![]() |
| OLEH: LAKSAMANA SUKARDI |
Ketika Pelemahan Mata Uang Berubah Menjadi Krisis Kepercayaan Nasional
CNEWS, , JAKARTA — Pelemahan nilai tukar rupiah kini dinilai tidak lagi sekadar persoalan teknis ekonomi global. Di tengah tekanan suku bunga tinggi Amerika Serikat, arus modal keluar, dan ketidakpastian geopolitik dunia, muncul kekhawatiran bahwa Indonesia mulai memasuki fase paling berbahaya dalam sejarah krisis mata uang: krisis psikologis dan hilangnya kepercayaan pasar.
Pandangan tajam itu disampaikan mantan Menteri BUMN Indonesia, Laksamana Sukardi, dalam analisis ekonomi bertajuk “Rupiah, Persepsi, dan Psikologi Krisis” yang menyita perhatian kalangan ekonomi nasional dan internasional.
Menurutnya, pada tahap awal pelemahan rupiah masih dapat dijelaskan secara rasional melalui faktor-faktor fundamental global, seperti kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve AS, tekanan dolar Amerika, menurunnya arus modal ke emerging markets, hingga dinamika harga komoditas dunia.
Namun situasi dinilai berubah ketika pasar mulai bergerak bukan hanya berdasarkan data ekonomi, melainkan berdasarkan persepsi dan rasa percaya terhadap arah masa depan negara.
Krisis Tidak Dimulai dari Angka, Tetapi dari Hilangnya Kepercayaan
Dalam analisisnya, Laksamana Sukardi mengutip teori narrative economics dari peraih Nobel Ekonomi Robert Shiller yang menjelaskan bahwa pasar keuangan modern sangat dipengaruhi psikologi kolektif, cerita publik, dan persepsi sosial.
Ketika masyarakat mulai percaya rupiah akan terus melemah, maka perilaku ekonomi ikut berubah secara masif.
Importir mempercepat pembelian dolar, investor asing mengurangi eksposur, pelaku usaha meningkatkan lindung nilai, sementara kelompok elite ekonomi mulai memindahkan aset ke luar negeri.
Dalam teori self-fulfilling currency crisis yang dikembangkan ekonom Maurice Obstfeld, ekspektasi pasar bahkan dapat menciptakan krisis yang sebelumnya belum sepenuhnya terjadi secara fundamental.
“Ketika masyarakat percaya mata uang akan jatuh, maka perilaku kolektif itulah yang akhirnya benar-benar menjatuhkannya,” tulis Laksamana Sukardi dalam analisanya.
Pernyataan itu mengingatkan publik pada trauma besar Krisis Finansial Asia 1997 dan krisis moneter 1998 yang pernah mengguncang Indonesia hingga menyebabkan keruntuhan ekonomi nasional dan pergolakan politik besar.
Pasar Mulai Membaca Arah Politik Ekonomi Indonesia
Analisis tersebut menyoroti bahwa pasar global saat ini tidak hanya membaca data fiskal dan moneter, tetapi juga membaca arah ideologi ekonomi negara.
Beberapa program besar pemerintah seperti MBG, Koperasi Desa Merah Putih, hingga Danantara disebut mulai dihitung oleh investor dari sisi implikasi fiskal, tata kelola, risiko usaha, dan dampaknya terhadap persepsi sovereign risk Indonesia.
Menurut pengamat pasar global, kekhawatiran terbesar investor bukan sekadar besarnya proyek negara, melainkan potensi melemahnya kepastian hukum, efisiensi fiskal, serta meningkatnya persepsi intervensi negara terhadap mekanisme pasar.
Dalam kondisi seperti itu, tekanan terhadap rupiah dapat berkembang menjadi spiral psikologis yang jauh lebih sulit dihentikan dibanding tekanan ekonomi biasa.
Bahaya Spiral Psikologis Rupiah
Ekonom terkenal Hyman Minsky sejak lama mengingatkan bahwa stabilitas panjang sering melahirkan rasa percaya diri berlebihan yang akhirnya menciptakan risiko sistemik tersembunyi.
Ketika sentimen pasar berubah dari optimisme menjadi ketakutan, maka gejolak dapat terjadi sangat cepat.
Bank sentral memang masih memiliki instrumen intervensi seperti menaikkan suku bunga dan menggunakan cadangan devisa. Namun jika ekspektasi depresiasi telah tertanam kuat, maka intervensi hanya memperlambat penurunan, bukan membalikkan arah.
Pandangan serupa pernah disampaikan ekonom internasional Barry Eichengreen dalam studi mengenai krisis Asia 1997. Ia menyebut banyak krisis di negara berkembang dipercepat oleh hilangnya kredibilitas kebijakan dan kepanikan pasar, bukan semata lemahnya fundamental ekonomi.
Dunia Internasional Mulai Mengamati Stabilitas Indonesia
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Indonesia saat ini berada dalam sorotan investor internasional sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara.
Namun pelemahan rupiah yang berkepanjangan berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat, stabilitas investasi, biaya impor, inflasi domestik, hingga persepsi keamanan investasi jangka panjang.
Pasar internasional kini disebut menunggu langkah konkret pemerintah dalam membangun kembali kepercayaan ekonomi nasional melalui:
efisiensi fiskal,
reformasi birokrasi,
kepastian hukum,
penguatan produktivitas nasional,
stabilitas kebijakan,
dan penegakan hukum yang kredibel.
ANALISIS EKSKLUSIF
Peringatan Laksamana Sukardi bukan sekadar analisis ekonomi biasa, melainkan alarm serius mengenai bahaya krisis persepsi terhadap rupiah.
Dalam ekonomi modern, mata uang bukan hanya angka di layar perdagangan internasional. Nilai mata uang adalah refleksi kepercayaan publik terhadap masa depan negara.
Ketika kepercayaan mulai retak, maka tekanan ekonomi dapat berubah menjadi kepanikan kolektif.
Dan sejarah telah membuktikan, banyak negara runtuh bukan karena kekurangan sumber daya, tetapi karena kehilangan kepercayaan rakyat dan pasar terhadap arah kebijakan negaranya sendiri.
Indonesia kini berada di titik penting: menjaga agar pelemahan rupiah tetap menjadi tantangan ekonomi biasa — dan tidak berubah menjadi krisis psikologis nasional yang jauh lebih berbahaya. ( Tim/Red)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar