, dan tidak viral.”
Pernyataan ini memperkuat dugaan bahwa ketiadaan infrastruktur komunikasi dan listrik justru menjadi alasan utama minimnya perhatian negara, bukan karena kecilnya dampak bencana.
Aceh Utara hancur — tanpa sorotan, tanpa sinyal, dan nyaris tanpa negara. ( Tim/Red)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar