CNEWS | MEDAN – JAKARTA - Sepak bola Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Tumsila, legenda PSMS Medan dan mantan pemain Timnas Indonesia, meninggal dunia pada Kamis (8/10/2026) pagi, setelah berjuang melawan sakit. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, serta pecinta sepak bola, khususnya masyarakat Sumatera Utara.
Tumsila dikenal sebagai salah satu pemain penting dalam sejarah kejayaan PSMS Medan pada era 1960-an hingga 1970-an. Namanya melekat kuat dengan julukan “Si Kepala Emas”, berkat kemampuan sundulannya yang mematikan dan kontribusinya dalam membawa PSMS meraih prestasi di tingkat nasional maupun internasional.
Berdasarkan keterangan Julius Raja, mantan pemain PSMS Medan, perjalanan prestasi Tumsila mulai mencuri perhatian pada 1967. Saat berusia 19 tahun, ia membawa PSMS junior menjuarai Piala Soeratin sebelum mendapatkan kesempatan memperkuat tim senior.
Pada tahun yang sama, Tumsila turut menjadi bagian dari skuad PSMS yang meraih gelar Perserikatan pertama dalam sejarah klub. Prestasi tersebut menjadi salah satu tonggak penting perjalanan Ayam Kinantan dalam persaingan sepak bola nasional.
Dijuluki Si Kepala Emas
Julukan “Si Kepala Emas” bukan sekadar sebutan bagi seorang penyerang yang piawai mencetak gol melalui sundulan. Julukan itu lahir dari ketajaman dan keunggulan Tumsila dalam memanfaatkan bola-bola udara.
Julius Raja mengenang penampilan gemilang Tumsila dalam ajang Aga Khan Gold Cup 1967 di Bangladesh. Dua gol melalui sundulannya ke gawang Muhammadan mengantarkan kemenangan 2-0 bagi tim yang diperkuatnya. Julukan tersebut, menurut Julius, diberikan Mayjen Sarwo Edhie Wibowo saat penyerahan piala.
Bersama PSMS, Tumsila kembali menikmati kejayaan dalam kompetisi Perserikatan PSSI pada 1969 dan 1971. Deretan prestasi itu mengukuhkan namanya sebagai salah satu pemain yang ikut membangun identitas PSMS sebagai kekuatan sepak bola Indonesia.
Gol Bersejarah Melawan Stoke City
Salah satu momen yang terus dikenang adalah ketika Tumsila memperkuat PSSI Harimau menghadapi klub Inggris, Stoke City, pada 20 Juni 1976.
Dalam pertandingan tersebut, sundulan Tumsila menghasilkan gol penyeimbang yang membuat laga berakhir dengan skor 1-1. Julius Raja menyebut Pat Jennings menjadi penjaga gawang Stoke City dalam pertandingan itu.
Momen tersebut menjadi bagian dari catatan perjalanan Tumsila di panggung sepak bola internasional, sekaligus menunjukkan kualitas pemain Indonesia yang pernah berhadapan dengan klub-klub luar negeri pada masanya.
Lahir di Medan, Sumatera Utara, pada 18 Agustus 1948, Tumsila juga dikenal sebagai pengagum legenda sepak bola Brasil, Pelé. Meski disebut pernah memperoleh tawaran bermain di luar negeri, ia memilih tetap mengabdi kepada Indonesia.
Hingga Akhir Hayat, Hatinya Tetap untuk PSMS
Kecintaan Tumsila terhadap PSMS Medan ternyata tidak pernah surut, bahkan ketika kondisi kesehatannya menurun.
Raj Kumar, adik almarhum, mengungkapkan bahwa sang kakak masih mengikuti perkembangan PSMS dan kerap membicarakan klub kebanggaan masyarakat Medan tersebut bersama keluarga.
Menurut Raj, sekitar sebulan sebelum Tumsila meninggal dunia, sejumlah legenda PSMS datang menjenguknya. Pertemuan itu diwarnai obrolan tentang perjalanan klub yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka.
Di tengah suasana pertemuan tersebut, Tumsila menyampaikan pesan agar para mantan pemain tidak hanya berkumpul untuk mengenang masa kejayaan, tetapi juga memberikan dukungan nyata kepada PSMS yang kini berjuang di kompetisi kasta kedua sepak bola Indonesia.
“Jangan cuma di intern legend saja, dukung PSMS yang sekarang ini,” demikian pesan Tumsila sebagaimana dituturkan adiknya.
Raj menceritakan bahwa pembicaraan tentang PSMS terus muncul hingga membuat sejumlah rekan seperjuangan Tumsila terharu.
Pesan itu memperlihatkan bahwa bagi Tumsila, PSMS bukan sekadar klub tempat ia membangun karier. Klub tersebut merupakan bagian dari perjalanan hidup, identitas, dan pengabdian yang tidak pernah ia tinggalkan.
Warisan untuk Generasi Sepak Bola Indonesia
Kepergian Tumsila bukan hanya kehilangan bagi PSMS Medan, melainkan juga bagi sejarah sepak bola nasional. Ia merupakan bagian dari generasi pemain yang membangun reputasi klub melalui perjuangan, disiplin, dan prestasi di lapangan.
Julukan “Si Kepala Emas” akan terus menjadi pengingat atas ketajamannya, sementara pesan terakhirnya tentang PSMS menjadi warisan moral bagi para legenda, pemain, pengurus, dan pendukung Ayam Kinantan.
Di tengah dinamika sepak bola modern yang semakin kompetitif, perjalanan Tumsila mengingatkan bahwa kebesaran sebuah klub tidak hanya ditentukan oleh gelar, tetapi juga oleh kesetiaan orang-orang yang pernah membesarkannya.
Selamat jalan, Tumsila. Jejak prestasimu akan tetap tercatat dalam sejarah PSMS Medan dan sepak bola Indonesia.( Mual Sihombing)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar