Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan Prabowo

Iklan Prabowo

AMUK SANG JENDERAL DI PALAGAN SINGOSARI: BASUKI RAHMAT DAN TARUHAN HIDUP DI MALANG 1946

Selasa, 06 Januari 2026 | Selasa, Januari 06, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-05T19:11:33Z


CNews, MALANG, JANUARI 1946 — Udara Malang tak lagi sejuk. Ia berat oleh asap mesiu, bau darah, dan ketakutan yang dipatahkan paksa oleh tekad. Di tengah tekanan Brigade Infanteri ke-49 Inggris yang bersekutu dengan NICA, berdiri seorang perwira muda TKR dengan sikap tanpa kompromi: Basuki Rahmat, Komandan Batalyon II Resimen 18.


Bukan mitos. Bukan legenda karangan. Ini fase brutal Revolusi Fisik.


Di sektor Singosari–Karanglo, pasukan Sekutu mulai merangsek dengan tank Sherman, mortir, dan infanteri terlatih, mencoba membuka jalur kendali menuju Malang dan dataran tinggi sekitarnya. Di hadapan kekuatan militer modern itu, pasukan Republik kalah senjata, kalah logistik, kalah jumlah. Namun satu hal tak dimiliki lawan: legitimasi atas tanah yang mereka injak.


Basuki Rahmat memahami itu dengan dingin.


“Jangan tembak sebelum melihat mata mereka,” perintahnya singkat, tegas, tanpa histeria.


Perintah itu bukan heroisme kosong, melainkan taktik perang jarak dekat untuk menetralisir keunggulan senjata musuh. Ketika dentuman artileri mengguncang Singosari, Basuki tidak berada di pos belakang. Ia memimpin langsung dari garis depan, mengoordinasikan serangan cepat, manuver menyusup, dan taktik pukul–lari di gang sempit serta kawasan perkebunan.


Pertempuran mencapai titik paling kritis saat Sekutu mencoba menguasai Karanglo, simpul strategis menuju Malang. Hujan mortir memukul posisi Republik. Beberapa satuan terdesak. Di momen itu, Basuki Rahmat keluar dari perlindungan, menerobos asap dan puing, mengonsolidasikan pasukan yang nyaris tercerai.


“Ini tanah kita. Mundur berarti menyerah,” teriaknya di bawah tembakan.


Kesaksian lapangan menyebut keberanian itu menghentikan kepanikan. Moral pasukan kembali terkonsolidasi. Pertempuran jarak dekat tak terhindarkan—bayonet, granat tangan, tembakan dari jarak nyaris nol. Dalam kondisi itu, keunggulan teknologi Sekutu menyempit drastis.


Selama berhari-hari, Batalyon II Resimen 18 menahan laju musuh, memaksa Inggris-NICA membayar mahal setiap meter yang mereka rebut. Singosari tidak jatuh dengan mudah. Malang tidak tunduk tanpa perlawanan.


Basuki Rahmat di fase ini bukan sekadar komandan. Ia adalah simpul perlawanan rakyat bersenjata Jawa Timur. Ketegasan, disiplin, dan keberaniannya di medan Revolusi Fisik menjadi fondasi reputasinya kelak—hingga perannya dalam peristiwa politik-militer strategis nasional di tahun-tahun berikutnya.


Namun bagi rakyat Malang pada Januari 1946, Basuki Rahmat bukan tokoh sejarah.


Ia adalah perisai hidup, yang memastikan Merah Putih tetap berkibar di kaki Gunung Arjuno, ketika kekuasaan kolonial mencoba kembali dengan moncong meriam.


Catatan Referensi

Arsip biografi dan riwayat dinas Jenderal Basuki Rahmat — Perpustakaan Nasional RI

Dokumentasi perjuangan TNI di Jawa Timur — Pusat Sejarah TNI

Arsip Revolusi Fisik 1945–1949 — Arsip Nasional Republik Indonesia  ( Tim) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update