-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan HUT Kemerdekaan RI

Iklan HUT Kemerdekaan

LIMA EMAS AICHI-NAGOYA BUKAN AKHIR: INDONESIA HARUS BERANI BONGKAR SISTEM PEMBINAAN OLAHRAGA

Kamis, 08 Oktober 2026 | Kamis, Oktober 08, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-08T11:51:05Z


Catatan RSO: Indonesia Tidak Kekurangan Potensi, tetapi Kurang Berani Mengubah Sistem


CNEWS | JAKARTA — Raih lima medali emas pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026 patut diapresiasi. Namun, keberhasilan melampaui target pemerintah sebanyak empat emas tidak boleh membuat Indonesia berhenti melakukan evaluasi.



Justru sebaliknya. Lima emas harus menjadi momentum untuk mengajukan pertanyaan yang lebih besar: mengapa kekuatan olahraga Indonesia masih terkonsentrasi pada cabang olahraga tertentu, dan mengapa potensi besar dari lebih dari 270 juta penduduk belum mampu dikonversi menjadi kekuatan olahraga yang lebih merata di level dunia?


Catatan tersebut mengemuka dalam refleksi Krisna Bayu, Oly, setelah berbincang dengan Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI/NOC Indonesia), Raja Sapta Oktohari.


Menurut catatan tersebut, Indonesia menempati peringkat ke-16 Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dengan raihan 5 emas, 11 perak, dan 23 perunggu. Lima emas Indonesia berasal dari empat cabang olahraga, yakni bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan.


Secara angka, target memang terlampaui.


Tetapi prestasi olahraga tidak semestinya hanya dibaca melalui tabel perolehan medali.


Target Tercapai, Tetapi Pertanyaan Besar Justru Dimulai


Jika ukuran keberhasilan hanya target empat emas dan Indonesia meraih lima emas, maka evaluasi dapat dianggap selesai.


Namun, jika orientasi Indonesia adalah menjadi kekuatan olahraga dunia, pertanyaannya jauh lebih kompleks.


Mengapa sumber emas masih terkonsentrasi pada cabor yang memang selama ini menjadi kekuatan Indonesia?


Pola tersebut sebenarnya bukan fenomena baru.


Pada Olimpiade Paris 2024, Indonesia meraih dua emas dan satu perunggu. Emas dipersembahkan Veddriq Leonardo dari panjat tebing dan Rizki Juniansyah dari angkat besi, sedangkan Gregoria Mariska Tunjung meraih perunggu dari bulu tangkis.


Sejarah Olimpiade Indonesia juga memperlihatkan dominasi beberapa cabang. Bulu tangkis dan angkat besi menjadi penyumbang medali terbesar, sementara panjat tebing dan panahan mulai menunjukkan potensi penting.


Karena itu, persoalannya bukan semata-mata Indonesia kekurangan cabang olahraga berpotensi.


Persoalannya adalah bagaimana memperbanyak cabang olahraga yang mampu menghasilkan atlet elite secara konsisten.


Dari Veddriq hingga Panahan: Potensi Baru Sebenarnya Ada


Panjat tebing menjadi contoh bahwa sistem olahraga Indonesia masih mampu melahirkan kekuatan baru.


Veddriq Leonardo mencatat sejarah dengan mempersembahkan emas Olimpiade pertama Indonesia dari panjat tebing pada Paris 2024.


Panahan juga mempunyai sejarah panjang. Trio Srikandi—Lilies Handayani, Kusuma Wardhani, dan Nurfitriyana—mempersembahkan medali perak pada Olimpiade Seoul 1988, yang tercatat sebagai medali pertama Indonesia dalam sejarah Olimpiade.


Kini, panahan kembali memberikan kejutan dengan keberhasilan Nurisa Dian Ashrifah meraih emas nomor compound pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026.


Fakta tersebut memberikan pesan penting: potensi cabang olahraga baru bukan sesuatu yang mustahil. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana menemukan, membina, mempertahankan, dan membawa talenta tersebut ke level elite dunia.


Kritik Jangan Dianggap Sebagai Ancaman


Salah satu persoalan yang perlu diubah adalah cara ekosistem olahraga Indonesia memperlakukan kritik.


Kritik terhadap organisasi atau program olahraga tidak seharusnya otomatis dipandang sebagai serangan terhadap institusi.


Dalam sistem olahraga berprestasi tinggi atau high-performance sport system, kritik justru menjadi instrumen evaluasi.


Ketika teknik atlet salah, pelatih memperbaikinya.

Ketika program latihan tidak efektif, program diubah.

Ketika strategi pertandingan gagal, strategi dievaluasi.


Maka, ketika sistem pembinaan tidak menghasilkan prestasi yang diharapkan, sistem tersebut juga harus berani diperiksa.


Kritik bukan berarti membenci. Kritik yang berbasis data merupakan bagian dari proses perbaikan.


Cabor Harus Berani Melakukan Autokritik

Pertanyaan paling mendasar harus diajukan kepada setiap cabang olahraga.


Apakah Indonesia benar-benar kekurangan atlet?

Atau sebenarnya atlet potensial ada, tetapi belum ditemukan?

Apakah proses scouting belum tepat?

Apakah talenta sudah ditemukan tetapi gagal dibina?

Apakah kompetisi terlalu sedikit?

Apakah kualitas pelatih belum memadai?

Apakah anggaran tidak berkelanjutan?


Atau justru organisasi terlalu sibuk dengan persoalan internal sehingga kepentingan atlet menjadi nomor sekian?


Pertanyaan tersebut tidak boleh dijawab dengan asumsi.


Semua harus dibuktikan dengan data.

Talenta Indonesia Jangan Terjebak Ego Cabor


Salah satu gagasan penting dalam pengembangan olahraga modern adalah cross-sport talent.


Seorang anak yang ditemukan memiliki kemampuan luar biasa belum tentu cocok dengan cabang olahraga tempat ia pertama kali ditemukan.


Tes antropometri, kekuatan, kecepatan, koordinasi, fleksibilitas, komposisi tubuh, waktu reaksi hingga aspek psikologis dapat menunjukkan bahwa seorang talenta mungkin lebih cocok ditempatkan pada cabang lain.


Karena itu, seorang atlet seharusnya tidak dipandang semata-mata sebagai “milik” sebuah cabor.


Ia adalah talenta Indonesia.

Jika berdasarkan data seorang atlet memiliki peluang lebih besar meraih prestasi di cabang lain, kepentingan nasional seharusnya lebih besar daripada ego sektoral.


Naturalisasi Boleh Dibahas, Tetapi Jangan Menjadi Jalan Pintas


Isu lain yang perlu ditempatkan secara proporsional adalah naturalisasi atlet.


Naturalisasi dapat menjadi salah satu instrumen yang dipertimbangkan untuk memperkuat prestasi dalam kondisi tertentu, sepanjang sesuai aturan dan memiliki tujuan yang jelas.


Namun, naturalisasi tidak boleh berubah menjadi jalan pintas yang menutupi kegagalan pembinaan atlet nasional.


Naturalisasi seharusnya menjadi instrumen tambahan, bukan pengganti sistem pembinaan.


Jika Indonesia ingin memiliki kekuatan olahraga yang berkelanjutan, investasi terhadap atlet lokal tetap menjadi fondasi utama.


Membina Atlet Kelas Dunia Tidak Bisa Instan

Inilah realitas yang harus diterima.

Membangun atlet dari usia muda membutuhkan waktu bertahun-tahun.


Diperlukan pelatih berkualitas, kompetisi yang berjenjang, sport science, nutrisi, fasilitas, pemulihan, kedokteran olahraga, dukungan psikologis, serta anggaran yang berkelanjutan.


Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) telah memberikan arah kebijakan pembinaan olahraga jangka panjang.


Tantangannya bukan lagi sekadar memiliki dokumen kebijakan.


Tantangannya adalah memastikan kebijakan tersebut benar-benar dijalankan secara konsisten dan terukur.


Indonesia Tidak Kekurangan Potensi


Dengan jumlah penduduk yang besar, wilayah luas, ribuan sekolah dan klub, serta keragaman karakteristik fisik dan sosial, Indonesia memiliki basis talenta yang sangat besar.


Karena itu, pernyataan bahwa Indonesia “tidak memiliki atlet” perlu dikaji kembali.

Bisa jadi atletnya belum ditemukan.

Bisa jadi sudah ditemukan tetapi tidak dibina secara optimal.


Atau lebih buruk lagi, atlet sudah muncul tetapi sistem tidak mampu mempertahankan dan mengembangkan potensinya.


Di sinilah persoalan tata kelola menjadi penting.


Organisasi Olahraga Seharusnya Melayani Atlet


Organisasi olahraga pada hakikatnya merupakan instrumen untuk melayani kepentingan atlet dan prestasi.


Gengsi institusi, perebutan pengaruh, kepentingan politik, jabatan yang tidak berbasis kompetensi, atau kepentingan kelompok tidak boleh mengalahkan kepentingan atlet.


Tanpa menuduhkan persoalan tersebut kepada individu tertentu, risiko tata kelola seperti itu tetap perlu dibicarakan secara terbuka.


Sebab, jika organisasi lebih sibuk mempertahankan kepentingannya sendiri daripada membangun atlet, maka sistem pembinaan pada akhirnya akan kehilangan arah.


Tidak Semua Cabor Harus Diperlakukan Sama


Indonesia juga perlu berani meninggalkan pola pikir bahwa seluruh cabang olahraga harus memperoleh perlakuan yang sama.


Jika tujuan nasional adalah prestasi internasional, maka sumber daya harus ditempatkan secara strategis.


Ada cabor yang sudah kuat dan hanya membutuhkan penguatan.

Ada cabor yang pernah berjaya dan membutuhkan revitalisasi.

Ada cabor yang memiliki potensi tetapi belum mencapai level elite.

Ada pula cabang yang membutuhkan pembangunan dari awal.


Karena itu, pendekatan satu resep untuk seluruh cabor tidak akan efektif.


Indonesia tidak harus menang di semua cabang. Tetapi Indonesia harus tahu cabang mana yang harus dimenangkan.


Empat Cabor Harus Menjadi Laboratorium Keberhasilan


Bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan telah memberikan seluruh emas Indonesia pada Aichi-Nagoya 2026.


Keempat cabang tersebut jangan hanya dipuji.

Pelajari mengapa mereka berhasil.


Apakah karena tradisi pembinaan?

Apakah karena klub?

Apakah karena kompetisi?

Apakah karena kualitas pelatih?

Apakah karena scouting?

Apakah karena dukungan pemerintah?

Apakah karena sponsor?

Apakah karena sport science?

Atau kombinasi seluruh faktor tersebut?


Jika faktor keberhasilan dapat dipetakan secara objektif, sebagian praktik terbaiknya dapat menjadi pembelajaran bagi cabang olahraga lain.


Evaluasi Jangan Berhenti pada "Target Empat, Hasil Lima"

Evaluasi Aichi-Nagoya 2026 harus lebih dalam daripada sekadar menghitung jumlah medali.


Pemerintah, NOC Indonesia dan federasi perlu menjawab sejumlah pertanyaan:


Dari mana atlet berasal?

Bagaimana mereka ditemukan?

Berapa lama mereka dibina?

Berapa biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu atlet elite?

Apa kontribusi sport science?

Bagaimana sistem kompetisinya?

Apa faktor yang membuat atlet berhasil?

Mengapa cabang lain belum mampu menghasilkan prestasi serupa?


Inilah evaluasi yang dapat melahirkan kebijakan baru.

Dari Kritik Menjadi Data, Data Menjadi Keputusan

Paradigma olahraga Indonesia perlu bergeser.

Bukan lagi:


kritik → tersinggung.

Tetapi:

kritik → data → evaluasi → keputusan → perbaikan.


Jika scouting dianggap lemah, tampilkan datanya.


Jika kekurangan atlet menjadi alasan, tunjukkan jumlah talent pool.


Jika anggaran dianggap kurang, jelaskan kebutuhan program high-performance.


Jika kualitas pelatih dipersoalkan, evaluasi kompetensi dan sertifikasinya.


Jika sistem dianggap gagal, tetapkan indikator keberhasilannya.


Inilah bahasa olahraga modern.

Lima Emas Harus Menjadi Titik Awal


Lima emas Aichi-Nagoya 2026 adalah prestasi yang patut diapresiasi.

Atlet harus dihormati.

Pelatih harus dihargai.


Federasi, Chef de Mission dan seluruh kontingen layak mendapatkan apresiasi.


Tetapi keberhasilan satu ajang tidak boleh menghentikan evaluasi jangka panjang.


Justru karena target terlampaui, Indonesia harus berani mengajukan pertanyaan berikutnya:


Bagaimana lima emas menjadi sepuluh?

Bagaimana empat cabor berprestasi menjadi delapan?

Bagaimana Indonesia memperbanyak cabang yang mampu bersaing di Olimpiade?


Jawabannya bukan sekadar membagi anggaran secara merata.


Jawabannya adalah strategi, prioritas, data, sport science, pembinaan berkelanjutan, dan keberanian mengubah sistem yang tidak efektif.


Indonesia Harus Memutuskan Ingin Menjadi Apa

Catatan Krisna Bayu, Oly, pada akhirnya bukan sekadar soal kritik terhadap hasil Asian Games.


Ini adalah pertanyaan strategis mengenai masa depan olahraga Indonesia.

Indonesia tidak kekurangan potensi.


Yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah konsistensi, integrasi antar-pemangku kepentingan, keberanian menentukan prioritas, penggunaan data, kualitas tata kelola, serta kemauan untuk meninggalkan kebiasaan lama.


Dunia olahraga internasional tidak hanya menilai berapa banyak atlet yang dikirim ke sebuah ajang.


Dunia menilai seberapa konsisten sebuah negara menciptakan atlet elite dan mempertahankan prestasinya dari satu generasi ke generasi berikutnya.


Karena itu, lima emas Aichi-Nagoya 2026 jangan dijadikan alasan untuk berpuas diri.

Lima emas adalah hasil. Tetapi pekerjaan besar justru dimulai setelahnya.


Indonesia kini dihadapkan pada satu pilihan:

Apakah hanya ingin mempertahankan medali, atau berani membangun sistem yang mampu menjadikan Indonesia sebagai kekuatan olahraga dunia?


Keputusan tersebut tidak berada di tangan atlet semata. Ia berada di tangan seluruh ekosistem olahraga Indonesia. ( RI)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update